Perburuan Letter of Acceptance

Setelah kembali bertekad untuk lanjut sekolah (dimana sebelumnya sempet galau), saya mencari informasi sebanyak-banyaknya bagaimana persiapannya, mana yang dilakukan lebih dulu. Jujur saat itu saya masih belum fix dengan jurusan yang mau saya ambil. Pertama, jika mau kembali ke rencana awal (yang dibuat waktu masih kuliah S1) saya harus tetap mengambil Public Health Nutrition (PHN), dengan spesialisasi sesuai keinginan saya sekarang, yaitu child malnutrition program implementation in community level. Kalau untuk jurusan ini, pilihan terbaik menurut saya adalah Nutrition for Global Health di London School of Hygene and Tropical Medicine, Clinical and Public Health Nutrition di UCL, atau bisa juga ke beberapa universitas lain di USA dan Aussie. Saya nemu beberapa yang cukup oke. Kedua, ternyata setelah bekerja di NGO ini saya mulai tertarik untuk tetap di sector ini, sehingga sempat berikir untuk ambil Global Health and Development. Kala itu temen bilang kalau mau ambil itu mending ke UCL.

Setelah berpikir cukup lama, bahkan saya sempet tanya dan konsultasi dengan pakar – yang kontaknya saya temukan di forum-forum gitu, saya kirim email dan ternyata dibalas! – beliau menyarankan saya untuk tetap di PHN, tidak perlu ambil Global Health karena itu terlalu luas cakupannya. Saya setuju dengan saran itu, dan bener juga sih kalau ambil PHN, pilihan ke depannya makin luas. Jadilah saya ambil PHN dan rencananya akan focus ke bidang yang saya minati juga.

Selanjutnya adalah beasiswa. Yang muncul di benak saya saat itu adalah LPDP dan Chevening. Kalau LPDP jelas ya alasannya, itu bisa ke negara mana aja asal ada di list tentunya. Dan kenapa Chevening? Kalau ini, alasan yang sebenarnya adalah karena saya ingin ambil di UK jadi bisa selesai lebih cepat, mengingat saya sudah bukan fresh graduate lagi, hehehe. LSHTM saat ini berada di urutan ke-6 atau kalah dari 5 universitas di USA (padahal tahun lalu cuma kalah dari Harvard & Hopkins), tapi di UK masih yang pertama sih :). Ohiya, itu bukan peringkat overall ya, melainkan untuk Public Health & Social Science-nya, menurut sumber ini.

“Aim for the moon. If you miss, you  may hit a star.” – W. Clement Stone

Namun demikian, pertimbangan utama saya sih sebenarnya bukan soalan peringkatnya, tapi lebih ke matkulnya ini yang emang gue banget, hehe. Kesimpulannya, LSHTM fix jadi pilihan pertama saya.

Eits, ternyata setelah saya cermati lagi, itu tidak masuk di list LPDP. Artinya ada dua hal yang bisa saya lakukan: pertama, daftar Chevening atau LPDP tapi harus cari univ lain dulu (nantinya bisa mengajukan pindah). Karena ini judulnya perburuan LoA, disini saya cerita soal itu aja, untuk LPDP saya sudah tulis beberapa waktu lalu.

Untuk mendaftar uni, ada beberapa hal yang perlu kamu siapkan, dan bisa jadi tiap uni beda persyaratannya, so penting banget buat tahu detail dan pretelannya. Saya baru daftar di LSHTM dan UCL, tetapi saya ngga perlu cerita super detail ke persyaratannya ya, ini bisa kalian liat di website uni-nya, sangat lengkap kok disana, bahkan jika masih mau nanya, bisa email ke admission-nya. Saya pingin cerita soal personal statement dan CV-nya aja yes, sedikit soal reference. Hal-hal itu disiapkan dulu sebelum mau daftar online, sama passport jangan lupa (tapi saya yakin temen-temen sudah pada punya ini, cuma saya aja yang udik, baru bikin passport pas mau daftar uni, hehe). Kalau udah punya IELTS dan beasiswa lebih keceh lagi!

Personal Statement

Ada beragam saran untuk menulis PS ini, kalian bisa baca di internet, buanyak sekali website yang mendedikasikan dirinya untuk membantu para pelamar uni maupun scholarship dalam menuliskan dokumen penting ini, ada juga jasa mengoreksi yang berbayar. Saya cuma sempet baca dos and donts nya di website itu, cukup membantu, tetapi ngga coba yang bayar2 hehe. Selain website, boleh juga kita download contoh-contoh yang ada di internet, hanya perlu dipastikan sumbernya, yo. Dan ngga perlu kepatok persis juga. Menurut saya itu cukup membantu dan memberi insight pada cara penulisan maupun alur yang dipakai. Opsi selanjutnya, kalian bisa juga minta proof-reading sama temen atau senior yang kalian percaya.

