Bulan 1: It’s exactly what I expected!

Tulisan ringkas ini adalah sedikit gambaran mengenai perkuliahan saya di LSHTM di bulan pertama.

Orientasi Jurusan. Yap, setelah sampai di London tanggal 21 September, saya berkesempatan menghadiri acara orientasi univ buat international students (yang dari UK juga boleh ikut sih kalau mau). Ini isinya hal2 umum gitu, terkait visa, buka rekening bank di UK, dan seputar living in London and studying at the School pokoknya, hehe. Saya ngga bener2 ikut full, cuma sempet nengok sorenya pas ada acara party2 gitu. itupun ngga ikut sampai selesai, cuma say hi sama temen2 baru dari jurusan macem2, ikutan photobox ala2, sama icip2 refreshment yang disediain. Buat yang social gitu, ini sebenernya seru gitu deh, ada band juga yang perform, mayan lah buat yang suka. Rangkaian acara ini berlangsung selama 2 hari. Pekan selanjutnya adalah orientasi jurusan!

Yang saya niatkan banget buat ikut, karena akan mengupas seluk-beluk dengan lebih detailnya. Kegiatan ini berlangsung senin-jumat dengan jadwal yang beragam dan manfaat banget! sayang deh kalau ngga ikut, terutama yang di hari jumat-nya: tour ke Kew Garden lewat Westminster Pier naik kapal gitu ngelewatin the Thames! Pentingnya lagi, itu digratisin hehehe.

Di jurusan saya, ada 30 mahasiswa full-time dan 3 part-time dari beragam belahan dunia. I’m the one and only who’s from Southeast Asia. Yang dari UK sendiri ngga nyampe sepertiganya, jadi totally diversed gitu.

Belajarnya disini dibagi dalam 3 term ditambah summer project (tesis) yang hukumnya super wajib karena itu 45% sendiri dari total GPA. Meskipun kuliahnya ada 3 term, kita ujiannya cuma sekali, yaitu di bulan Juni. Itu semua module dari jaman term 1 sampai term 3 tebluk diujikan di pekan itu. Hmmm. Selain dari ujian dan summer project, ada juga tugas2 di term semacam paper gitu.

Kesan Mengikuti Perkuliahan. Di term 1 saya mengambil 3 modul wajib (Fundamental Public Health Nutrition/ FPHN, Statistics for Epidemiology and Public Health/ STEPH, dan   Basic Epidemiology/ BE). Sebenernya kita boleh mengambil modul lain yang optional. awalnya saya pengen ngambil Principle of Social Research, mau kenalan dikit sama metode kualitatif ceritanya. Tapi setelah berdiskusi dengan direktur jurusan dan saya pikir2 lagi, sepertinya lebih baik ngga usah ambil, toh masih bisa juga akses semua bahannya (termasuk video lectures-nya) dan belajar sendiri.

Disarankan oleh beliau fokus saja ke yang wajib, sambil adaptasi. Adaptasi kuliah di sini, dan adaptasi juga jadi mahasiswa setelah 4 tahun ngga ngampus, hehehhe. Tapi mungkin yang paling demanding itu adaptasi ngikutin kuliah dalam bahasa inggris, apalagi saya blas ngga pernah pake binggris di ‘kehidupan sebelumnya’, hanya bermodalkan belajar buat IELTS yang sekitar 3 bulan itu (asli, meskipun hasil tesnya & standar yang ditetapkan cukup tinggi ternyata itu bukan jaminan bisa casciscus disini, guys!, tapi ngga tau juga dink, mungkin ada yang tiba2 bisa langsung jago hehe).

Mengenai perkuliahannya, ngga beda gitu sih dari kampus2 di sini pada umumnya, mungkin. Ada kelas besar dan kelas kecilnya. Ada lectures (mahasiswa duduk manis menyimak presentasi dari dosen), practicals (di kelas yang kecil, ngerjain semacam soal2, kemudian dibahas, difasilitasi 1 or 2 lectures/ assisstant lecture, untuk kelas STEPH and BE), dan seminars (semacam diskusi kemudian debat, biasanya di kelas kecil). Kalau di jurusan lain mungkin ada yang pake nge-lab, tapi di jurusan saya (alhamdulillah) engga ada.

