Any thoughts?

Ini adalah quote (lama) dari satu jurnal kesehatan yang disampaikan oleh dosen saya di sela-sela kuliah pengantar public health nutrition.

“The new concepts to prevention, having discovered that behaviour affects health, focus on the responsibility of the behaviour of the individual for illness prevention by eating and drinking in moderation, exercising properly, not smoking and the like. Surely, in the final analysis, it is the individual who carries out these actions. But what does it mean to hold the individual responsible for smoking when the government subsidises tobacco farming, permits tax deductions for cigarette advertising and fails to use its taxting power as a disincentive to smoking? What does it mean to castigate the individual for poor eating habits when the public is inundated by advertisements for”empty-calorie” fast foods and is reinforced in present patterns of consumption by federal farm policy?”- [Eisenberg, the perils of prevention, NEJM, 1977]

Menggelitik dan, yap memang begitu adanya kan ya? Kita ndak bisa ‘menyalahkan individu’ atas berbagai perilaku yang ‘tidak sehat’ meskipun berbagai kampanye, pesan, program, dan ajakan untuk mengadopsi perilaku yang sehat itu sudah ‘gencar’.

Any thoughts?

Advertisements

Kenapa Pilih S2 yang (cuma) Setahun?

Ini saya tulis di tengah menjalani perkuliaan S2 saya yang baru berumur sebulan. Mungkin nanti bisa berubah juga seiring berjalannya waktu, tugas nambah, dan… dan sebagainya.

BqS-4iGCUAAtPVI

Dengan tidak memandang pertimbangan/ urusan terkait keluarga, saya melihat kalau setahun ini, insyaallah (akan) tepat. Buat saya, atau buat kalian2 juga… mungkin hehe.

Alasannya adalah sebagai berikut.

Pertama, saya kuliah di jurusan yang linier dengan S1 sehingga disini (S2) itu lebih mendalami konsep-konsep dasar yang sebenarnya pernah dipelari di S1. Bedanya itu, disini belajarnya sangat lebih mendalam agar benar-benar paham konsep dasarnya. Jadi ngga asal ngafal dan ‘ya gitu deh pokoknya’. Banyak banget teori-teori yang dipertimbangkan untuk menjawab satu pertanyaan yang (mungkin) tampak sederhana. Selain itu, disini juga super update terhadap perkembangan ilmunya. Misalnya, sumber-sumbernya ke jurnal yang barusan terbit, atau bahkan akan terbit. Iya sih, kan yang ngajar itu emang world leading expert-nya. Dia yang banyakan nulis mengenai topik terkait.

Ngga tau itu cuma perasaan saya saja, kali ya? Mungkin banyak yang waktu undergrad-nya juga udah ngalamin pengalaman seperti itu hehe, excited sama kuliahnya, ngga ngerasa salah tempat (curhat opps!), dan di kampus yang oke begete. Saya yang dulu waktu S1 bisa dibilang super-duper cuek sama kuliah jadi ya mungkin wajar beut kalau ngerasa sekarang itu sepertinya masih perlu ‘ngerunek’ mengkaji topik (yang seharusnya) sudah dikuasai saat S1. Terlepas dari perkembangan dan konteks sikon saat ini.

Kemudian, meskipun masih berusaha mengurangi barrier di bahasanya (nasib golongan yang menyepelekan belajar binggris sebelum kepikiran mau S2 di Inggris), mengambil jurusan yang linier itu menguntungkan banget lho. Meskipun banyak materi jaman S1 yang kelupa, at least masih ada yang nyangkut beberapa persennya, itu salah satu yang ngebantu sekarang. Tinggal didalami lagi, sekalian update!

Kedua, dengan summer project (aka thesis) yanng hukumnya wajib dikerjain dan dikumpulkan, ditambah sumbangannya yang hampir setengah dari GPA itu, mau ngga mau kudu serius kan yak. Dan lagi, meskipun dosen saya (bilangnya) ngga menuntut a perfect project, tapi melihat standar penilaian kampus yang (katanya) tinggi itu juga bikin  grrrr…

Di jurusan saya, di pekan pertama kami sudah diberi arahan soal summer project juga. Ditambah, setiap pekan kami ada routine meeting dengan direktur program/ jurusan untuk membicarakan isu2 yang muncul, dan 10 menit presentasi dari kami tentang nutrition (bisa skripsi atau pengalaman kerja di bidang gizi) untuk saling mengenal dan kali aja nemu ide summer project. Lagi2 summer project!