Dari pengalaman saya, yang paling penting dalam penulisan PS adalah pastikan PS itu mengakomodir semua pertanyaan yang diajukan di form pendaftaran uni nya. Meskipun sebagian besar hampir sama, bisa jadi ada yang beda, tho. Alhamdulillah, di kasus saya ini mirip banget, jadi saya cuma bikin satu, tapi kemudian diedit untuk disesuaikan dengan apa yang menjadi ciri khas uni nya – program  studi sih terutama – karena memang tidak begitu mirip.

Setelah baca panduan pertanyaan, dos and donts, dan beberapa contohnya, saya nulis PS pertama saya yang 2 halaman. Saya kemudian minta tolong ke teman dan senior yang kuliah di UCL dan LSHTM untuk proof-reading. Alhamdulillah, saya dapat beberapa masukan, soal panjang PS, pemilihan pengalaman kerja yang dimuat, dan tentu grammar. Mereka tidak mengubah atau menyarankan secara langsung dengan mengedit isi PS-nya (kecuali beberapa terkait grammar), lebih ke masukan secara garis besarnya gitu.

Kedua proof-readers saya tidak memiliki saran yang 100% match, wajar juga sih, kayak ginian mah ngga ada yang baku sehingga pada akhirnya tetep kita yang harus mengeksekusinya. Akan tetapi, saya tetep melihat apa yang mereka sampaikan sangat membantu karena draft pertama saya memang masih sangat belum ok. Sangat logis deh saran mereka sehingga saya tidak pusing untuk merevisinya.

Setelah itu, saya merombaknya menjadi 1 halaman dan diedit bagaimana bisa selesai dibaca dalam 1 menit tapi bisa membuat kita distinct dari pendaftar lainnya. Why? karena pendaftar itu sangat banyak, terutama untuk uni2 favorit, dan tentu lelah yang nyeleksi, bakal jenuh juga jika PS nya panjang, udah gitu ngga ada yang unik. Ini saran dari senior saya, dan saya sangat sepakat dengan itu. Untuk grammarnya, saya disarankan pake Grammarly oleh temen saya. Sebenarnya kesalahan grammar saya ngga parah-parah amat sih, tapi kadang bisa jadi masih suka typo atau masih pake cheap vocab, wkwkwk. Software ini cukup membantu, tapi tetep kita kudu punya bekal juga. PS final saya sebenarnya juga ngga bagus-bagus amat sih, apalagi kalau saya baca sekarang, vocab-nya masih cetek banget, tapi saya cukup puas sih, setidaknya sama kontennya.

Curriculum Vitae

CV atau kalau di US sering disebut resume’ ini juga ngga kalah pentingnya dari PS, karena PS ngga mungkin bisa mengakomodir semua muatan masa lalu kita (aka CV), and vice versa, ada beberapa aspek di CV yang yang tidak bisa dimuat disitu, karena tidak sesuai, tetapi penting, itu bisa masuk di PS. Intinya, keduanya saling melengkapi, layaknya jodoh, ngga harus sama.

Sama seperti nulis yang lain-lainnya, saya tetep butuh referensi. Lagi-lagi, banyak website yang bisa ngebantu kita, termasuk di blog para senior. Saya memilih menulis CV pake format Europass dalam 2 halaman. Waktu saya minta proofreading PS, saya juga menyertakan CV untuk dibaca dan mungkin perlu diperbaiki. Alhamdulillah untuk CV saya tidak perlu mengeditnya, hanya beberapa penyesuaian penulisan karena waktu saya cek di Grammarly, saya masih campur aduk antara British sama American untuk spelling-nya. Wkwkwk.

Dua lembar bagi saya itu sudah cukup karena saya baru bekerja di 3 tempat setelah lulus, dan achievement saya selama kuliah itu ngga ada yang outstanding, jadi ngga ada yang termuat, hehe. Yes, I was just a very ordinary student. *eh jadi curhat. Oke gakpapa, karena #CVhanyamasalalu #oke.