Yang paling seru itu,menurut saya adalah lectures-nya, terutama pas topiknya seru (mostly saya temuin di FPHN, tapi di 2 kelas lainnya juga tetep ada), dan pas banget yang ngisi itu emang expert-nya di bidang itu. Boleh lah dikatain agak ndeso (gpp juga sih, emang cah ndeso asline!), tapi saya emang bener2 ngerasa banget bedanya saat mengikuti perkuliahan yang dosennya yang bener2 gamblang ngejelasinnya, ditanya juga penjelasannya sangat masuk akal (bukan berarti harus selalu ada exact answers-nya, karna di beberapa hal kan manusia emang ngga tau, yes!).

Saat mahasiswanya bertanya mengenai hal yang memang belum ada jawabannya, beliau menjelaskan dari a-z kenapa itu belum terjawab juga. Dari berbagai topik yang saya ikuti, semakin sadar kalau sebenarnya di sains ini, banyak banget keterbatasan manusia. Betapa memang, terlepas dari segala kemajuan yang telah dicapai, masih banyak hal yang belum juga terungkap, dan kita (paling mungkin) hanya bisa mengandalkan prediksi. Mulai abstrak!

Di FPHN, kami mempelajari topik2 yang mendasar dan ada beberapa (banyak juga) yang ngga begitu public health or terlalu biochemist gitu. Tentunya, sebagai PH & Tropical Medicine focused Grad-School, disini kami didatangkan pengajar dari berbagai institusi di dalam atau luar London, yang emang bener2 expert-nya gitu. Quite surprising juga, pas di salah satu kelas itu, seorang pengajar luarnya, (prof emeritus di salah satu uni di UK) ternyata adalah salah satu sesepuh yang membesarkan departemen saya (di LSHTM).

 

Secara keseluruhan, karena keterbatasan saya dalam menumpahkan kata-kata, apa yang saya jalani saat ini, memang bener-bener yang saya harapkan ketika memilih untuk mendaftar kesini. Sedikit mengobati luka-luka lama yang ngga pernah kesampaian sekolah impian (halahh curhat!!). To be really honest, alhamdulilah, saya sangat beruntung bisa diterima disini dan juga bersekolah disini (terimakasih lagi Indonesia!)

 

22424184_1730593876953693_2346315678481338258_o

akhirnya ada foto disini, meski baru ‘sempet’ setelah sebulan keluar-masuk lewat sini, dan kaku bgt hehe

 

 

Salam dari 9 degree of C-nya London,
Sat 12:07 am /28-10-2017 🙂 😀

 

Advertisements

Perpindahan Universitas Tujuan Luar Negeri

Ini kan bukan univ tujuan kamu – sambil ngeliat offer dari LSHTM. Mau ngajuin pindah ya nantinya?

Itu salah satu pertanyaan saat saya seleksi substansi 2016 lalu. Saya waktu itu jawabnya ngga. Bohong ya karena pada akhirnya saya pindah juga ke univ itu? Tapi, sebenernya saya ngga bohong juga karena waktu itu saya jawabnya ngga pindah karena univ itu (LSHTM) tidak dalam list LPDP. Nah ketika masuk list, kan situasinya jadi beda. Ngga bohong kan? Hehehe

Tapi kalau dijawab jujur sih aslinya saya emang dari awal udah LSHTMer banget. Berhubung dia ngga masuk list LPDP kan ngga mungkin dong saya tulis di pendaftaran sebagai univ tujuan? Iyo raa?

Saya pilih Tufts sebagai univ tujuan awal juga bukan cuma asal comot. Saya juga suka dengan courses yang ditawarkan disitu. Dan lagi, kata prof saya itu juga pilihan yang bagus. Jadi, dua univ itu bagus buat saya. Terus kenapa LSHTM? Bela2in belajar IELTS lebih lama bahkan tes dua kali karena standarnya lebih tinggi dari univ lain?

Karena, menurut hasil research saya dengan didukung dosen juga, LSHTM is a better choice, though I cant deny that the one in Baltimore is even better!

Cukup deh ya buat alasannya, hahhaha.

Untuk mengajukan perpindahan univ ke LPDP, kamu perlu mengajukan email ke lpdp.dkp3@kemenkeu.go.id. Di dalamnya, ada beberapa persyaratan yang harus dilampirkan bersama dengan surat pengajuan pindahnya itu sendiri.

1. Surat permohonan perpindahan perguruan tinggi ditujukan kepada Direktur Utama LPDP
2. 
Unconditional Letter of Acceptance (LoA) dari perguruan tinggi tujuan baru.
3. Sertifikat IELTS

4. Perbandingan tuition fee perguruan tinggi awal dan baru.

5. Perbandingan peringkat universitas tujuan awal dan baru

Oiya, pengajuan pindah ini cuma bisa dilakukan sekali ya (jika disetujui). Setelah kamu kirim email itu, nanti bakal dibalas kalau email kamu udah diterima, dan (normalnya) akan diberikan jawaban dalam 7 hari kerja.