Eh ini apa hubungannya dengan kuliah setaun? Hehe.. Menurut saya, S2 yang singkat itu akan cukup untuk mengenalkan/ mengembangkan kemampuan menulis artikel ‘layak terbit’ jurnal jika memang dikerjakan dengan serius dan dipikirkan sejak awal. Seperti kata dosen saya, kita ngga harus perfect, baru belajar untuk itu. Untuk tahap yang lebih tinggi, tentu itu bagiannya S3, yang waktunya puanjang! Adil kan?

Ini bukan berarti menurunkan motivasi biar “udah deh tesisnya ngga usah ngoyo” ya. Ngga sama sekali. Buat temen2 yang sama seperti saya (linier S2 & S1 nya, tentu udah ngga ngawang lagi kalau bicara soal minat dan kecenderungan memilih topik untuk sebuat tugas akhir. Dan itu juga, jadi semacam bonus ‘motivasi’ biar lebih semangat pas nulis hehe.

Mungkin, kalau yang mengambil jurusan yang benar2 baru dan belum begitu kebayang, setahun bisa kurang, kali ya? Belum tentu juga karna kan banyak faktor yang mempengaruhi, dan juga itu personal banget kan ye.

Ketiga. Memang jelas kalau kamu geng setaun ini tidak mengambil modul sebanyak yang kuliahnya dua tahun. Dan ngga sebanyak kaya pas S1 juga lho ternyata. Misalnya, saat ini saya (cuma) ambil 3 modul. Akan tetapi, kuliahnya 4 hari sepekan pagi sampe sore 2x, setengah hari 2x. Kalau diitung2 jamnya ngga jauh beda sih ya sama pas sarjana, hehehe. Bedanya, topiknya dikit tapi pembahasannya lama gitu. Belum ditambah ‘oleh-oleh’ buat di rumah; reading list.

Keknya 3 aja dulu, nanti nambah lagi kalau dah ada temuan lagi.

 

Menakjubkan

“Menakjubkan memang urusan seorang muslim, begitu kata Baginda Nabi SAW, jika mendapat nikmat lalu ia bersyukur, jika menghadapi musibah lantas ia bersabar.” Keduanya bersama keridhaan Rabb-nya. Bukankah itu yang jadi tujuan kita?

Salah satu tokoh idola saya, Umar ibn Khatab RA, yang saya tertakjub saat membaca biografi beliau – The Great Leader of Umar ibn Khattab karya DR Ali As-Shalabi – juga  mengucapkan sesuatu yang senada:

“Jika sabar dan syukur itu kendaraan, aku tak peduli akan menaiki yang mana.”

Masya Allah.

Tak kan pernah cukup lisan kita untuk mengucap syukur kepada Allah SWT atas nikmat Islam ini. Hanya seringnya kita – saya terutama – hanya ingat hal ini pada situasi-situasi tertentu. Saya misalnya, pada ingat saat memperoleh sesuatu yang sangat-sangat saya inginkan, saat sungguh-sungguh berikhtiar untuk mendapatkannya, dan saat ikhtiar belum membuahkan hasil yang kita harapkan.

Astaghfirullah.

Hmmm. Kembali ke beberapa waktu yang lalu, saat tanpa disangka-sangka Allah menganugerahkan sesuatu yang sangat saya inginkan sejak lama, meskipun rasa-rasanya ikhtiar saya belum maksimal. Rasanya tak bisa terlukiskan dengan kata.

Apakah sesuatu yang seperti itu bisa terjadi lagi – pada saat yang tidak begitu jauh – pada diri kita?

Hmmm.

Hanya saja, yang jadi soalan adalah, salah juga jika kita terus menginginkan yang demikian. Mosok gak mau maksimal tapi minta hasil yang optimal, wkwkwk. Tentunya, perlu ikhtiar maksimal dan doa yang terus ikhlas. Inilah dua hal yang teramat mudah diucap, tetapi – bagi saya khususnya – masih perlu diupdate setiap saat. Yakin kita sudah berdoa dengan ikhlas? Benar usahanya sudah maksimal? Dalam kasus saya, seringkali jawabannya adalah tidak dan belum.

