[Polemik Susu Formula] #2 Tantangan Pemberian Makanan Pendamping ASI

Ini adalah part #2 dari bahasan Polemik Susu Formula. Meskipun ngga penting-penting banget, mungkin buat yang liat yang part #1 bisa dilirik sebentar disini.

Selama saya bekerja berdampingan dengan bayi dan balita serta ibunya, saya melihat satu trend yang terjadi di semua tempat. Survey di tingkat nasional pun mengaminkannya. Trend yang saya maksud adalah, grafik pertumbuhan status gizi menurut BB/U – bisa dilihat di KMS – setelah bayi berusia 6 bulan cenderung MELAMBAT atau tidak sesuai dengan standar. Beberapa masih bisa bertahan di status gizi yang normal, tapi banyak juga yang masuk ke kategori gizi kurang, bahkan gizi buruk atau BGM lebih tepatnya.

Penyebabnya beragam, bisa jadi dia sakit terus-menerus atau asupan makannya tidak mencukupi. Yang sering terjadi adalah alasan yang kedua itu; pemberian MP-ASI yang tidak adekuat.

Kasus yang sering saya temui, banyak sekali ibu yang masih saja mengandalkan ASI saja meskipun bayinya sudah lebih dari 6 bulan usianya. Kalaupun ngasih makan, seringnya tidak cukup dan tidak beragam. Ini sering banget terjadi, terutama pada mereka yang tingkat ekonomi dan pendidikannya rendah. Wilayah kerja saya dulu memang sih, kebanyakan dari golongan itu.

Perlu diketahui, bahwa saat bayi berusia 6-11 bulan, ASI hanya memenuhi 50% kebutuhan gizinya. Kemudian memasuki usia 12-24 bulan, ASI hanya berkontribusi terhadap 30%-nya saja. Sehingga jelas sekali bahwa bayi perlu MP-ASI yang jumlahnya makin bertambah sesuai tahapan umurnya. Hal ini sudah saya singgung juga di tulisan mengenai MP-ASI.

Untuk mengukur apakah bayi/ anak mendapatkan makanan yang adekuat, telah ditetapkan indikator MPASI yang terdiri dari 8 indikator inti dan 7 indikator opsional.

Indikator inti tersebut adalah:

  1. Inisiasi Menyusu Dini,
  2. ASI eksklusif sampai usia 6 bln,
  3. Meneruskan ASI sampai usia 1 tahun,
  4. Mulai diberi makanan solid, semi-solid dan lunak,
  5. Minimum Dietary Diversity (proporsi anak 6-23 bulan yang menerima 4 atau lebih dari 7 kelompok makanan sebagai berikut:
  • Serealia dan umbi-umbian
  • Legum dan kacang-kacangan
  • Dairy products (susu, yoghurt & keju)
  • Flesh foods (daging, ikan, unggas dan hati/organ meats)
  • Telur
  • Buah dan sayuran kaya Pro Vitamin A
  • Buah dan sayuran lainnya

6. Minimum Meal Frequency (Proporsi anak 6-23 bulan yang diberi atau tidak diberi ASI, yang menerima makanan padat, semi – padat atau makanan lunak (termasuk pemberian susu untuk yang tidak diberi ASI) dengan frekuensi yang dianjurkan:

  • Untuk bayi yang diberi ASI:
    • Umur 6-8 bulan: 2 X/hari atau lebih
    • Umur 9-23 bulan: 3 X/hari atau lebih
  • Untuk bayi 6-23 bulan yang tidak diberi ASI: 4 X/hari atau lebih

7. Minimum Acceptable Diet (Proporsi anak 6-23 bulan yang menerima keduanya MDD dan MMF), dan

8. Konsumsi makanan kaya besi atau yang difortifikasi besi.

Sedangkan indikator opsional adalah:

  1. Anak pernah diberi ASI
  2. Meneruskan pemberian ASI sampai 2 tahun
  3. Pemberian ASI appropriate sesuai umur (age-appropriate breastfeeding)
  4. Predominan ASI pada bayi < 6 bulan
  5. Lama menyusui
  6. Pemberian makanan botol (bottle feeding)
  7. Frekuensi pemberian susu pada yang tidak diberi ASI

(Sumber: Programming Guide IYCF, UNICEF 2012)

Melihat banyaknya indikator tersebut, mucul pertanyaan dong; apakah semua indikator itu harus terpenuhi? Dengan melihat fenomena di masyarakat dan statistic di survey terbaru, yakin indikator itu akan tercapai? Apakah program-program pemerintah sudah mengakomodir semua indikator tersebut dan menyasar ke seluruh masyarakat?