Waktu itu karena saya emang lagi di Depok, pengen silaturahmi sama dosen yang kebetulan juga expert di bidang yang mau saya dalami di S2 nanti, sekalian aja kan minta surat rekomendasi pindah, hehe. Akhirnya, saya lampirkan juga rekomendasi itu meski ngga wajib.

Saya kirim email pengajuan pindahnya jumat seitar jam 8 malem, dibalas hari seninnya. Dan dapet persetujuannya hari jumat di pekan berikutnya. 8 hari kerja. Harusnya sih 7 hari kerja, tapi munngkin waktu itu LPDP lagi dalam pergantian beberapa jajaran direksinya mungkin dikit ngaruh kali ya. Hehehe.

Sejujurnya, itu masa2 deg2an banget sih, secara kalau itu ngga diterima saya bakalan galau total karena meskipun bisa aja ngajuin pindah lagi ke UCL (saya dah dapet unconnya jg) tapi rasanya ngga yakin gitu. Kalau mau ke univ awal, jelas deh baru bisa kuliah taun depan kan? Belum lagi mikirin GRE nya, oh oh. Tapi, alhamdulillah, Allah juga berkehendak saya ke LSHTM, jadi LPDP pun menyetujui permohonan pindah saya. Yes!

Setelah dapet email persetujuan tinggal nunggu dikirimin draf kontrak via email. Kemudian print itu dua rangkap, tempel materai dan tandatangani, lalu kirim balik ke LPDP. Instruksi lengkap ada di email, udah super jelas disitu, hehehe. Kalian juga udah bisa ngajuin LoG di tahap ini.

Setelah itu, tinggal nunggu kabar kalau kontrak bisa diambil dan juga – ini yang ngga kalah penting – email aktivasi simonev!

Perburuan Letter of Acceptance

Setelah kembali bertekad untuk lanjut sekolah (dimana sebelumnya sempet galau), saya mencari informasi sebanyak-banyaknya bagaimana persiapannya, mana yang dilakukan lebih dulu. Jujur saat itu saya masih belum fix dengan jurusan yang mau saya ambil. Pertama, jika mau kembali ke rencana awal (yang dibuat waktu masih kuliah S1) saya harus tetap mengambil Public Health Nutrition (PHN), dengan spesialisasi sesuai keinginan saya sekarang, yaitu child malnutrition program implementation in community level. Kalau untuk jurusan ini, pilihan terbaik menurut saya adalah Nutrition for Global Health di London School of Hygene and Tropical Medicine, Clinical and Public Health Nutrition di UCL, atau bisa juga ke beberapa universitas lain di USA dan Aussie. Saya nemu beberapa yang cukup oke. Kedua, ternyata setelah bekerja di NGO ini saya mulai tertarik untuk tetap di sector ini, sehingga sempat berikir untuk ambil Global Health and Development. Kala itu temen bilang kalau mau ambil itu mending ke UCL.

Setelah berpikir cukup lama, bahkan saya sempet tanya dan konsultasi dengan pakar – yang kontaknya saya temukan di forum-forum gitu, saya kirim email dan ternyata dibalas! – beliau menyarankan saya untuk tetap di PHN, tidak perlu ambil Global Health karena itu terlalu luas cakupannya. Saya setuju dengan saran itu, dan bener juga sih kalau ambil PHN, pilihan ke depannya makin luas. Jadilah saya ambil PHN dan rencananya akan focus ke bidang yang saya minati juga.

Selanjutnya adalah beasiswa. Yang muncul di benak saya saat itu adalah LPDP dan Chevening. Kalau LPDP jelas ya alasannya, itu bisa ke negara mana aja asal ada di list tentunya. Dan kenapa Chevening? Kalau ini, alasan yang sebenarnya adalah karena saya ingin ambil di UK jadi bisa selesai lebih cepat, mengingat saya sudah bukan fresh graduate lagi, hehehe. LSHTM saat ini berada di urutan ke-6 atau kalah dari 5 universitas di USA (padahal tahun lalu cuma kalah dari Harvard & Hopkins), tapi di UK masih yang pertama sih :). Ohiya, itu bukan peringkat overall ya, melainkan untuk Public Health & Social Science-nya, menurut sumber ini.