Terlebih jika kita melihat sejauh mana niat kita. Sudah benarkah sejak awal, masih berusaha diperbaiki, atau sejak awal memang masih sedemikian tidak pantasnya? Terkait niat ini, yang sudah benar dan tulus di awal, kadang seringkali – dengan bertambahnya informasi dan waktu yang berjalan – justru bisa terkotori oleh hal-hal yang sebenarnya sudah coba dihindari sejak awal. Duh. Njelimet tenan.

C’est la vie!

Menakjubkan.JPG

Memiliki mimpi itu penting, terus peliharalah mimpi itu, tapi jangan persempit impianmu dan lihat sekitar! Mungkin saja dunia telah berubah dan sudah saatnya kamu menyesuaikan mimpimu agar lebih bisa bersinar 🙂

Di sisi yang berlainan, kita juga ngga harus kok ikut-ikutan yang lagi mainstream, jalani saja yang disukai saat ini, perkara nanti mau kena arus juga gpp, asal itu arus menuju kebaikan dan lo udah siap buat berlayar disitu. Thanks, Mba Vi. Pesannya Mba yang ini, ngena banget!

Lagi, layaknya dengan harapan. Tak salah kita memiliki harapan, bahkan harus punya, ya? Tapi jangan lupa kalau kita bukan sutradara akhir disini, tugas kita membuat rencana, menjalani dengan sebaik mungkin, dan harus selalu siap menghadapi kejutan-kejutan dahsyat untuk setiap ending dari Penulis Alur Cerita Semesta!

Ada kalanya – dalam beberapa urusan – kita perlu sedikit membuang rasa percaya diri, logika berpikir, dan hanya berpegang pada prasangka yang  baik kepada Tuhan kita. Meskipun toh di akhir tak ada yang salah silogisme kita, itu tak masalah. Kedudukan kita sebagai hamba memang demikian. Tapi penting, tak perlu lah kita rendah diri dan menyalahkan prasangka baik yang akhirnya tak terwujud, karena kita masih punya pilihan: untuk terus menumbuhkan prasangka baik yang lain atau sebaliknya.

Dan saya pilih yang pertama.

Dari tadi ngomong asbtrak terus nih, jadi intinya apa? Hehehe. Ndak ada, kebetulan beberapa hari ini saya sedang berusaha menjadi yang abstrak, karena konkret itu kadang membosankan. #tsah.

Oiya, saya ingin menutup tulisan kali ini dengan sebagian lirik satu lagu favorit yang pertama kali saya dapat copiannya dari salah seorang sahabat kece badai di RQ dulu (Mba Lita).

aku berdiri di atas panggung yang selalu ku dambakan
di tengah eluan tepuk tangan dan juga semangat
dengan latihan yang ketat ku lampaui dinding diriku
sambut hari ini, tirai kesempatan pun terbuka

aku pun tidak menari sendiri
ada hariku nangis di jalan pulang, aku bernyanyi tanpa berpikir
ada hariku hilang percaya diri, selalu sainganku terlihat seolah bersinar

impian ada di tengah peluh
bagai bunga yang mekar secara perlahan
usaha keras itu tak akan mengkhianati

impian ada di tengah peluh
selalu menunggu agar ia menguncup
suatu hari pasti sampai harapan terkabul

lampu sorot yang ternyata begitu terang seperti ini
bagai malam panjang menjadi fajar mentari pagi
sudah pasti aku tidak mau kalah dari kakak kelasku
kami ingin buat show diri kami sendiri

ada hariku menangis sedih saat ku libur karena ku cedera
ada hariku sudah menyerah, imbangi sekolah beserta latihan
tapiku mendengar encore dari suatu tempat

impian setelah air mata
bunga senyuman setelah tangis berhenti
wujudkan terus usaha keras pun akan mekar

impian setelah air mata
ku percaya takkan kalah dari angin hujan
sampai doaku mencapai langit cerah

penuh semangat mari menari, penuh semangat mari bernyanyi
tanpa lupakan tujuan awal, kerahkan seluruh tenaga oooh

 

(hari pertama by JKT48)

Sebelum ketinggalan, salah satu poin penting dalam menghadapi urusan apapun itu, adalah hilangkanlah ego, and the last but not least: Jangan lupa bahagia!