Terkait panjang CV, ini sebenarnya juga ngga ada bakunya, seperti PS. Saya milih 2 lembar karena buat saya lebih baik simple aja, asal isinya linier dan mendukung jurusan yang mau diambil. Temen saya ada yang pake CV berlembar-lembar tapi dia lolos juga. So, there is no a fix guide for that, you decide 🙂

Rekomendasi

Hmmm, sebenarnya saya ngga pantas cerita banyak soal referensi karena saya meskipun mencantumkan dua referees (sesuai permintaan uni), saya dapat offer sebelum kedua referees saya mengisi form reference yang dikirimkan langsung oleh uni ke email beliau langsung. Dan sampai sekarang saya juga belum meminta beliau untuk menindaklanjuti perihal referensi ini. Ini karena alasan jarak saja (saya tidak begitu dekat dengan dosen, dan merasa kurang pantas jika hanya by phone, sampai sekarang belum kontak lagi), dan waktu itu saya sebenarnya ngga mau urus lagi karena toh saya akan mulai kuliah 2017, dan ini aplikasi buat 2016. Pikirnya, nanti aja apply langsung buat 2017.

Saya tidak menyarankan temen-temen untuk mengabaikan referensi, ini cuma case saya aja, karena menurut saya, referees tetap penting sekali untuk mendukung aplikasi uni kita. It is not good to make a hasty decision like me, being inconsistence and not finishing the process.

Terus kalau emang ngga mau urus sampe selesai, kenapa dulu saya memutuskan untuk apply uni dan defer ke 2017? Itu karena saya waktu itu kurang percaya diri untuk bisa sekolah di LN, apalagi kampus2 top. Dalam rangka meningkatkan rasa PD, saya coba apply yang nothing to lose ini. Dan pada akhirnya dapet, itu cukup berguna banget pas mau daftar beasiswa, bisa nambah PD. May be this is such a cheesy thing! But it works somehow 🙂 Buat temen-temen, mungkin ngga perlu se-lebay kaya ini sih, ini saya nya aja yang ngga PD-an emang, dan perlu melakukan sesuatu untuk mendongkraknya.

Btw, rekomendasi untuk uni mirip-mirip juga sama buat beasiswa, hanya saja kalau di uni yang saya coba apply ini memang mensyaratkan harus ada yang dari dosen, bahkan keduanya dosen pun boleh. Buat yang belum terlambat, baik-baiklah kalian dengan dosen J buat yang sudah terlanjur jauh kaya saya, mungkin bisa lah dijalin lagi silaturahminya.

Proses Pendaftaran Online

Saya mendaftar ke dua uni itu dalam satu waktu, tujuannya biar sekalian, karena kan datanya kurang lebih sama, bisa copas2 aja gitu, hehe. Alasan lainnya, karena saya di kampung banget, yang pas daftar ini pun harus ke kota dulu, cari wifi ke kantor Telkom. Jadi biar save time juga 🙂

Proses pendaftaran sama aja, tinggal buka websitenya, cari link buat daftar, bikin akun, lalu log in dan isi deh datanya. Sama jangan lupa siapkan dokumen yang perlu di-upload (PS, CV, passport, IELTS jika sudah ada, mungkin ijazah yang ditranslate- tergantung uni nya). Sebenarnya, proses pengisian data bisa dilakukan bertahap, mirip daftar LPDP, bisa save dulu sebelum submit. Akan tetapi, saya waktu itu langsung submit, karena prinsip saving tadi hehe.

Proses Deferring Offers

Seperti yang saya singgung, saya apply untuk 2016, tapi gak bisa kuliah di 2016 (belum dapet beasiswa dan belum test IELTS – masih conditional offer-nya). Oleh karena itu, saya mengajukan deferral ke dua uni itu. Semuanya by email, responnya agak lama sih, cuma saya sabar aja, toh saya ngga buru-buru juga, hehe. Di samping itu, kan emang admission lagi sibuk-sibuknya, jadi ini memang sangat wajar jika responnya agak lama. Kalau ngga mendekati September, biasanya responnya cepet banget.

Saat pengajuan defer, yang perlu dilakukan simple banget, tinggal email aja, kemukakan maksudnya – mau defer, jangan lupa sertakan alasannya. Di LSHTM cuma by email aja. Nanti kalian akan dikirimi lagi LoA yang deferral itu. Jangan lupa baca dengan detail isi offering letter-nya karena bisa jadi mereka ada beberapa kesalahan data, misalnya saya waktu itu ada salah deadline submit conditions-nya (harusnya 2017 tetapi tertulisnya 2016). Tapi tenang aja sih, admission officers-nya baik-baik kok, mereka juga ngingetin kita soal ini, udah gitu responnya cepet juga. Saya waktu itu bela-belain deng balas email tengah malam biar cepet direspon (beda 7 jam cyin ama WIB).

Saya ada 3 conditions yang kudu dipenuhi buat dapet unconditionalnya: financial evidence, bachelor certification, and english requirement. Saat ini, tinggal yang  terakhir aja nih, masih belum cukup nyali buat tes karena terakhir ambil prediction masih 6.5 atau kurang 0.5 baik writing maupun overall band yang mintanya 7.