Mungkin masih banyak pertanyaan yang muncul di benak kita. Sebelum menjawabnya, mari kita lihat terlebih dahulu bagaimana keadaan di lapangan.

Menurut Riskesdas 2013, 37.2% anak balita menderita stunting, 12 % menderita wasting dan 11.9% menderita overweight.

Statistic yang tidak menggembirakan. Di satu sisi kita belum berhasil menekan angka stunting, kegemukan sudah jadi masalah yang tak terbendung. Kemudian, karena ini adalah bahasan soal MPASI, yuk kita lihat bagaimana capaian MPASI berdasarkan indikatornya.

Data SDKI 2012 menunjukkan bahwa anak-anak umur 6-23 bulan yang mencapai pola konsumsi yang memenuhi diet minimal yang dapat diterima (MAD), masih sangat rendah yaitu 37%, yang merupakan kombinasi pencapaian keragaman makanan minimum (MDD) sebesar 58%, dan frekuensi makan minimum (MMF) sebesar 66%.  Pencapaian ini lebih jelek pada keluarga yang miskin, berpendidikan rendah, mereka yang tinggal di pedesaan dan anak-anak yang diberi ASI dibandingkan dengan yang tidak diberi ASI.

Di pihak lain, data SKMI 2014 menunjukkan bahwa asupan makanan bayi umur 7-11 bulan 95.8% adalah serealia, demikian juga anak umur 1-3 tahun, 98.5% makan serealia, sementara susu dan olahannya masing-masing 1.9 dan 0.9%.

Berbagai studi juga menunjukkan bahwa pemberian ASI dapat dijadikan pertimbangan dalam memberikan panduan untuk pemberian MPASI-nya. Hanya saja, status gizi wanita usia subur di negeri kita pun cukup memprihatinkan – yang jika menyusui dapat berpengaruh terhadap kualitas menyusui.

Proporsi wanita usia subur yang mengalami risiko kurang energi kronis dengan LILA < 23.5 cm antara tahun 2007 dan 2013 meningkat pada hampir semua kelompok umur, terutama pada kelompok umur 15-24 tahun. Sedangkan wanita usia subur yang stunting (TB < 150 cm) adalah 36.7 % dan yang anemia adalah 22.7%.

Itulah gambaran mengenai apa yang ada di negara kita. Agak OOT, saya pingin membandingkan posisi Indonesia diantara negara-negara di dunia. Bukan biar kita makin miris ya, tapi mudah-mudahan justru bisa memacu kita untuk berupaya lebih gigih lagi.

Berikut saya ambilkan data langsung dari Global Nutrition Report 2014.

stunting.jpg

stunting (Indonesia yang diblok)

everweight.jpg

overweight (Indonesia yang diblok)

overlapping.jpg

overlapping antara stunting, overweight, & wasting

Saya yakin temen-teman mampu menyimpulkan apa yang disampaikan laporan tersebut menyoal posisi negara tercinta. Kita masih banyak PR, yah! Semangat 🙂

Mari kita akhiri dulu pembicaraan kita di part ini. Selanjutnya, saya akan share tanggapan beberapa organisasi profesi menyoal MPASI di part #3.

 

 

 

Advertisements

[Polemik Susu Formula] #1 ASI yang Tak Tergantikan

sf2

generasi masa depan

Sebelum lebih jauh berbicara soal susu formula, saya ingin sedikit menyampaikan mengenai pemberian makan yang tepat untuk bayi dan balita, yang mencakup sedikit cerita dari temuan saya sendiri di lapangan, informasi yang saya copas dari file rekomendasi beberapa organisasi profesi terhadap MPASI dan Resolusi World Health Assembly 2016, dan ditambah data dari berbagai sumber resmi.