Masa Depan Mereka ada di Meja Makan Kita

eat-healthierGenerasi anak dan cucu kita diprediksi akan memiliki angka harapan hidup sepuluh tahun lebih muda dari kita. Salah satu faktor pencetusnya adalah pola makan ala fast-food cs yang semakin popular dan dicintai sebagian besar kalangan. Di negara maju, USA contohnya, 75% penduduknya mengalami overweight (gemuk) dan obese (sangat gemuk). Tak hanya negara maju, fenomena ini sudah menjalar ke negara berkembang, bahkan juga negara tertinggal. Indonesia, dari tahun ke tahun, prevalensi obesitasnya semakin naik dan menjadi beban baru. Masalah gizi yang tadinya ‘hanya’ gizi buruk, sekarang bertambah dengan fenomena gizi lebih.

Mungkin kita terlalu paranoid dengan berita pembunuhan yang semakin sadis yang dipertontonkan oleh kebanyakan media belakangan ini. Akan tetapi, kita lupa bahwa silent killer yang berkelanjutan, dan terstruktur, ada di sekitar kita, di meja makan kita sendiri!

Negara-negara maju dan lainnya seperti India dan China sedang memerangi masalah serius akibat obesitas dan kualitas kesehatan yang buruk. Penyakit terkait pola makan dan gaya hidup semakin membebani negara karena menghabiskan biaya yang nilainya terus meninggi.

Ijinkan saya menyampaikan kisah nyata yang mungkin belum terjadi di sekitar kita, tapi sangat mungkin akan terjadi. Irna lahir dan besar di sebuah keluarga yang normal. Dia adalah generasi ketiga dimana dia sendiri tidak pernah diajarkan bagaimana cara memasak baik di rumah maupun di sekolah. Keluarganya, semuanya obesitas. Adiknya yang baru berusia 12 tahun tetapi beratnya sudah hampir 100 kg. Tentu saja dia dibully di sekolahnya. Adiknya perempuannya, Arin, bahkan sudah obese sebelum masuk sekolah dasar. Ayahnya, yang juga obese, meninggal karena keadaannya itu. Dan sekarang, ayah barunya pun memiliki postur yang tak berbeda.

Kita sudah bisa membayangkan kelanjutan ceritanya. Saya ingin mengajak teman sekalian untuk melihat bahwa obesitas dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan makanan itu tidak hanya berdampak pada si penderita, tetapi keluarga, teman, kakak, dan adiknya juga ikut merasakan penderitaan dan kesedihannya.

Di era globalisasi ini, kedai-kedai penjual makanan cepat saji memiliki jaringan yang sangat luas di seluruh penjuru dunia, perkembangannya pun sangat pesat. Sejalan dengan fenomena manusia modern yang lebih memilih mengkonsumsi makanan itu dengan beragam alasan. Anak-anak dan remaja pun sangat menyukainya, karena rasanya yang enak atau agar terlihat keren, mungkin.

Sekarang coba kita amati supermarket. Jumlahnya sudah tak terhitung kalau di kota besar, dan di kota kecil, keberadaannya sudah menggeser pasar tradisional sebagai tempat berbelanja favorit. Ya, sebagian dari mereka adalah korporasi besar yang menyediakan segala kebutuhan manusia dari A sampai Z, termasuk makanan dan minuman kemasan.

Sebagian besar makanan yang kita konsumsi sudah melalui proses termasuk penambahan berbagai bahan, seperti pengawet, pewarna, penyedap, dan seterusnya. Kemasannya pun sangat menarik; berisi gambar dan keterangan yang mampu menyihir sebagian dari kita untuk membelinya. Bagi yang peduli dengan kandungannya, mungkin akan tergiur karena disitu tertulis low fat. Sayangnya, kebanyakan lupa bahwa makanan berlabel rendah lemak itu isinya juga penuh dengan gula. Jarang ada yang berpikir bagaimana mungkin makanan itu benar-benar rendah lemak kalau kandungannya penuh dengan gula! Umumnya, label memang membantu, tetapi saya ragu dengan kejujuran informasinya.

