Any thoughts?

Ini adalah quote (lama) dari satu jurnal kesehatan yang disampaikan oleh dosen saya di sela-sela kuliah pengantar public health nutrition.

“The new concepts to prevention, having discovered that behaviour affects health, focus on the responsibility of the behaviour of the individual for illness prevention by eating and drinking in moderation, exercising properly, not smoking and the like. Surely, in the final analysis, it is the individual who carries out these actions. But what does it mean to hold the individual responsible for smoking when the government subsidises tobacco farming, permits tax deductions for cigarette advertising and fails to use its taxting power as a disincentive to smoking? What does it mean to castigate the individual for poor eating habits when the public is inundated by advertisements for”empty-calorie” fast foods and is reinforced in present patterns of consumption by federal farm policy?”- [Eisenberg, the perils of prevention, NEJM, 1977]

Menggelitik dan, yap memang begitu adanya kan ya? Kita ndak bisa ‘menyalahkan individu’ atas berbagai perilaku yang ‘tidak sehat’ meskipun berbagai kampanye, pesan, program, dan ajakan untuk mengadopsi perilaku yang sehat itu sudah ‘gencar’.

Any thoughts?

Advertisements

Perburuan Letter of Acceptance

Setelah kembali bertekad untuk lanjut sekolah (dimana sebelumnya sempet galau), saya mencari informasi sebanyak-banyaknya bagaimana persiapannya, mana yang dilakukan lebih dulu. Jujur saat itu saya masih belum fix dengan jurusan yang mau saya ambil. Pertama, jika mau kembali ke rencana awal (yang dibuat waktu masih kuliah S1) saya harus tetap mengambil Public Health Nutrition (PHN), dengan spesialisasi sesuai keinginan saya sekarang, yaitu child malnutrition program implementation in community level. Kalau untuk jurusan ini, pilihan terbaik menurut saya adalah Nutrition for Global Health di London School of Hygene and Tropical Medicine, Clinical and Public Health Nutrition di UCL, atau bisa juga ke beberapa universitas lain di USA dan Aussie. Saya nemu beberapa yang cukup oke. Kedua, ternyata setelah bekerja di NGO ini saya mulai tertarik untuk tetap di sector ini, sehingga sempat berikir untuk ambil Global Health and Development. Kala itu temen bilang kalau mau ambil itu mending ke UCL.

Setelah berpikir cukup lama, bahkan saya sempet tanya dan konsultasi dengan pakar – yang kontaknya saya temukan di forum-forum gitu, saya kirim email dan ternyata dibalas! – beliau menyarankan saya untuk tetap di PHN, tidak perlu ambil Global Health karena itu terlalu luas cakupannya. Saya setuju dengan saran itu, dan bener juga sih kalau ambil PHN, pilihan ke depannya makin luas. Jadilah saya ambil PHN dan rencananya akan focus ke bidang yang saya minati juga.

Selanjutnya adalah beasiswa. Yang muncul di benak saya saat itu adalah LPDP dan Chevening. Kalau LPDP jelas ya alasannya, itu bisa ke negara mana aja asal ada di list tentunya. Dan kenapa Chevening? Kalau ini, alasan yang sebenarnya adalah karena saya ingin ambil di UK jadi bisa selesai lebih cepat, mengingat saya sudah bukan fresh graduate lagi, hehehe. LSHTM saat ini berada di urutan ke-6 atau kalah dari 5 universitas di USA (padahal tahun lalu cuma kalah dari Harvard & Hopkins), tapi di UK masih yang pertama sih :). Ohiya, itu bukan peringkat overall ya, melainkan untuk Public Health & Social Science-nya, menurut sumber ini.

“Aim for the moon. If you miss, you  may hit a star.” – W. Clement Stone

Namun demikian, pertimbangan utama saya sih sebenarnya bukan soalan peringkatnya, tapi lebih ke matkulnya ini yang emang gue banget, hehe. Kesimpulannya, LSHTM fix jadi pilihan pertama saya.

Eits, ternyata setelah saya cermati lagi, itu tidak masuk di list LPDP. Artinya ada dua hal yang bisa saya lakukan: pertama, daftar Chevening atau LPDP tapi harus cari univ lain dulu (nantinya bisa mengajukan pindah). Karena ini judulnya perburuan LoA, disini saya cerita soal itu aja, untuk LPDP saya sudah tulis beberapa waktu lalu.