Bagian ini – anggap aja – baru pengantar, meskipun bakal lumayan panjangnya, hehehe.

Saya kira kita semua sepakat sekali bahwa untuk bayi baru lahir hingga dia berusia 6 bulan, ASI Eksklusif adalah yang terbaik dan tak tergantikan oleh makanan apapun. Akan tetapi, ada beberapa kondisi yang mengakibatkan si ibu tidak mampu memberikan ASI-nya keada bayinya sendiri. Jika ini terjadi dan tidak dapat ditemukan solusinya – misalnya dalam kasus ibu HIV positif – barulah dicari alternatifnya. Apa sajakah itu?

Pertama adalah ASI donor dari ibu lain yang memiliki bayi berusia sebaya dengan bayi tersebut. Inilah pilihan terbaiknya karena kandungan gizinya sesuai dengan kebutuhan si bayi. Jika itu tidak memungkinkan juga, opsi selanjutnya adalah ASI dari ibu dengan bayi yang usianya tak sama dengan si resipien. Kandungannya memang berbeda – karena kandungan ASI itu Allah atur sehingga sesuai dengan kebutuhan bayi pada umurnya – tetapi itu tetap lebih baik karena masih ASI juga, bukan susu dari spesies lain.

Kemudian, ini sedikit keluar dari bahasan yak, tapi masih sangat relevan, bagaimana cara pemberiannya? Ini dia praktek yang seringkali salah dilakukan oleh ibu-ibu yang kebanyakan memilih dot untuk memberikan ASI ke bayinya. Penggunaan dot ini dapat menyebabkan bayi ‘bingung putting’ yang dampak buruknya dia bakal ngga bisa menyusu ke ibunya lagi. Yang direkomendasikan itu adalah menggunakan cangkir kecil. Cara meminumkan ASI perah pada bayi dapat dilakukan dengan memiringkan gelas hingga bibir bayi menyentuh ke permukaan ASI. Bayi kemudian akan megecap dan mnenghisapnya. Ketika hal ini sudah terjadi, sedikit demi sedikit gelas dapat dinaikkan agar bayi dapat meminumnya.

Kembali lagi ke alternative tadi ya. Yang sering banget terjadi adalah ibu tidak begitu teredukasi mengenai ASI donor ini atau kesulitan gimana cara mendapatkannya jika kebetulan tidak ada saudara atau kenalan dekat yang bisa dipercaya dan dimintai tolong. Kalau ini yang terjadi, peran tenaga kesehatan menjadi sangat strategis. Buat ibu-ibu, pilihlah tenaga kesehatan (bidan, dokter, dsb.) yang sudah paham soal ini. Karena kenyataannya, tidak semua dari mereka itu tahu atau mungkin tahu sebagian tetapi sikap mereka memang tidak pro-ASI.

Ilmu soal ASI secara mendalam memang tidak masuk dalam kurikulum pendidikan mereka. Saya tahu ini bukan asal-asalan, tetapi ini adalah pernyataan dari fasilitator pelatihan konselor menyusui saat saya jadi salah satu pesertanya dan dari temen-temen peserta lain yang merupakan tenaga kesehatan itu.

Permasalahan lebih parah lagi dapat kita jumpai di wilayah terpencil atau pedesaan dimana – pada umumnya – para ibu itu tidak tahu soal ini dan tenaga kesehatannya pun – kebanyakan – juga tidak peduli. Bahkan, mereka ‘jualan’ susu formula. Kalau ada sedikit masalah saja, langsung deh disaranin pake susu X saja, belinya di warung Y. Ini satu contoh nyata yang saya temui di lapangan. Miris.