Berikutnya, saya ingin mengajak teman-teman sekalian untuk ke sekolah. Mengapa sekolah? Apa pentingnya melihat sekolah ketika sedang berbicara pola makan?

Sekolah adalah tempat dimana anak menghabiskan sebagian besar harinya, mereka belajar, bermain, dan tentunya makan! Atau dengan istilah lain, jajan. Meskipun terlihat sepele, sebenarnya ini penting karena makanan yang mereka pilih itu adalah sumber sebagian besar kalori hariannya. Terlebih jika jam sekolah lebih panjang, hingga sore atau bahkan malam baru kembali (karena ada kelas tambahan atau ekstrakurikuler). Di semua belahan dunia, jajanan anak di sekolah sebagian besar tidak sehat, kandungan gizinya tidak proporsional, sering bermasalah dengan higienitas, bahkan ada kasus penggunaan pewarna atau zat adiktif lain yang tidak diijinkan.

Lalu bagaimana dengan susu, elemen yang pernah disebut sebagai penyempurna menu kita. Saya yakin teman-teman masih ingat dengan 4 sehat 5 sempurna, kan?

Meskipun tingkat konsumsi susu di Indonesia relatif rendah, kenyataannya banyak anak-anak yang terbiasa minum susu sejak balita hingga remaja. Susu juga menjadi minuman wajib bagi beberapa kalangan orang dewasa maupun manula yang diet dengan tujuan tertentu. Intinya, susu merupakan minuman yang sering nongkrong di meja makan.

Pada dasarnya, saya tidak menganggap kalau minum susu itu benar-benar tidak baik, bukan begitu. Namun, pernahkan kita berpikir bahwa kenyataannya memang ‘bisa jadi’ itu tidak baik?

Hampir mirip dengan uraian tentang makanan/ minuman tadi, susu yang beredar saat ini sudah termodifikasi; memiliki rasa dan warna yang beraneka ragam. Tentu saja itu karena sudah diberi perasa, pewarna, pemanis yang jumlahnya kita tak tahu dengan pasti. Semakin menarik warna dan kemasannya, semakin beragam pilihan rasanya, didukung dengan gencarnya iklan di media, tak terhindarkan jika semakin banyak pula anak-anak yang meminumnya. Sebagian besar orang tua pun tidak berpikir panjang terkait hal ini karena sudah sangat yakin yang namanya susu pasti sehat!

Sebenarnya masih panjang jika topik ini diteruskan. Saya kira itu cukup mewakili, dan selanjutnya, mari kita cermati kaitan antara kebiasaan makan dengan masa depan J

Gaya hidup modern sudah terbukti membawa berbagai perubahan, termasuk munculnya permasalahan akibat pola makan tidak sehat yang negara industri/ maju sudah mengalaminya. Negara berkembang dan tertinggal pun tak bisa menghindarinya. Lantas, bagaimana dengan masa depan? Optimiskah bahwa kita punya peluang untuk memperlambat laju perubahan yang negatif atau bahkan menghentikannya di suatu titik? Saya sendiri percaya bahwa masyarakat global banyak yang peduli dengan permasalahan ini. Pemerintah dan organisasi multinasional sudah menyusun berbagai rencana kerja yang menyasar permasalahan ini, salah satunya melalui Sustainable Development Goals.

Itu inisiatif dari mereka. Bagaimanakah dengan kita?

Setiap insan berhak menentukan gaya hidup yang akan dijalaninya; apakah mau makan teratur atau seenaknya, membeli makanan penuh zat pengawet, pewarna, perasa, dan kawan-kawannya atau masak sendiri. Kita bebas menentukan hidangan di meja makan rumah kita. Jika boleh saya berpendapat, akan lebih baik jika kita lebih peduli lagi dengan hal ini, karena meskipun tidak terlihat langsung dampak serius, beragam kerugian yang nyata dan berkelanjutkan di jangka panjang sudah terbukti jadi konsekuensinya. Dengan kepedulian kita ini, setidaknya kita sudah mewariskan gen dan kebiasaan baik untuk anak cucu kita nanti.

“Demi masa depan generasi penerus bumi ini, menerapkan pola makan yang seimbang adalah sebaik-baik investasi.”