Kalau UCL, deferral sama juga, by email. Hanya kita juga bisa buka akun kita (akun pas daftar) untuk ngeliat status pendaftaran, kita juga bisa klik defer disitu. Tapi tetep kita disuruh kontak admission by email for the deferral. Oiya, ada yang kelupaan, untuk UCL itu ada admission fee-nya, lumayan mahal (hiks) dan bayarnya pake kartu kredit. Mungkin karena bayar ya, saya bahkan dikirimi hard copy offer letter-nya by post. Hahaha.. dapet surat dari London, heboh kali ya di kantor kelurahan ada kiriman dari London, wkwkwk.

Sekitar Januari 2017, saya dapet email reminder dari LSHTM soal offer letter saya. Adimission-nya juga ngasih updated info, termasuk – yang paling bikin saya bahagia – adalah ketentuan English language requirements-nya! Overall masih 7, tapi writing nya turun dikit jadi 6.5. Mereka juga nawarin kalau kita minta offer letter yang baru. Saya baru balas emailnya di awal Februari, minta a new offer letter, hehe. Sekitar dua hari kemudian, saya dapet LoA barunya.

Sekian dulu ya, insya Allah akan ada update-an untuk part ini karena masih on going, belum selesai, masih perlu submit beberapa dokumen yang belum lengkap (IELTS-nya). Terus saya juga belum tahu nanti akan fix dimana, mau ke LSHTM/ UCL yang berarti kudu ngajuin pindah ke LPDP, atau coba ke Tufts sesuai pilihan awal (siap-siap GRE) dan baru bisa intake 2018!

Apapun itu, tetep semangat dalam ikhiar terbaik dan doa yang tulus ikhlas 🙂

“Never give up, great things take time.”

Biar sayanya makin semangat, dua master candidates-nya ICL & UCL ngirimin ini , heuheu. Many thanks, ya Bella dan Rifqah 🙂

img_20170208_172351

alay pangkal bahagia,

 

Pengalaman Mengikuti Seleksi Beasiswa LPDP

lpdp

LPDP adalah beasiswa pascasarjana yang pertama kali (dan satu-satunya) saya coba. Ini bukan berarti saya sengaja banget ngga ngelirik beasiswa lain. Salah besar itu. Sebelum memutuskan akan mendaftar beasiswa yang mana dulu, saya lakukan research di internet baik itu di blog pemburu beasiswa ataupun ke wesite resmi dari beasiswa-beasiswa luar negeri. Hanya saja pada saat itu memang LPDP yang bisa saya daftar duluan.

Oiya, karena tujuan studi saya ke UK, saya juga mempelajari beasiswa ke sana, terutama Chevening. Bahkan saya sudah mendaftar ke situ di saat masa tunggu LPDP, hehehe. Siap-siap plan B aja kalau ngga lolos LPDP-nya. Dan karena akhirnya saya lolos LPDP, akun pendaftaran di Chevening yang baru saya isi data diri itu ndak saya teruskan.

Untuk memperbesar peluang, saya juga searching lagi alternative universitas yang bisa mengakomodir rencana belajar saya, mulai dari USA, Sweden, Netherland, Jerman, Aussie, Jepang, termasuk juga universitas dalam negeri. Pokoknya saat itu saya bener-bener mencari peluang beasiswa lain karena ada lembaga pemberi beasiswa untuk studi ke negara-negara tersebut. Akan tetapi, disitu saya baru sampai tahap baca-baca, belum beneran mempersiapkan berkas untuk pendaftarannya. Tapi lumayan juga sih, buat nambah pengetahuan juga, siapa tahu ada temen yang perlu informasi seperti itu J

Oke langsung saja ke LPDP-nya. Saya ngga bisa cerita banyak soal beasiswa lain karena saya belum pernah mencobanya. Tapi saya yakin banget, banyak blog teman-teman yang udah ngejelasin secara gamblang.

Pastikan sudah membaca segala persyaratan untuk mendaftar LPDP dan tahu jalur mana yang akan diambil.

Disini saya ngga akan bahas persyaratan dokumen dan segala macamnya, termasuk apa saja jenis beasiswa dan jalurnya. Itu sudah sangat jelas di website LPDP. Disini saya akan cerita mengenai pilihan universitas, surat rekomendasi, dan proses seleksinya – ditambah sedikit dramanya, hehe.

Saya mendaftar LPDP lewat Jalur Afirmasi untuk yang tidak mampu (TM). Ini mirip-mirip dengan jalur bidik misi sih pada intinya. Awalnya saya ngga ada rencana daftar lewat jalur ini karena ngga tau juga ada jalur ini, Taunya cuma bidik misi, dan saya bukan alumni bidik misi yang programnya baru mulai 2010, saya masuk kuliah 2009.