Untuk mendaftar uni, ada beberapa hal yang perlu kamu siapkan, dan bisa jadi tiap uni beda persyaratannya, so penting banget buat tahu detail dan pretelannya. Saya baru daftar di LSHTM dan UCL, tetapi saya ngga perlu cerita super detail ke persyaratannya ya, ini bisa kalian liat di website uni-nya, sangat lengkap kok disana, bahkan jika masih mau nanya, bisa email ke admission-nya. Saya pingin cerita soal personal statement dan CV-nya aja yes, sedikit soal reference. Hal-hal itu disiapkan dulu sebelum mau daftar online, sama passport jangan lupa (tapi saya yakin temen-temen sudah pada punya ini, cuma saya aja yang udik, baru bikin passport pas mau daftar uni, hehe). Kalau udah punya IELTS dan beasiswa lebih keceh lagi!

Personal Statement

Ada beragam saran untuk menulis PS ini, kalian bisa baca di internet, buanyak sekali website yang mendedikasikan dirinya untuk membantu para pelamar uni maupun scholarship dalam menuliskan dokumen penting ini, ada juga jasa mengoreksi yang berbayar. Saya cuma sempet baca dos and donts nya di website itu, cukup membantu, tetapi ngga coba yang bayar2 hehe. Selain website, boleh juga kita download contoh-contoh yang ada di internet, hanya perlu dipastikan sumbernya, yo. Dan ngga perlu kepatok persis juga. Menurut saya itu cukup membantu dan memberi insight pada cara penulisan maupun alur yang dipakai. Opsi selanjutnya, kalian bisa juga minta proof-reading sama temen atau senior yang kalian percaya.

Dari pengalaman saya, yang paling penting dalam penulisan PS adalah pastikan PS itu mengakomodir semua pertanyaan yang diajukan di form pendaftaran uni nya. Meskipun sebagian besar hampir sama, bisa jadi ada yang beda, tho. Alhamdulillah, di kasus saya ini mirip banget, jadi saya cuma bikin satu, tapi kemudian diedit untuk disesuaikan dengan apa yang menjadi ciri khas uni nya – program  studi sih terutama – karena memang tidak begitu mirip.

Setelah baca panduan pertanyaan, dos and donts, dan beberapa contohnya, saya nulis PS pertama saya yang 2 halaman. Saya kemudian minta tolong ke teman dan senior yang kuliah di UCL dan LSHTM untuk proof-reading. Alhamdulillah, saya dapat beberapa masukan, soal panjang PS, pemilihan pengalaman kerja yang dimuat, dan tentu grammar. Mereka tidak mengubah atau menyarankan secara langsung dengan mengedit isi PS-nya (kecuali beberapa terkait grammar), lebih ke masukan secara garis besarnya gitu.

Kedua proof-readers saya tidak memiliki saran yang 100% match, wajar juga sih, kayak ginian mah ngga ada yang baku sehingga pada akhirnya tetep kita yang harus mengeksekusinya. Akan tetapi, saya tetep melihat apa yang mereka sampaikan sangat membantu karena draft pertama saya memang masih sangat belum ok. Sangat logis deh saran mereka sehingga saya tidak pusing untuk merevisinya.

Setelah itu, saya merombaknya menjadi 1 halaman dan diedit bagaimana bisa selesai dibaca dalam 1 menit tapi bisa membuat kita distinct dari pendaftar lainnya. Why? karena pendaftar itu sangat banyak, terutama untuk uni2 favorit, dan tentu lelah yang nyeleksi, bakal jenuh juga jika PS nya panjang, udah gitu ngga ada yang unik. Ini saran dari senior saya, dan saya sangat sepakat dengan itu. Untuk grammarnya, saya disarankan pake Grammarly oleh temen saya. Sebenarnya kesalahan grammar saya ngga parah-parah amat sih, tapi kadang bisa jadi masih suka typo atau masih pake cheap vocab, wkwkwk. Software ini cukup membantu, tapi tetep kita kudu punya bekal juga. PS final saya sebenarnya juga ngga bagus-bagus amat sih, apalagi kalau saya baca sekarang, vocab-nya masih cetek banget, tapi saya cukup puas sih, setidaknya sama kontennya.