Jika itu kejadiannya, saya kira ini jadi tugas tenaga kesehatan setempat lainnya yang masih peduli agar praktik yang demikian tidak dilestarikan. Lebih bagus lagi jika dinas terkait juga turun tangan untuk menegur stafnya. Saya tahu ini tidak mudah untuk dilakukan, terutama saat ada banyak pihak yang ‘bermain’ memperjuangkan kepentingannya. Tapi, saya tetep yakin, diantara kita masih banyak yang peduli soal ini. Insya Allah.

Kabar baiknya, jika melihat rentang waktu pemberian ASI, SDKI 2012 menujukkan bahwa rata-rata lama menyusui di Indonesia termasuk panjang, yaitu 21.5 bulan, dan lebih lama lagi pada mereka dengan pendidikan rendah. Jadi, terlepas dari yang saya paparkan tadi, masalah lebih luas dan lebih seriusnya ada di pasca 6 bulan atau MPASI yang akan kita telaah di bahasan selanjutnya disini.

Masa Depan Mereka ada di Meja Makan Kita

eat-healthierGenerasi anak dan cucu kita diprediksi akan memiliki angka harapan hidup sepuluh tahun lebih muda dari kita. Salah satu faktor pencetusnya adalah pola makan ala fast-food cs yang semakin popular dan dicintai sebagian besar kalangan. Di negara maju, USA contohnya, 75% penduduknya mengalami overweight (gemuk) dan obese (sangat gemuk). Tak hanya negara maju, fenomena ini sudah menjalar ke negara berkembang, bahkan juga negara tertinggal. Indonesia, dari tahun ke tahun, prevalensi obesitasnya semakin naik dan menjadi beban baru. Masalah gizi yang tadinya ‘hanya’ gizi buruk, sekarang bertambah dengan fenomena gizi lebih.

Mungkin kita terlalu paranoid dengan berita pembunuhan yang semakin sadis yang dipertontonkan oleh kebanyakan media belakangan ini. Akan tetapi, kita lupa bahwa silent killer yang berkelanjutan, dan terstruktur, ada di sekitar kita, di meja makan kita sendiri!

Negara-negara maju dan lainnya seperti India dan China sedang memerangi masalah serius akibat obesitas dan kualitas kesehatan yang buruk. Penyakit terkait pola makan dan gaya hidup semakin membebani negara karena menghabiskan biaya yang nilainya terus meninggi.

Ijinkan saya menyampaikan kisah nyata yang mungkin belum terjadi di sekitar kita, tapi sangat mungkin akan terjadi. Irna lahir dan besar di sebuah keluarga yang normal. Dia adalah generasi ketiga dimana dia sendiri tidak pernah diajarkan bagaimana cara memasak baik di rumah maupun di sekolah. Keluarganya, semuanya obesitas. Adiknya yang baru berusia 12 tahun tetapi beratnya sudah hampir 100 kg. Tentu saja dia dibully di sekolahnya. Adiknya perempuannya, Arin, bahkan sudah obese sebelum masuk sekolah dasar. Ayahnya, yang juga obese, meninggal karena keadaannya itu. Dan sekarang, ayah barunya pun memiliki postur yang tak berbeda.

Kita sudah bisa membayangkan kelanjutan ceritanya. Saya ingin mengajak teman sekalian untuk melihat bahwa obesitas dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan makanan itu tidak hanya berdampak pada si penderita, tetapi keluarga, teman, kakak, dan adiknya juga ikut merasakan penderitaan dan kesedihannya.

Di era globalisasi ini, kedai-kedai penjual makanan cepat saji memiliki jaringan yang sangat luas di seluruh penjuru dunia, perkembangannya pun sangat pesat. Sejalan dengan fenomena manusia modern yang lebih memilih mengkonsumsi makanan itu dengan beragam alasan. Anak-anak dan remaja pun sangat menyukainya, karena rasanya yang enak atau agar terlihat keren, mungkin.

Sekarang coba kita amati supermarket. Jumlahnya sudah tak terhitung kalau di kota besar, dan di kota kecil, keberadaannya sudah menggeser pasar tradisional sebagai tempat berbelanja favorit. Ya, sebagian dari mereka adalah korporasi besar yang menyediakan segala kebutuhan manusia dari A sampai Z, termasuk makanan dan minuman kemasan.