Awal banget dulu, saya sebenarnya pernah akan mendaftar jalur regular di batch 1 2016, tetapi tidak jadi karena saya nilai TOEFL saya kurang waktu itu, cuma 528 dan ngga mungkin test lagi karena waktu itu masih kerja di Flores (di Flores ngga ada test center, jadi kalau test harus nyebrang pulau plus butuh cuti, dan itu tidak mungkin juga karena jatah cuti saya sudah habis buat belajar toefl kilat 1 minggu). Padahal segala berkas lain sudah lengkap. Waktu itu cukup kesal sih, karena sudah cukup percaya diri bisa dapat 550 (waktu simulasi nilai saya sudah di range 550-580), tapi apa daya, manusia boleh berusaha, berspekulasi, tapi hasil akhir belum tentu sama dengan harapan maupun prediksi selogis apapun.

Salah satu persyaratan pendaftar Afirmasi TM adalah maksimal lulus 3 tahun pada saat deadline submit berkas. Deadline submit berkas untuk batch 3 2016 itu sebenarnya tinggal beberapa bulan lagi saya genap 3 tahun lulus dari UI, sehingga ini kesempatan terakhir saya untuk ikut Afirmasi, karena kalau ikut batch 4 ya jelas saya sudah ngga qualified, udah lebih dari 3 tahun wkwkwk. Satu point lagi yang jadi perhatian saat itu, adalah mengenai penghasilan per bulan. Seandainya saya masih bekerja, tentu saya tidak bisa daftar jalur ini karena penghasilan saya juga akan dihitung. Jika hanya penghasilan ortu, saya masih memenuhi syarat untuk itu. Saya waktu itu berpikir, mungkin ini hikmah juga dibalik masa pengangguran yang tak terencanakan, hehe. Rencana Allah memang lah yang terbaik!

Memilih Universitas Tujuan

Berkas-berkas yang lain mulai dari ijazah, surat keterangan sehat, rekomendasi, esai, dsb. sudah saya kerjakan waktu mau daftar batch 1 – yang ngga jadi dipake itu. Akhirnya, saya hanya perlu mengubah sedikit di bagian rencana studi karena saya mengganti tujuan uni nya ke Tufts University jurusan Food Policy and Applied Nutrition (FPAN) dari UQ – Australia. Hal ini saya lakukan karena yang jadi pilihan pertama saya, LSHTM, tidak ada di list LPDP (saya lagi berdoa siang – malam semoga 2017 kampus incaran saya ini masuk list LPDP, aamiin!!!).

Kenapa Tufts? Ini salah satu yang ngga bagus dari saya yang sangat peduli dengan mata kuliah/ rencana studi (ngga tau juga sih, tapi bagi saya ini sangat penting). Mata kuliah di FPAN-nya Tufts mirip-mirip dengan LSHTM, dengan tambahan optional courses yang ngebahas US Food Policy dan humanitarian crisis (saya juga cukup tertarik dengan yang kedua). Sedangkan di UQ, yang notabenenya masuk di Faculty of Medicine itu, saya rasa kurang tepat untuk menjawab rencana studi saya yang memang PHN banget. Saya juga ada pikiran seandainya saya ngga dapet LoA LSHTM, saya akan ambil di Tufts ini (ngeliat LSHTM sebagai 3rd best school of public health in the world, saya yang waktu itu belum dapet LoA jadi masih was-was juga, bakal ngga mudah lolos disana).

Praktisnya, jika universitas pilihan kita sangat linier dengan rencana studi, nanti kita tidak akan kesulitan saat menulis esai dan menjawab pertanyaan interviewer saat wawancara (Ini cuma pendapat saya pribadi sih, karena saya tipe orang yang ngga bisa bikin alasan yang bagus kalau ini ngga sejalan, dan bakal grogi juga pas ditanyain). Selain itu, akan lebih baik juga kalau itu memang universitas yang kamu tuju, biar ngga pake drama pindah uni pas udah dapet nanti. Atau jika pilihan uni kamu rankingnya cukup tinggi dan kamu belum dapet LoA dan belum begitu yakin dapet karena persaingannya ketat banget, mungkin lebih baik ya kaya saya ini, taruh uni lain dengan peringkat di bawahnya, tapi prodi-nya kudu tetep sejalan ama rencana studi. Setidaknya memperbesar peluang jika nanti mau pindah uni, karena peringkat uni sebelumnya lebih rendah.