Curriculum Vitae

CV atau kalau di US sering disebut resume’ ini juga ngga kalah pentingnya dari PS, karena PS ngga mungkin bisa mengakomodir semua muatan masa lalu kita (aka CV), and vice versa, ada beberapa aspek di CV yang yang tidak bisa dimuat disitu, karena tidak sesuai, tetapi penting, itu bisa masuk di PS. Intinya, keduanya saling melengkapi, layaknya jodoh, ngga harus sama.

Sama seperti nulis yang lain-lainnya, saya tetep butuh referensi. Lagi-lagi, banyak website yang bisa ngebantu kita, termasuk di blog para senior. Saya memilih menulis CV pake format Europass dalam 2 halaman. Waktu saya minta proofreading PS, saya juga menyertakan CV untuk dibaca dan mungkin perlu diperbaiki. Alhamdulillah untuk CV saya tidak perlu mengeditnya, hanya beberapa penyesuaian penulisan karena waktu saya cek di Grammarly, saya masih campur aduk antara British sama American untuk spelling-nya. Wkwkwk.

Dua lembar bagi saya itu sudah cukup karena saya baru bekerja di 3 tempat setelah lulus, dan achievement saya selama kuliah itu ngga ada yang outstanding, jadi ngga ada yang termuat, hehe. Yes, I was just a very ordinary student. *eh jadi curhat. Oke gakpapa, karena #CVhanyamasalalu #oke.

Terkait panjang CV, ini sebenarnya juga ngga ada bakunya, seperti PS. Saya milih 2 lembar karena buat saya lebih baik simple aja, asal isinya linier dan mendukung jurusan yang mau diambil. Temen saya ada yang pake CV berlembar-lembar tapi dia lolos juga. So, there is no a fix guide for that, you decide 🙂

Rekomendasi

Hmmm, sebenarnya saya ngga pantas cerita banyak soal referensi karena saya meskipun mencantumkan dua referees (sesuai permintaan uni), saya dapat offer sebelum kedua referees saya mengisi form reference yang dikirimkan langsung oleh uni ke email beliau langsung. Dan sampai sekarang saya juga belum meminta beliau untuk menindaklanjuti perihal referensi ini. Ini karena alasan jarak saja (saya tidak begitu dekat dengan dosen, dan merasa kurang pantas jika hanya by phone, sampai sekarang belum kontak lagi), dan waktu itu saya sebenarnya ngga mau urus lagi karena toh saya akan mulai kuliah 2017, dan ini aplikasi buat 2016. Pikirnya, nanti aja apply langsung buat 2017.

Saya tidak menyarankan temen-temen untuk mengabaikan referensi, ini cuma case saya aja, karena menurut saya, referees tetap penting sekali untuk mendukung aplikasi uni kita. It is not good to make a hasty decision like me, being inconsistence and not finishing the process.

Terus kalau emang ngga mau urus sampe selesai, kenapa dulu saya memutuskan untuk apply uni dan defer ke 2017? Itu karena saya waktu itu kurang percaya diri untuk bisa sekolah di LN, apalagi kampus2 top. Dalam rangka meningkatkan rasa PD, saya coba apply yang nothing to lose ini. Dan pada akhirnya dapet, itu cukup berguna banget pas mau daftar beasiswa, bisa nambah PD. May be this is such a cheesy thing! But it works somehow 🙂 Buat temen-temen, mungkin ngga perlu se-lebay kaya ini sih, ini saya nya aja yang ngga PD-an emang, dan perlu melakukan sesuatu untuk mendongkraknya.

Btw, rekomendasi untuk uni mirip-mirip juga sama buat beasiswa, hanya saja kalau di uni yang saya coba apply ini memang mensyaratkan harus ada yang dari dosen, bahkan keduanya dosen pun boleh. Buat yang belum terlambat, baik-baiklah kalian dengan dosen J buat yang sudah terlanjur jauh kaya saya, mungkin bisa lah dijalin lagi silaturahminya.