 

Artikel ini terinspirasi dari satu video di TED.com

Gambar

Berkomunikasi dengan Allah lewat As-Sab’ul Mastsaani*

praying child

“Aku membagi shalat antara Aku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta, apabila hamba berkata ‘Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Allah berfirman,’Yang hamba-Ku memuji-Ku.’

Apabila hamba berkata,’Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.’

Allah berfirman,’Hamba-Ku menyanjung-Ku.’

Apabila hamba berkata,’Yang menguasai Hari Pembalasan.’

Allah berfirman,’Hamba-Ku memuliakan-Ku,’ atau berfirman,’Hamba-Ku berserah diri kepada-Ku.’

Apabila hamba berkata,’Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.’

Allah berfirman,’Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan baginya apa yang dimintanya.’

Apabila hamba berkata,’Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat epada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.’

Allah berfirman,’Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan baginya apa yang dimintanya.’ (h.r. Muslim)

Sabda Baginda Nabi SAW tersebut menunjukkan betapa mulianya dialog yang berisi penyebutan hamba dan pengabulan doanya oleh Allah melalui surat yang dibaca di tiap rekaat shalat. Bagi saya sendiri, ini adalah hal yang sangat dahsyat tak tergambarkan oleh perkataan apapun. Nikmatnya shalat juga sungguh terasa saat membaca dan menghayati kandungan surat Al-Fatihah ini.

Seperti yang disebutkan dalam suatu riwayat, ini mengenai Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz yang selalu diam sejenak di sela-sela membaca surat ini, beliau menghayati setiap ayatnya. Dan kau tau apa alasannya? “Aku ingin menikmati jawabann Tuhanku,” begitu menurut beliau.

Kekhusyukan Shalat

Yuk kita renungi kembali makna Surat Al-Fatihah 🙂

Saat kita shalat dan merasa tidak khusyu’, itu pertanda ada nikmat Allah yang belum kita ingat. Andai kita mengetahui cara mengucapkan Alhamdulillah dengan baik, pasti akan mengingat nikmat Allah, akan meraih shalat yang khusyu’. So, mari kita gunakan setiap reka’at shalat untuk mengingat nikmat Allah dan mensyukurinya; mulai dengan nikmat Islam, iman, sampai dengan nikmat Al-Qur’an. Dari nikmat diutusnya Rasul SAW sampai dengan nikmat harta, sehat, pandangan, pendengaran …

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menemukan jawabannya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nahl: 18)

Kala membaca Al-Fatihah dari awal hingga akhir kita akan mengingat rahmat dan nikmat Allah, kemudian memohon rahmat-Nya. Teringat Hari Kiamat dengan segala kedahsyatannya lalu memohon agar diberikan keringanan saat itu. Dan seterusnya hingga akhir surat. Insya Allah, dengan melakukan ini, kita akan bias menikmati shalat yang khusyu’.

 

* As-Sab’ul Mastsaani merupakan nama lain dari surat Al-Fatihah. Selain itu, surat ini juga dinamai Ummul Qur’an dan Al-Waafiyah wal Kaafiyah
Sumber: Khowatir Qur’aniyah, Nazharat fi ahdafi suwaril Qur’an/ Amru Khalid
Gambar: https://id.pinterest.com/DawnTravelsInc/muslim-kids-praying/

Memberi Nasihat untuk Penguasa? Kenapa engga!

jizo“Hai Umar, dulu akulah yang menjagamu selagi engkau masih bernama Umair (Umar kecil). Di pasar Ukadz engkau bergelut dengan anak-anak yang lain. Belum seberapa lama hari berlalu, engkau pun bernama Umar. Kemudian belum seberapa lama hari berlalu, engkau bernama Amirul Mukminin. Bertakwalah kepada Allah dalam urusan rakyat. Ketahuilah bahwa siapa yang takut kepada kematian, maka dia akan takut kepada apa yang belum didapatkan.”

Itu adalah ucapan seorang wanita yang bertemu di jalan dengan Amirul Mukminin, Umar ibn Al-Khathab RA, sehingga beliaupun menangis karenanya. Al Jarud, seorang yang membersamainya, lalu menegur wanita itu dengan berujar,

“Hei, rupaya engkau telah berbuat lancang kepada Amirul Mukminin dan membuatnya menangis.”