“Aim for the moon. If you miss, you  may hit a star.” – W. Clement Stone

Namun demikian, pertimbangan utama saya sih sebenarnya bukan soalan peringkatnya, tapi lebih ke matkulnya ini yang emang gue banget, hehe. Kesimpulannya, LSHTM fix jadi pilihan pertama saya.

Eits, ternyata setelah saya cermati lagi, itu tidak masuk di list LPDP. Artinya ada dua hal yang bisa saya lakukan: pertama, daftar Chevening atau LPDP tapi harus cari univ lain dulu (nantinya bisa mengajukan pindah). Karena ini judulnya perburuan LoA, disini saya cerita soal itu aja, untuk LPDP saya sudah tulis beberapa waktu lalu.

Untuk mendaftar uni, ada beberapa hal yang perlu kamu siapkan, dan bisa jadi tiap uni beda persyaratannya, so penting banget buat tahu detail dan pretelannya. Saya baru daftar di LSHTM dan UCL, tetapi saya ngga perlu cerita super detail ke persyaratannya ya, ini bisa kalian liat di website uni-nya, sangat lengkap kok disana, bahkan jika masih mau nanya, bisa email ke admission-nya. Saya pingin cerita soal personal statement dan CV-nya aja yes, sedikit soal reference. Hal-hal itu disiapkan dulu sebelum mau daftar online, sama passport jangan lupa (tapi saya yakin temen-temen sudah pada punya ini, cuma saya aja yang udik, baru bikin passport pas mau daftar uni, hehe). Kalau udah punya IELTS dan beasiswa lebih keceh lagi!

Personal Statement

Ada beragam saran untuk menulis PS ini, kalian bisa baca di internet, buanyak sekali website yang mendedikasikan dirinya untuk membantu para pelamar uni maupun scholarship dalam menuliskan dokumen penting ini, ada juga jasa mengoreksi yang berbayar. Saya cuma sempet baca dos and donts nya di website itu, cukup membantu, tetapi ngga coba yang bayar2 hehe. Selain website, boleh juga kita download contoh-contoh yang ada di internet, hanya perlu dipastikan sumbernya, yo. Dan ngga perlu kepatok persis juga. Menurut saya itu cukup membantu dan memberi insight pada cara penulisan maupun alur yang dipakai. Opsi selanjutnya, kalian bisa juga minta proof-reading sama temen atau senior yang kalian percaya.

Dari pengalaman saya, yang paling penting dalam penulisan PS adalah pastikan PS itu mengakomodir semua pertanyaan yang diajukan di form pendaftaran uni nya. Meskipun sebagian besar hampir sama, bisa jadi ada yang beda, tho. Alhamdulillah, di kasus saya ini mirip banget, jadi saya cuma bikin satu, tapi kemudian diedit untuk disesuaikan dengan apa yang menjadi ciri khas uni nya – program  studi sih terutama – karena memang tidak begitu mirip.

Setelah baca panduan pertanyaan, dos and donts, dan beberapa contohnya, saya nulis PS pertama saya yang 2 halaman. Saya kemudian minta tolong ke teman dan senior yang kuliah di UCL dan LSHTM untuk proof-reading. Alhamdulillah, saya dapat beberapa masukan, soal panjang PS, pemilihan pengalaman kerja yang dimuat, dan tentu grammar. Mereka tidak mengubah atau menyarankan secara langsung dengan mengedit isi PS-nya (kecuali beberapa terkait grammar), lebih ke masukan secara garis besarnya gitu.

Kedua proof-readers saya tidak memiliki saran yang 100% match, wajar juga sih, kayak ginian mah ngga ada yang baku sehingga pada akhirnya tetep kita yang harus mengeksekusinya. Akan tetapi, saya tetep melihat apa yang mereka sampaikan sangat membantu karena draft pertama saya memang masih sangat belum ok. Sangat logis deh saran mereka sehingga saya tidak pusing untuk merevisinya.

Setelah itu, saya merombaknya menjadi 1 halaman dan diedit bagaimana bisa selesai dibaca dalam 1 menit tapi bisa membuat kita distinct dari pendaftar lainnya. Why? karena pendaftar itu sangat banyak, terutama untuk uni2 favorit, dan tentu lelah yang nyeleksi, bakal jenuh juga jika PS nya panjang, udah gitu ngga ada yang unik. Ini saran dari senior saya, dan saya sangat sepakat dengan itu. Untuk grammarnya, saya disarankan pake Grammarly oleh temen saya. Sebenarnya kesalahan grammar saya ngga parah-parah amat sih, tapi kadang bisa jadi masih suka typo atau masih pake cheap vocab, wkwkwk. Software ini cukup membantu, tapi tetep kita kudu punya bekal juga. PS final saya sebenarnya juga ngga bagus-bagus amat sih, apalagi kalau saya baca sekarang, vocab-nya masih cetek banget, tapi saya cukup puas sih, setidaknya sama kontennya.