Sebagian besar makanan yang kita konsumsi sudah melalui proses termasuk penambahan berbagai bahan, seperti pengawet, pewarna, penyedap, dan seterusnya. Kemasannya pun sangat menarik; berisi gambar dan keterangan yang mampu menyihir sebagian dari kita untuk membelinya. Bagi yang peduli dengan kandungannya, mungkin akan tergiur karena disitu tertulis low fat. Sayangnya, kebanyakan lupa bahwa makanan berlabel rendah lemak itu isinya juga penuh dengan gula. Jarang ada yang berpikir bagaimana mungkin makanan itu benar-benar rendah lemak kalau kandungannya penuh dengan gula! Umumnya, label memang membantu, tetapi saya ragu dengan kejujuran informasinya.

Berikutnya, saya ingin mengajak teman-teman sekalian untuk ke sekolah. Mengapa sekolah? Apa pentingnya melihat sekolah ketika sedang berbicara pola makan?

Sekolah adalah tempat dimana anak menghabiskan sebagian besar harinya, mereka belajar, bermain, dan tentunya makan! Atau dengan istilah lain, jajan. Meskipun terlihat sepele, sebenarnya ini penting karena makanan yang mereka pilih itu adalah sumber sebagian besar kalori hariannya. Terlebih jika jam sekolah lebih panjang, hingga sore atau bahkan malam baru kembali (karena ada kelas tambahan atau ekstrakurikuler). Di semua belahan dunia, jajanan anak di sekolah sebagian besar tidak sehat, kandungan gizinya tidak proporsional, sering bermasalah dengan higienitas, bahkan ada kasus penggunaan pewarna atau zat adiktif lain yang tidak diijinkan.

Lalu bagaimana dengan susu, elemen yang pernah disebut sebagai penyempurna menu kita. Saya yakin teman-teman masih ingat dengan 4 sehat 5 sempurna, kan?

Meskipun tingkat konsumsi susu di Indonesia relatif rendah, kenyataannya banyak anak-anak yang terbiasa minum susu sejak balita hingga remaja. Susu juga menjadi minuman wajib bagi beberapa kalangan orang dewasa maupun manula yang diet dengan tujuan tertentu. Intinya, susu merupakan minuman yang sering nongkrong di meja makan.

Pada dasarnya, saya tidak menganggap kalau minum susu itu benar-benar tidak baik, bukan begitu. Namun, pernahkan kita berpikir bahwa kenyataannya memang ‘bisa jadi’ itu tidak baik?

Hampir mirip dengan uraian tentang makanan/ minuman tadi, susu yang beredar saat ini sudah termodifikasi; memiliki rasa dan warna yang beraneka ragam. Tentu saja itu karena sudah diberi perasa, pewarna, pemanis yang jumlahnya kita tak tahu dengan pasti. Semakin menarik warna dan kemasannya, semakin beragam pilihan rasanya, didukung dengan gencarnya iklan di media, tak terhindarkan jika semakin banyak pula anak-anak yang meminumnya. Sebagian besar orang tua pun tidak berpikir panjang terkait hal ini karena sudah sangat yakin yang namanya susu pasti sehat!

Sebenarnya masih panjang jika topik ini diteruskan. Saya kira itu cukup mewakili, dan selanjutnya, mari kita cermati kaitan antara kebiasaan makan dengan masa depan J

Gaya hidup modern sudah terbukti membawa berbagai perubahan, termasuk munculnya permasalahan akibat pola makan tidak sehat yang negara industri/ maju sudah mengalaminya. Negara berkembang dan tertinggal pun tak bisa menghindarinya. Lantas, bagaimana dengan masa depan? Optimiskah bahwa kita punya peluang untuk memperlambat laju perubahan yang negatif atau bahkan menghentikannya di suatu titik? Saya sendiri percaya bahwa masyarakat global banyak yang peduli dengan permasalahan ini. Pemerintah dan organisasi multinasional sudah menyusun berbagai rencana kerja yang menyasar permasalahan ini, salah satunya melalui Sustainable Development Goals.