Tahukah apa jawaban Al Faruq ini? Beliau berkata,

”Biarkan dia. Apakah engkau tidak tau siapakah wanita ini? Dia adalah Khalulah binti Hakim, yang Allah mendengar perkataannya dari atas langit-Nya. Maka demi Allah, Umar lebih layak untuk mendengar perkatannya.”

Sebenarnya saya hendak menulis perihal memberi amar ma’ruf nahi munkar, terkhusus dalam berhadapan dengan penguasa. Kisah Umar ibn Al-Khathab di atas sedikit mengantarkannya. Mungkin ada yang berujar, “Ya tentulah demikian, Umar kan memang seorang Khulafaur-rasyidin (pemimpin yang mendapatkan petunjuk), jadi begitulah tanggapannya ketika ada orang lain yang mengingatkan tentang yang ma’ruf. Terlebih orang yang mengingatkan telah disabdakan Sang Guru Mulia, Rasulullah SAW, bahwa ucapannya didengar Allah dari langit-Nya.”

Untuk perbandingan, saya cuplik lagi sepotong kisah dari Abu Ja’far Al Mansyur (khalifah kedua Daulah Abbasiyah, saudara Abul Abbas as-Saffah. Lengkapnya adalah Abu Ja’far Al Mansyur bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas bin Abdul Muthalib) yang pada saat itu beliau menjadi Amirul Mukminin.

adviceDari Muhammad bin Ali, dia berkata, “Saya pernah menghadiri majlis Abu Ja’far Al Manshur saat menjadi amirul mukminin, yang di sana juga ada Ibnu Abi Dzi’b dan Al-Hasan bin Zaid (gubernur Madinah saat itu). Saat itu datang penduduk Ghifar yang menyampaikan pengaduan kepada Abu Ja’far Al Mansyur, menyangkut Al-Hasan bin Zaid. Al-Hasan bin Zaid berkata, “Wahai Amirul Mukminin, tanyakanlah keadaan penduduk Ghifar ini kepada Ibnu Abi Azi’b!”

Maka Al-Manshur menanyakan keadaan mereka kepada Ibnu Abi Azi’b. Lalu dia menjawab, “Aku memberikan kesaksian bahwa mereka adalah orang-orang yang suka merusak kehormatan orang.”

“Kalian sudah mendengarnya?”, tanya Al-Manshur.

Penduduk Ghifar itu berkata, “Wahai Mirul Mukminin, tanyakan pula keadaan Al-Hasan bin Zaid kepada Ibnu Abi Azi’b!”

Setelah Al-Manshur bertanya, Ibnu Abi Azi’b menjawab,”Akumemberikan kesaksian bahwa dia membuat keputusan secara tidak benar.”

“Engkau sudah mendengarnya wahai Al-Hasan?, tanya Al-Manshur.

Al-Hasan berkata,”Wahai Amirul Mukminin, tanyakan kepada Ibnu Abi Azi’b tentang diri tuan?”

“Apa komentarmu tentang diriku?”, tanya Al-Manshur.

Ibnu Abi Azi’b berkata, “Aku memberikan kesaksian bahwa Tuan mengambil harta ini tidak menurut haknya, lalu tuan menyalurkannya tidak menurut haknya pula.”

Kemudian Al-Manshur memegang tengkuk Ibnu Abi Azi’b, lalu berkata,”Demi Allah, kalau bukan karena aku, tentu sudah kuangkat anak keturunan Persia, Romawi, Dailam, dan Turki untuk menggantikan tempatmu ini.”

Ibnu Abi Azi’b berkata,”Abu Bakar dan Umar juga menjadi amirul mukminin, sementara keduanya mengambil dengan benar dan membagi dengan merata. Mereka berdualah yang memegang tengkuk orang-orang Persia dan Romawi.”

Al-Manshur melepaskan tangannya lalu berkata, “Demi Allah, andaikan aku tidak mengetahui kejujuranmu, tentu aku sudah memenggal lehermu.”

Ibnu Abi Azi’b berkata,”Demi Allah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya nasihat yang aku berikan adalah demi kepentingan putramu, Al-Mahdi.”

