[Polemik Susu Formula] #1 ASI yang Tak Tergantikan

sf2

generasi masa depan

Sebelum lebih jauh berbicara soal susu formula, saya ingin sedikit menyampaikan mengenai pemberian makan yang tepat untuk bayi dan balita, yang mencakup sedikit cerita dari temuan saya sendiri di lapangan, informasi yang saya copas dari file rekomendasi beberapa organisasi profesi terhadap MPASI dan Resolusi World Health Assembly 2016, dan ditambah data dari berbagai sumber resmi.

Bagian ini – anggap aja – baru pengantar, meskipun bakal lumayan panjangnya, hehehe.

Saya kira kita semua sepakat sekali bahwa untuk bayi baru lahir hingga dia berusia 6 bulan, ASI Eksklusif adalah yang terbaik dan tak tergantikan oleh makanan apapun. Akan tetapi, ada beberapa kondisi yang mengakibatkan si ibu tidak mampu memberikan ASI-nya keada bayinya sendiri. Jika ini terjadi dan tidak dapat ditemukan solusinya – misalnya dalam kasus ibu HIV positif – barulah dicari alternatifnya. Apa sajakah itu?

Pertama adalah ASI donor dari ibu lain yang memiliki bayi berusia sebaya dengan bayi tersebut. Inilah pilihan terbaiknya karena kandungan gizinya sesuai dengan kebutuhan si bayi. Jika itu tidak memungkinkan juga, opsi selanjutnya adalah ASI dari ibu dengan bayi yang usianya tak sama dengan si resipien. Kandungannya memang berbeda – karena kandungan ASI itu Allah atur sehingga sesuai dengan kebutuhan bayi pada umurnya – tetapi itu tetap lebih baik karena masih ASI juga, bukan susu dari spesies lain.

Kemudian, ini sedikit keluar dari bahasan yak, tapi masih sangat relevan, bagaimana cara pemberiannya? Ini dia praktek yang seringkali salah dilakukan oleh ibu-ibu yang kebanyakan memilih dot untuk memberikan ASI ke bayinya. Penggunaan dot ini dapat menyebabkan bayi ‘bingung putting’ yang dampak buruknya dia bakal ngga bisa menyusu ke ibunya lagi. Yang direkomendasikan itu adalah menggunakan cangkir kecil. Cara meminumkan ASI perah pada bayi dapat dilakukan dengan memiringkan gelas hingga bibir bayi menyentuh ke permukaan ASI. Bayi kemudian akan megecap dan mnenghisapnya. Ketika hal ini sudah terjadi, sedikit demi sedikit gelas dapat dinaikkan agar bayi dapat meminumnya.

Kembali lagi ke alternative tadi ya. Yang sering banget terjadi adalah ibu tidak begitu teredukasi mengenai ASI donor ini atau kesulitan gimana cara mendapatkannya jika kebetulan tidak ada saudara atau kenalan dekat yang bisa dipercaya dan dimintai tolong. Kalau ini yang terjadi, peran tenaga kesehatan menjadi sangat strategis. Buat ibu-ibu, pilihlah tenaga kesehatan (bidan, dokter, dsb.) yang sudah paham soal ini. Karena kenyataannya, tidak semua dari mereka itu tahu atau mungkin tahu sebagian tetapi sikap mereka memang tidak pro-ASI.

Ilmu soal ASI secara mendalam memang tidak masuk dalam kurikulum pendidikan mereka. Saya tahu ini bukan asal-asalan, tetapi ini adalah pernyataan dari fasilitator pelatihan konselor menyusui saat saya jadi salah satu pesertanya dan dari temen-temen peserta lain yang merupakan tenaga kesehatan itu.

Permasalahan lebih parah lagi dapat kita jumpai di wilayah terpencil atau pedesaan dimana – pada umumnya – para ibu itu tidak tahu soal ini dan tenaga kesehatannya pun – kebanyakan – juga tidak peduli. Bahkan, mereka ‘jualan’ susu formula. Kalau ada sedikit masalah saja, langsung deh disaranin pake susu X saja, belinya di warung Y. Ini satu contoh nyata yang saya temui di lapangan. Miris.

Jika itu kejadiannya, saya kira ini jadi tugas tenaga kesehatan setempat lainnya yang masih peduli agar praktik yang demikian tidak dilestarikan. Lebih bagus lagi jika dinas terkait juga turun tangan untuk menegur stafnya. Saya tahu ini tidak mudah untuk dilakukan, terutama saat ada banyak pihak yang ‘bermain’ memperjuangkan kepentingannya. Tapi, saya tetep yakin, diantara kita masih banyak yang peduli soal ini. Insya Allah.

Kabar baiknya, jika melihat rentang waktu pemberian ASI, SDKI 2012 menujukkan bahwa rata-rata lama menyusui di Indonesia termasuk panjang, yaitu 21.5 bulan, dan lebih lama lagi pada mereka dengan pendidikan rendah. Jadi, terlepas dari yang saya paparkan tadi, masalah lebih luas dan lebih seriusnya ada di pasca 6 bulan atau MPASI yang akan kita telaah di bahasan selanjutnya disini.