Itu inisiatif dari mereka. Bagaimanakah dengan kita?

Setiap insan berhak menentukan gaya hidup yang akan dijalaninya; apakah mau makan teratur atau seenaknya, membeli makanan penuh zat pengawet, pewarna, perasa, dan kawan-kawannya atau masak sendiri. Kita bebas menentukan hidangan di meja makan rumah kita. Jika boleh saya berpendapat, akan lebih baik jika kita lebih peduli lagi dengan hal ini, karena meskipun tidak terlihat langsung dampak serius, beragam kerugian yang nyata dan berkelanjutkan di jangka panjang sudah terbukti jadi konsekuensinya. Dengan kepedulian kita ini, setidaknya kita sudah mewariskan gen dan kebiasaan baik untuk anak cucu kita nanti.

“Demi masa depan generasi penerus bumi ini, menerapkan pola makan yang seimbang adalah sebaik-baik investasi.”

 

Artikel ini terinspirasi dari satu video di TED.com

Gambar

Sexual and Reproductive Health and Rights in Sustainable Development Goals.part1

eu-röstningSexual and Reproductive Health and Rights (SRHR) is a human right which related to sexual and reproductive health. So, by carrying the definition of right, health, reproductive, and sexual (sexuality), SRHR means that everyone should be able to have a responsible, satisfying and safe sex, and all couples and individuals have the right to decice how many children they have and when (family planning). It also means that they get the relevant information, services, and contraceptives to do this safely. They should also have the right to decide when they have sex, free of discrimination, coercion or violence[1].

Sustainable Development Goals is the 8 goals of Millenium Development Goals broken-down in 17 goals and 169 targets which will stimulate action over 15 years in areas of critical importance for humanity and the planet. Connecting SDGs with SRHR, I found there are 3 goals which have strong correlation with SRHR issues. They are goal 3. 7 (By 2030, ensure universal access to sexual and reproductive health-care services, including for family planning, information and education, and the integration of reproductive health into national strategies and programmes), goal 4. 7 (By 2030, ensure that all learners acquire the knowledge and skills needed to promote sustainable development, including, among others, through education for sustainable development and sustainable lifestyles, human rights, gender equality, promotion of a culture of peace and non-violence, global citizenship and appreciation of cultural diversity and of culture’s contribution to sustainable development), goal 5.2 (Eliminate all forms of violence against all women and girls in the public and private spheres, including trafficking and sexual and other types of exploitation), and 5.6 (Ensure universal access to sexual and reproductive health and reproductive rights as agreed in accordance with the Programme of Action of the International Conference on Population and Development and the Beijing Platform for Action and the outcome documents of their review conferences)[2].

264ac62ef8dd50685bf879bbcbfba2ff-450x0

The new sustainable development agenda

Analizing SRHR in SDGs, it is good that there are some goals which can be related to SRHR and some of them explicitly mention “sexual and reproductive health” and “reproductive rights”.

It would be better if “sexual rights” is also mentioned so that all aspects of SRHR will become fully equipped. Since SDGs still have no determined the indicators yet, I will give my opinion based on the list of indicator proposals published on 11th August 2015[3]. For goals 3.7, there are 2 suggested indicators (adolescent birth rate and demand satisfication with modern contraceptives). I suggest 2 indicators to be added. Firstly, proportion of primary health facilities that provide essential SRHR service with capable health workers to deal the service. I think it is important because primary health facility is the first facility accessed in the first time. Correlated to the first one, adolescent knowledge about SRHR is also an important indicator. In rural and remote area, primary health service has strong roles to promote SRHS in community. Then, goals 4.7, I think we need to know the proportion of school that has SRHR intergratedly in curriculum for student in the age of 10-18 years. In order to fulfill rights in education, indicator of percentage of school accepting student having marriage experience, unwanted pregnancy, and other condition related to SRHR is also important. Goals 5.2 has 2 suggested indicators. I do agree with both of them, but it will be better if they also address boys because boys also can become victims. The last is goal 5.6. The suggested indicators of the document I think are enough. The goal itself is also good because it refers to the related conferences.