Curriculum Vitae

CV atau kalau di US sering disebut resume’ ini juga ngga kalah pentingnya dari PS, karena PS ngga mungkin bisa mengakomodir semua muatan masa lalu kita (aka CV), and vice versa, ada beberapa aspek di CV yang yang tidak bisa dimuat disitu, karena tidak sesuai, tetapi penting, itu bisa masuk di PS. Intinya, keduanya saling melengkapi, layaknya jodoh, ngga harus sama.

Sama seperti nulis yang lain-lainnya, saya tetep butuh referensi. Lagi-lagi, banyak website yang bisa ngebantu kita, termasuk di blog para senior. Saya memilih menulis CV pake format Europass dalam 2 halaman. Waktu saya minta proofreading PS, saya juga menyertakan CV untuk dibaca dan mungkin perlu diperbaiki. Alhamdulillah untuk CV saya tidak perlu mengeditnya, hanya beberapa penyesuaian penulisan karena waktu saya cek di Grammarly, saya masih campur aduk antara British sama American untuk spelling-nya. Wkwkwk.

Dua lembar bagi saya itu sudah cukup karena saya baru bekerja di 3 tempat setelah lulus, dan achievement saya selama kuliah itu ngga ada yang outstanding, jadi ngga ada yang termuat, hehe. Yes, I was just a very ordinary student. *eh jadi curhat. Oke gakpapa, karena #CVhanyamasalalu #oke.

Terkait panjang CV, ini sebenarnya juga ngga ada bakunya, seperti PS. Saya milih 2 lembar karena buat saya lebih baik simple aja, asal isinya linier dan mendukung jurusan yang mau diambil. Temen saya ada yang pake CV berlembar-lembar tapi dia lolos juga. So, there is no a fix guide for that, you decide 🙂

Rekomendasi

Hmmm, sebenarnya saya ngga pantas cerita banyak soal referensi karena saya meskipun mencantumkan dua referees (sesuai permintaan uni), saya dapat offer sebelum kedua referees saya mengisi form reference yang dikirimkan langsung oleh uni ke email beliau langsung. Dan sampai sekarang saya juga belum meminta beliau untuk menindaklanjuti perihal referensi ini. Ini karena alasan jarak saja (saya tidak begitu dekat dengan dosen, dan merasa kurang pantas jika hanya by phone, sampai sekarang belum kontak lagi), dan waktu itu saya sebenarnya ngga mau urus lagi karena toh saya akan mulai kuliah 2017, dan ini aplikasi buat 2016. Pikirnya, nanti aja apply langsung buat 2017.

Saya tidak menyarankan temen-temen untuk mengabaikan referensi, ini cuma case saya aja, karena menurut saya, referees tetap penting sekali untuk mendukung aplikasi uni kita. It is not good to make a hasty decision like me, being inconsistence and not finishing the process.

Terus kalau emang ngga mau urus sampe selesai, kenapa dulu saya memutuskan untuk apply uni dan defer ke 2017? Itu karena saya waktu itu kurang percaya diri untuk bisa sekolah di LN, apalagi kampus2 top. Dalam rangka meningkatkan rasa PD, saya coba apply yang nothing to lose ini. Dan pada akhirnya dapet, itu cukup berguna banget pas mau daftar beasiswa, bisa nambah PD. May be this is such a cheesy thing! But it works somehow 🙂 Buat temen-temen, mungkin ngga perlu se-lebay kaya ini sih, ini saya nya aja yang ngga PD-an emang, dan perlu melakukan sesuatu untuk mendongkraknya.

Btw, rekomendasi untuk uni mirip-mirip juga sama buat beasiswa, hanya saja kalau di uni yang saya coba apply ini memang mensyaratkan harus ada yang dari dosen, bahkan keduanya dosen pun boleh. Buat yang belum terlambat, baik-baiklah kalian dengan dosen J buat yang sudah terlanjur jauh kaya saya, mungkin bisa lah dijalin lagi silaturahminya.