Surat Rekomendasi

LPDP mensyaratkan minimal ada satu rekomendasi, bisa dari dosen, atasan, atau tokoh masyarakat. Surat rekomendasi saya urus waktu akan mendaftar untuk batch 1 2016 yaitu di bulan Januari. Waktu itu saya masih kerja di Flores sehingga saya memutuskan untuk meminta rekomendasi dari manager program dan salah satu Kasubdit di Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka. Sebenarnya saya ingin melengkapinya dengan rekomendasi dari dosen pembimbing, tetapi karena waktu itu sangat mepet, jadi saya cukupkan dua itu saja (sebenarnya satu pun tidak masalah kok, hehe). Ini adalah pertama kalinya saya minta rekomendasi, dan saya waktu itu hanya memberikan format surat rekomendasi dari LPDP beserta data diri saya. Artinya, isi dari surat rekomendasi itu 100% bukan karya saya.

Baru-baru ini saya tahu kalau teman-teman saya yang meminta rekomendasi, mereka menuliskan draf lengkap dan hanya minta tanda tangan kepada pemberi rekomendasi (tentu setelah draft nya dibaca yang disetujui). Sedikit merasa bersalah juga karena saya telah sangat merepotkan dua referees saya untuk menulis semua isi rekomendasi itu di tengah kesibukan beliau. Lagi-lagi ini karena waktu itu mepet sekali saya jadi tidak sempat bertanya ke teman perihal surat rekomendasi ini.

Alhamdulillah, setelah saya baca, saya sangat puas dengan isinya yang sangat dengan isinya yang deskriptif dan detail sekali. Beribu terimakasih untuk manager terbaik saya, Mba Lena, dan Kasie Gizi dan KIA Dinkes Sikka, Ibu Yansi. Semoga Tuhan memberikan balasan yang terbaik untuk ibu.

Bagi temen-temen yang baru akan mengurus surat rekomendasi ini, mungkin muncul pertanyaan siapa sih yang sebaiknya dimintai rekomendasi? Imho, tentu saja adalah orang yang mengenal kalian dengan ‘baik’ dan tidak ada konflik kepentingan di dalamnya. Contoh, mintalah rekomendasi kepada atasan (atau siapapun itu) yang mendukung rencana temen-temen untuk sekolah lagi. Lebih bagus lagi jika beliau juga memiliki ketertarikan pada rencana studi kita. Apakah harus orang yang posisinya tinggi, misal rektor, gubernur, atau direktur utama di tempat kerja? Kalau saya sendiri tidak melihat ini sebagai suatu keharusan sih. Akan tetapi, kalau memang itu relevan dengan posisi kalian, ya boleh-boleh saja. Misalnya, meminta rekomendasi ke kepala daerah dan teman-temen memang berasal dari daerah itu yang nantinya akan kembali kesana untuk mengabdi, itu bisa jadi alternative. Rekomendasi dari dosen, apakah penting? Saya pikir ini sangat penting. Dosen pembimbing adalah orang yang tahu kemampuan akademik termasuk research kalian yang notabenenya sangat penting untuk lanjut sekolah. Sebenarnya saya dulu juga akan mengurus ini, tetapi tidak saya lakukan karena manajemen waktu saya yang kurang baik saat itu.

Seleksi Substansi

Pendaftar akan mendapat undangan dari LPDP untuk mengikuti seleksi substansi di kota sesuai dengan pilihan saat mendaftar online. Undangan yang diterima belum memberikan detail rinci di hari apa peserta akan mengikuti seleksi substansi. Isinya adalah tempat pelaksanaan dan kurun waktu seleksi tersebut akan berlangsung di kota tersebut (biasanya sepekan hari kerja). Teman-teman baru akan mendapatkan jadwal fix hari seleksi itu sekitar H-3 sampai H-1.

Pengalaman saya kemarin, saya memang sudah dapat jadwal H-3, yang memberitahukan bahwa saya akan mengikuti seleksi substansi (wawancara, essay on the spot/ eots, dan leaderless group discussion/ lgd) semua di hari pertama. Jadwal ini bisa dilihat di akun LPDP ya, di bagian status kalau tidak salah. Disana detail dengan range waktu dan kelompoknya. Tapi nanti dulu, jadwal yang kita cek pada H-1 itu bisa jadi berubah saat hari H-nya. Itu yang terjadi pada saya, dari yang awalnya cuma dapat jatah sehari menjadi dua hari. So, buat cari aman sebaiknya kalian tetep datang di hari pertama.