[1] International Planned Parenthood Federation. “What does sexual and reproductive health and rights mean?” http://www.ippfsaro.org/sites/ippfsaro/Pages/SRHRFAQs.aspx (6th October 2015)

[2] United Nations. “Sustainable Developments Goals”. https://sustainabledevelopment.un.org/?menu=1300 (6th October 2015)

[3] United Nations. “List of Indicator Proposals (11 August 2015)”. http://unstats.un.org/sdgs/iaeg-sdgs/open-consultation.html. (6th October 2015)

Picture taken from http://www.ottar.se/artiklar/ett-viktigt-verktyg-f-r-srhr-inom-eu and http://www.unisdr.org/archive/45308

[Dasar-dasar Pentingnya MP-ASI.part2] Bagaimana jika sebelum atau setelah 6 bulan?

cute!Seperti yang tertulis di artikel sebelumnya, MP-ASI sebaiknya diberikan saat bayi berusia 6 bulan. Terus biasanya muncul pertanyaan, “Gimana kalau dikasihnya sebelum 6 bulan?” Ibunya udah kebelet banget kasih dia MP-ASI, udah rajin browsing aneka kreasi MP-ASI yang unyu-unyu di internet, neneknya juga udah nyuruh banget biar cucunya segera dikasih makanan, udah nangis mulu kali aja dia laper/ ASI-nya ngga nyukup lagi, dan alasan lainnya.

Ada banyak risiko jika pemberian MP-ASI dilakukan sebelum bayi berusia 6 bulan, yaitu sebagai berikut.

  1. Menggantikan ASI sehingga kebutuhan gizi anak tidak tercukupi. Saat bayi diberi makanan lain, tentunya lambung dia akan penuh/ merasa kenyang. Hal ini menyebabkan intensitas menyusu (ASI)nya berkurang. Ketika menyusunya sudah tidak sering lagi, tentu produksi juga akan berkurang. MP-ASI yang dia makan juga belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya karena sistem pencernaannya belum siap (beberapa kasus malah menyebabkan diare pada anak). MP-ASI yang tidak dapat diserap dan gizi dari ASI yang berkurang menyebabkan kebutuhan bayi tidak tercukupi.
  2. Asupan gizi yang rendah dari MP-ASI.
  3. Meningkatkan risiko diare. Ada dua alasan kenapa bisa terjadi diare, MP-ASI yang diberikan tidak sebersih dan tidak mudah dicerna seperti ASI.
  4. Bayi mudah sakit karena lebih sedikit mengkonsumsi ASI dimana ASI mengandung zat antiinfeksi.
  5. Meningkatkan risiko alergi karena bayi belum dapat mencerna dan menyerap makanan dengan baik
  6. Meningkatkan risiko ibu untuk hamil lagi bila ASI jarang diberikan.

Terus lagi, jika yang terjadi adalah kondisi yang sebaliknya; terlambat memberikan MP-ASI, how? Ternyata ada juga risikonya lho ya. Check this out!

  1. Anak tidak mendapatkan tambahan makanan yang mencukupi kebutuhan untuk pertumbuhannya. Seperti yang sudah kita bahas kemarin ya, kalau setelah 6 bulan ASI hanya memenuhi 50% kebutuhan bayi jadi jelas perlu banget MP-ASI.
  2. Pertumbuhan dan perkembangan anak lebih lambat.
  3. Anak tidak mendapat zat-zat gizi yang cukup untuk mencegah kekurangan gizi lain seperti anemia karena tidak cukup zat besi.
  4. Anak menolak saat diberi MP-ASI karena tidak mengenal aneka ragam makanan.

Sepertinya sampai disini dulu ya untuk part2-nya… Next time kita lanjut lagi tentang MP-ASI. See u 🙂

Referensi = part1

Gambar dari http://i.ytimg.com/vi/kPKJzoU9QpE/maxresdefault.jpg

Dasar-dasar Pentingnya MP-ASI.part1

117984555Kali ini saya mau share sedikit dari pelatihan yang saya ikuti beberapa hari yang lalu. Materi ini berasal dari Perinasia, mereka yang menjadi fasilitator adalah temen-temen dinas dan senior saya di lapangan. Okey, buat yang sempet mari kita simak guys!