Proses Pendaftaran Online

Saya mendaftar ke dua uni itu dalam satu waktu, tujuannya biar sekalian, karena kan datanya kurang lebih sama, bisa copas2 aja gitu, hehe. Alasan lainnya, karena saya di kampung banget, yang pas daftar ini pun harus ke kota dulu, cari wifi ke kantor Telkom. Jadi biar save time juga 🙂

Proses pendaftaran sama aja, tinggal buka websitenya, cari link buat daftar, bikin akun, lalu log in dan isi deh datanya. Sama jangan lupa siapkan dokumen yang perlu di-upload (PS, CV, passport, IELTS jika sudah ada, mungkin ijazah yang ditranslate- tergantung uni nya). Sebenarnya, proses pengisian data bisa dilakukan bertahap, mirip daftar LPDP, bisa save dulu sebelum submit. Akan tetapi, saya waktu itu langsung submit, karena prinsip saving tadi hehe.

Proses Deferring Offers

Seperti yang saya singgung, saya apply untuk 2016, tapi gak bisa kuliah di 2016 (belum dapet beasiswa dan belum test IELTS – masih conditional offer-nya). Oleh karena itu, saya mengajukan deferral ke dua uni itu. Semuanya by email, responnya agak lama sih, cuma saya sabar aja, toh saya ngga buru-buru juga, hehe. Di samping itu, kan emang admission lagi sibuk-sibuknya, jadi ini memang sangat wajar jika responnya agak lama. Kalau ngga mendekati September, biasanya responnya cepet banget.

Saat pengajuan defer, yang perlu dilakukan simple banget, tinggal email aja, kemukakan maksudnya – mau defer, jangan lupa sertakan alasannya. Di LSHTM cuma by email aja. Nanti kalian akan dikirimi lagi LoA yang deferral itu. Jangan lupa baca dengan detail isi offering letter-nya karena bisa jadi mereka ada beberapa kesalahan data, misalnya saya waktu itu ada salah deadline submit conditions-nya (harusnya 2017 tetapi tertulisnya 2016). Tapi tenang aja sih, admission officers-nya baik-baik kok, mereka juga ngingetin kita soal ini, udah gitu responnya cepet juga. Saya waktu itu bela-belain deng balas email tengah malam biar cepet direspon (beda 7 jam cyin ama WIB).

Saya ada 3 conditions yang kudu dipenuhi buat dapet unconditionalnya: financial evidence, bachelor certification, and english requirement. Saat ini, tinggal yang  terakhir aja nih, masih belum cukup nyali buat tes karena terakhir ambil prediction masih 6.5 atau kurang 0.5 baik writing maupun overall band yang mintanya 7.

Kalau UCL, deferral sama juga, by email. Hanya kita juga bisa buka akun kita (akun pas daftar) untuk ngeliat status pendaftaran, kita juga bisa klik defer disitu. Tapi tetep kita disuruh kontak admission by email for the deferral. Oiya, ada yang kelupaan, untuk UCL itu ada admission fee-nya, lumayan mahal (hiks) dan bayarnya pake kartu kredit. Mungkin karena bayar ya, saya bahkan dikirimi hard copy offer letter-nya by post. Hahaha.. dapet surat dari London, heboh kali ya di kantor kelurahan ada kiriman dari London, wkwkwk.

Sekitar Januari 2017, saya dapet email reminder dari LSHTM soal offer letter saya. Adimission-nya juga ngasih updated info, termasuk – yang paling bikin saya bahagia – adalah ketentuan English language requirements-nya! Overall masih 7, tapi writing nya turun dikit jadi 6.5. Mereka juga nawarin kalau kita minta offer letter yang baru. Saya baru balas emailnya di awal Februari, minta a new offer letter, hehe. Sekitar dua hari kemudian, saya dapet LoA barunya.

Sekian dulu ya, insya Allah akan ada update-an untuk part ini karena masih on going, belum selesai, masih perlu submit beberapa dokumen yang belum lengkap (IELTS-nya). Terus saya juga belum tahu nanti akan fix dimana, mau ke LSHTM/ UCL yang berarti kudu ngajuin pindah ke LPDP, atau coba ke Tufts sesuai pilihan awal (siap-siap GRE) dan baru bisa intake 2018!

Apapun itu, tetep semangat dalam ikhiar terbaik dan doa yang tulus ikhlas 🙂

“Never give up, great things take time.”

Biar sayanya makin semangat, dua master candidates-nya ICL & UCL ngirimin ini , heuheu. Many thanks, ya Bella dan Rifqah 🙂

img_20170208_172351

alay pangkal bahagia,