Kali ini saya cukupkan dulu ya, semoga tulisan yang di atas bermanfaat. Oiya, temen-temen punya referensi yang lain? Yuk kita berbagi!

Referensi: Minhajul Qadhisin karangan Ibnu Qudamah

Gambar dari https://www.pinterest.com/pin/538954280383685845/ dan http://japanese.berkeley.edu/advice.php

Kalau kita (mau) marah?

angryKetika kita marah…

Buta dan tuli akan nasihat. Tersebab amarahnya sudah naik ke otak dan menutupi inti pikirannya, yang juga akan menutupi inti indera, hingga mata menjadi gelap, tidak bisa melihat apa-apa, dunia terasa kelam dalam penglihatannya. Otaknya pun seperti lorong yang sempit, yang di dalamnya dinyalakan api yang berkobar-kobar, hingga udaranya pun menjadi hitam kelam, panas dan penuh dengan asap. Kalaupun di dalamnya hanya ada pelita yang kelap-kelip, tentu ia akan cepat padam. Siapa yang ada di dalamnya tentu akan tidak kuat bertahan lama, tidak bisa mendengar kata dengan jelas, tidak bisa melihat gambaran sesuatu dengan jelas, tidak mampu pula memadamkan api. Begitu pula yang terjadi di hati dan otak. Jikamarah benar-benar sudah menggelegak, orang lain pun bisa dibunuhnya.

Diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Hibban bahwa Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu berkata,”Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang kuat itu bukan karena bergulat, tetapi orang yang kuat itu yang dapat menguasai diri saat marah”.

Jikalau marah sudah menggelegak, hadapi dengan cara-cara berikut.

Pikirkan tentang keutamaan menahan marah, memaafkan, lemahlembut,dan menguasai diri. Bahwasanya ada seorang yang hendak bertemu dengan Umar ibn Al Khathab, terkemudian orang itu berkata, “Wahai Ibnul Khathab, demi Allah engkau tidak memberi kami yang banyak dan tidak membuat keputusan diantara kami dengan adil.”

Umar pun marah besar dan hampir saja memukulnya, tetapi kemudian dia mengurungkan niatnya karena seorang sahabat menyeru,”Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah pernah berfirman,’’Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang-orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’’ Dia adalah termasuk orang yang bodoh.” Kemudian Umar, pikirannya terus menerawang terhadap Kitabullah.

Berkatalah kita,”Kekuasaan Allah atas diriku lebih besar daripada kekuasaanku terhadap orang ini. Andaikata aku mengumbar amarahku, maka aku tidak akan aman jika Allah mengumbar amarah-Nya kepadaku pada hari Kiamat.”

Pikirkanlah oleh kita bahwa ketika marah, setan akan membisik,”Perkara ini bisa membuat dirimu lemah, hina, terlecehkan, dan tidak terhormat di hadapan manusia.” Kita hendaknya menimpali dengan berujar,”Saat ini engkau memandang rendah kesabaran, sementara engkau tidak tidak memandang rendah pelecehan pada hari Kiamat. Engkau takut dipandang rendah di hadapan manusia, tetapi engkau tidak takut dipandang rendah di hadapan Allah, para malaikat, dan nabi pada hari Kiamat.”

Atau kita bersegera untuk berwudhu.

.Atau

Tempelkanlah pipi di tanah.

Telah banyak kisah tentang menahan marah ini dari para sahabat dan generasi awal. Saya kutip satu saja ya…

Ali bin Al-Husain bin Ali RA berpapasan dengan seseorang. Seseorang itu kemudian mencaci-makinya hingga pembantunya (pembantu Ali) marah kepada orang tersebut.

“Sabar dulu”, kata Ali kepada pembantunya. Lalu dia memandang orang tersebut dan berkata,”Wahai orang yang tidak tahu urusan kami, apakah engkau ada keperluan sehingga aku bisa membantumu?”

Orang itu pun merasa malu. Ali kemudian memberinya pakaian yang dikenakannya dan uang 1000 dirham. Setelahnya, orang itu berkata,”Aku bersaksi bahwa engkau adalah anak keturunan rasul.”

Referensi: Mukhtashar Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah

Gambar diambil dari http://www.gettyimages.com/detail/photo/girl-making-angry-face-royalty-free-image/148687526