Kalian semua pastinya udah tau dong kalau MP-ASI itu diberikan setelah bayi berusia 6 bulan? Kalau ASI? Itu juga pasti bukan hal yang baru ya kalau ASI eksklusif sampai 6 bulan kemudian dilanjutkan hingga 2 tahun (lebih). Kira-kira petuah itu asalnya darimana ya? Ada yang tau? Mungkin temen-temen ada yang tahu dari bu bidan, bu dokter, pak dokter, atau iklan (hehe… iklan geng). Apapun itu, scientifically, itu adalah bunyi dari rekomendasi WHO/ UNICEF 2002 yang sebenarnya ada 4 point, yaitu IMD, ASI Eksklusif, MP-ASI yang tepat sejak usia 6 bulan, dan melanjutkan ASI hingga usia 2 tahun/ lebih.

Kali ini, marilah kita sedikit bercakap mengenai dasar-dasar pentingnya MP-ASI.

Bayi dan anak yang mendapat ASI sampai usia 2 tahun/ lebih akan tumbuh kuat dan sehat serta berkembang dengan baik.

Hingga bayi berusia 6 bulan, ASI sudah memenuhi seluruh kebutuhannya, mulai dari energi, zat gizi, bahkan zat-zat lain yang hanya diperoleh di ASI seperti antibodi yang melindungi bayi dari berbagai ancaman infeksi. Selain itu, memberikan ASI (menyusui) juga memiliki segudang manfaat untuk ibu dan bayi, sebagai contohnya mempererat kasih sayang antara ibu dan bayi. Manfaat lainnya masih banyak, monggo dicari e kalau temen penasaran. 🙂

Pada bayi usia 0-6 bulan ASI sudah memenuhi 100% kebutuhan gizinya, kemudian di usia 6-12 bulan ASI masih memenuhi 50%-nya, dan menginjak usia 12-24 bulan ASI hanya memenuhi 30% kebutuhan gizi. Oleh karena itu, bayi membutuhkan MP-ASI sejak usia 6 bulan, kemudian di usia selanjutnya dengan pola yang berbeda.

Lalu bagaimana pola yang tepat itu? Sebelumnya kita perlu tau dulu nih MP-ASI yang tepat itu yang bagaimana seh. Yapp, MP-aSI yang tepat adalah makanan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi sehingga bayi/ anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. MP-ASI diberikan secara bertahap sesuai dengan umur anak, mulai dari MP-ASI jenis lumat, lembik, sampai makanan keluarga. And the most important thing, pemberian ASI jugaterus dilanjutkan sebagai sumber zat gizi dan faktor pelindung penyakit sampai anak berusia 2 tahun/ lebih. Ringkasnya kaya gini ya.

Usia (bulan)              Makanan

0-6                            ASI

6-8                            ASI + makanan lumat

9-11                           ASI + makanan lembik

12-24                         ASI + makanan keluarga

Ada makanan lunak, lembik, makanan keluarga, apa itu maksudnya ya? bedanya apa? hehe… terus kalau dikasih MP-ASI yang beli di toko itu bagaimana ya? atau kalau kita buat dari tepung yang ada rasa macem2 itu bisa kah? Terus kalau misal belum usia 6 bulan kita kasih makanan lain bagaimana ya? di beberapa tempat itu sudah biasa dilakukan dan bayinya anteng-anteng saja.

Penjelasan mengenai itu nanti dulu ya guys.. Kali ini stop sampai disini dulu. 🙂

Rujukan:

PERINASIA. 2015. Bahan Bacaan: Manajemen Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). Jakarta.

http://www.who.int/nutrition/topics/infantfeeding_recommendation/en/

http://www.gettyimages.co.uk/detail/photo/parents-feeding-baby-girl-royalty-free-image/117984555 (gambar)