Proses Pendaftaran Online

Saya mendaftar ke dua uni itu dalam satu waktu, tujuannya biar sekalian, karena kan datanya kurang lebih sama, bisa copas2 aja gitu, hehe. Alasan lainnya, karena saya di kampung banget, yang pas daftar ini pun harus ke kota dulu, cari wifi ke kantor Telkom. Jadi biar save time juga 🙂

Proses pendaftaran sama aja, tinggal buka websitenya, cari link buat daftar, bikin akun, lalu log in dan isi deh datanya. Sama jangan lupa siapkan dokumen yang perlu di-upload (PS, CV, passport, IELTS jika sudah ada, mungkin ijazah yang ditranslate- tergantung uni nya). Sebenarnya, proses pengisian data bisa dilakukan bertahap, mirip daftar LPDP, bisa save dulu sebelum submit. Akan tetapi, saya waktu itu langsung submit, karena prinsip saving tadi hehe.

Proses Deferring Offers

Seperti yang saya singgung, saya apply untuk 2016, tapi gak bisa kuliah di 2016 (belum dapet beasiswa dan belum test IELTS – masih conditional offer-nya). Oleh karena itu, saya mengajukan deferral ke dua uni itu. Semuanya by email, responnya agak lama sih, cuma saya sabar aja, toh saya ngga buru-buru juga, hehe. Di samping itu, kan emang admission lagi sibuk-sibuknya, jadi ini memang sangat wajar jika responnya agak lama. Kalau ngga mendekati September, biasanya responnya cepet banget.

Saat pengajuan defer, yang perlu dilakukan simple banget, tinggal email aja, kemukakan maksudnya – mau defer, jangan lupa sertakan alasannya. Di LSHTM cuma by email aja. Nanti kalian akan dikirimi lagi LoA yang deferral itu. Jangan lupa baca dengan detail isi offering letter-nya karena bisa jadi mereka ada beberapa kesalahan data, misalnya saya waktu itu ada salah deadline submit conditions-nya (harusnya 2017 tetapi tertulisnya 2016). Tapi tenang aja sih, admission officers-nya baik-baik kok, mereka juga ngingetin kita soal ini, udah gitu responnya cepet juga. Saya waktu itu bela-belain deng balas email tengah malam biar cepet direspon (beda 7 jam cyin ama WIB).

Saya ada 3 conditions yang kudu dipenuhi buat dapet unconditionalnya: financial evidence, bachelor certification, and english requirement. Saat ini, tinggal yang  terakhir aja nih, masih belum cukup nyali buat tes karena terakhir ambil prediction masih 6.5 atau kurang 0.5 baik writing maupun overall band yang mintanya 7.

Kalau UCL, deferral sama juga, by email. Hanya kita juga bisa buka akun kita (akun pas daftar) untuk ngeliat status pendaftaran, kita juga bisa klik defer disitu. Tapi tetep kita disuruh kontak admission by email for the deferral. Oiya, ada yang kelupaan, untuk UCL itu ada admission fee-nya, lumayan mahal (hiks) dan bayarnya pake kartu kredit. Mungkin karena bayar ya, saya bahkan dikirimi hard copy offer letter-nya by post. Hahaha.. dapet surat dari London, heboh kali ya di kantor kelurahan ada kiriman dari London, wkwkwk.

Sekitar Januari 2017, saya dapet email reminder dari LSHTM soal offer letter saya. Adimission-nya juga ngasih updated info, termasuk – yang paling bikin saya bahagia – adalah ketentuan English language requirements-nya! Overall masih 7, tapi writing nya turun dikit jadi 6.5. Mereka juga nawarin kalau kita minta offer letter yang baru. Saya baru balas emailnya di awal Februari, minta a new offer letter, hehe. Sekitar dua hari kemudian, saya dapet LoA barunya.

Sekian dulu ya, insya Allah akan ada update-an untuk part ini karena masih on going, belum selesai, masih perlu submit beberapa dokumen yang belum lengkap (IELTS-nya). Terus saya juga belum tahu nanti akan fix dimana, mau ke LSHTM/ UCL yang berarti kudu ngajuin pindah ke LPDP, atau coba ke Tufts sesuai pilihan awal (siap-siap GRE) dan baru bisa intake 2018!

Apapun itu, tetep semangat dalam ikhiar terbaik dan doa yang tulus ikhlas 🙂

“Never give up, great things take time.”

Biar sayanya makin semangat, dua master candidates-nya ICL & UCL ngirimin ini , heuheu. Many thanks, ya Bella dan Rifqah 🙂

img_20170208_172351

alay pangkal bahagia,