Di hari pertama, peserta semua akan dikumpulkan di satu aula. Sebelum verifikasi dsb dimulai, panitia akan memberikan penjelasan mengenai aturan mainnya, salah satunya adalah absensi setiap harinya. Absennya menggunakan barcode yang ada di formulir yang kalian cetak itu. Selain absen, di aula ini juga ada tampilan yang menunjukkan kelompok yang sedang menjalani rangkaian/ proses seleksi substansi sehingga peserta dengan nomor berikutnya bisa memantau kapan gilirannya akan tiba. Aturan lainnya adalah mengenai urutan seleksi. Peserta bisa dapat giliran wawancara, eots, atau lgd terlebih dahulu. Yang menjadi catatan adalah, peserta yang akan memasuki ruang wawancara itu harus sudah melakukan verifikasi. Waktu itu, verifikasi dilakukan di aula utama juga.

Proses Wawancara

Saya mendapat giliran wawancara dahulu, baru kemudian eots, dan terakhir lgd. Wawancara saya di hari pertama, setelah dhuhur (lupa pastinya jam berapa). Di hari pertama saya datang pagi karena jadwal yang saya terima di H-1 itu saya dapet giliran dari pagi hingga sore. Karena saya bukan orang Jogja, saya berangkat dari Kebumen sore harinya, naik motor, terus nginep di kosan temen yang lagi ambil spesialis di UGM.

Terlalu PD-nya ngga bakal nyasar keesokan harinya (padahal udah tau sering banget nyasar), saya ngga cek lokasi dulu pas sore itu. Waktu itu pas buka peta saya pikir ini mah gampang jalannya, gak bakal nyasar. Dan ternyata pas pagi harinya, saya tetep aja bingung. Untungnya ngga beneran nyasar, cuma dikit aja, salah belok, tapi untung terselamatkan berkat nanya ke orang dan bisa juga lewat jalan itu. Akhirnya sampai juga di Gedung Keuangan Negara. Pas nyampe disana udah banyak peserta yang datang, dan saya langsung aja gabung, kenalan singkat dan naik deh ke lantai dua, masuk aula bareng-bareng.

Satu poin penting nih buat dicatat dan dilakukan: buat yang belum familiar dengan lokasi, ada baiknya untuk ngecek sebelum hari-H. Saya waktu itu aman sih, karena meskipun nggak familiar tapi jaraknya ngga jauh dan waktunya juga cukup (bebas macet).

Proses validasi dokumen berjalan dengan cepat dan lancer, tak ada pertanyaan. Ada dink, soal LoA buat mastiin aja karena pas daftar saya ngga upload LoA (sebenarnya sudah punya tapi lagi proses minta defer), nah pas verifikasi saya bawa LoA conditional dari LSHTM. Nah buat temen-temen yang mengalami hal kaya saya nih, punya LoA tapi belum update pas pendaftaran mending bawa aja, sepertinya bisa jadi nilai tambah pas interview. Oiya, dan jangan bawa LoA yang tanggal intake nya tidak sesuai dengan rencana kalian. Misalnya gini, saya daftar di batch 3, jadi masa intake paling cepat adalah Januari 2017. Jika di LoA-nya tertulis intake September 2016, ada dua kemungkinan; pertama, kalian bisa jadi tidak lolos (ini saya dikasih info dari temen atau ngga menyaksikan sendiri) atau kedua, kalian akan diminta membuat surat pernyataan bermaterai yang menyatakan kalian akan kuliah paling cepat 6 bulan dari deadline sumbit pendaftaran (yang ini saya tau beneran karena seorang kenalan pas seleksi kemarin begini).

Pastikan dokumen kalian lengkap, valid, dan bener agar prosesnya cepat dan tidak akan bermasalah ke depannya. Disini LPDP sangat menekankan jangan sampai ada pemalsuan dokumen karena sanksinya jelas dan sudah ada kasusnya.

Setelah verifikasi beres, saya duduk lagi di aula itu sambil nunggu giliran wawancara. Pas nama saya dipanggil untuk wawancara, saya segera turun ke lantai 1. Ternyata pas nyampe di depan ruangan wawancara, saya masih harus menunggu lagi, ngga langsung masuk. Akhirnya saya memilih duduk karena disitu ada kursi kosong, dan sambil ngobrol bareng peserta lain yang juga sedang menunggu giliran wawancara. Saya sama sekali tidak membuka berkas untuk mengingat isi studi plan atau apapun yang mungkin jadi pertanyaan interviewer. Alasannya sih, karena saya sudah cukup yakin dengan apa yang saya tulis, tetapi jika nanti ada pertanyaan soal lain, misal tentang LPDP, ini bisa jadi saya bakal lupa, apalagi kalau ngejawabnya pakai Bahasa inggris, hehe.

Oiya, di sini ada dua ruangan besar yang masing-masing di dalamnya ada beberapa meja/ kelompok interviewer, mungkin sekitar 10, saya lupa. Disini peserta juga mengisi daftar hadir. Saya waktu itu dapat wawancara kelompok 15, artinya saya akan diwawancarai oleh interviewer yang duduk di meja bertuliskan angka tersebut. Cukup lama sih saya menunggu, tapi ngga lama banget juga. Karena sambil ngobrol buat killing the time, akhirnya tiba juga giliran saya. Sebelum masuk, panitia memastikan kalau saya sudah mematikan handphone. Waktu itu saya ngga bawa HP sih, jadi udah deh masuk aja.

Saya pun duduk setelah seorang reviewer mempersilakan. Reviewernya ada 3 orang, semuanya bapak-bapak; dari LPDP, psikolog dari UGM, satu lagi dari ITS. Saya sempat membaca kisah temen-temen waktu wawancara yang reviewernya salah satunya ada dari bidang kita, tapi ini tidak terjadi pada saya (hanya dugaan sih, karena kalau yang dari UGM itu psikolog, yang dari ITS pasti background-nya teknik, entahlah, tapi sepertinya begitu, hehe). Saya ngga inget urutan pertanyaannya, tapi seingat saya berikut pertanyaannya.

  1. Apa yang membuat kamu pantas dapat beasiswa ini?
  2. Coba jelaskan mengenai beasiswa LPDP!
  3. Kamu pilih kuliah dimana? Kenapa disana, ngga dalam negeri aja? Banyak lho di Indonesia kalau mau belajar gizi, bisa di UGM, IPB, Unair, atau UI.
  4. Jurusan yang diambil? Apa rencana tesismu? Sudah menghubungi professor disana?
  5. Sudah dapat LoA?
  6. Ini pertama kalinya mendaftar LPDP, atau kedua?
  7. Ceritakan kegiatanmu saat kuliah, termasuk organisasi yang kamu ikuti dan perannya, dan pengaruhnya terhadap dirimu sekarang!
  8. Waktu kuliah pernah dapat beasiswa?
  9. Kamu daftar lewat afirmasi TM, apa pekerjaan orang tua kamu?
  10. Apa yang membedakan kamu dengan peserta yang lain?
  11. Rencana setelah selesai S2?
  12. Yakin bisa selesai tepat waktu?
  13. Bahasa Inggrismu jelek lho, yakin bisa dapet skor yang cukup buat mendaftar universitas itu?
  14. Siapa tokoh favorit kamu? Kenapa mengidolakan beliau?

Saya ngga dapet pertanyaan soal LPDP yang detail-detail dan pengetahuan umum yang bisa jadi saya tidak tahu, hehe. Padahal saya sudah membaca perihal ke-LPDP-an yang ada di website itu, semuanya. Alhamdulillah, mungkin reviewernya paham kalau saya bukan penghafal yang baik dan ngga bakal bisa jawab pertanyaan seputar itu dengan tepat.

Alhamdulillah, satu hal yang saya cukup terkejut adalah saya sama sekali tidak gugup dan kehilangan kata-kata dalam menjawab. Saya mampu menjawab semua pertanyaan dengan cukup baik dan meyakinkan, sesuai dengan yang tertulis di esai-esai saya. Ini adalah doa yang saya panjatkan tiap malam; agar tidak gugup. Padahal, di wawancara yang terakhir kali saya jalani, nervous-nya kelihatan banget (hanya sekitar di detik2 awal sih) sampai interviewernya bilang, rileks aja mba (wkwkwk, memalukan). Itu tuh semacam reflex, padahal saya aslinya yakin aja bisa melalui proses itu (ya memang akhirnya saja juga lolos). Mungkin saya kurang berdoa waktu itu.

Satu catatan penting disini, menjadi tidak gugup itu penting banget, terutama di proses wawancara. Itu adalah doa yang secara khusus saya minta ke Allah SWT. Selain berdoa, persiapan yang matang juga penting banget. Seperti yang pernah saya bilang, saya ikut batch 3 cukup tidak terencana, sehingga persiapan juga bisa dibilang kurang maksimal. Tetapi bukan berarti saya tidak menyiapkannya, terutama untuk wawancara ini. Saya alpa dalam beberapa hal, tapi itu tetap saya kejar/ persiapkan di waktu yang ada.

Jadi waktu itu saya tidak tahu (awalnya sudah tahu, tetapi entah kenapa pas tiba waktunya saya skip banget disini) kalau kemungkinan besar akan full in English, pas tau (alhamdulillah pas chat sama temen, dia ngingetin saya akan hal ini) saya langsung bikin strategi. Saya baca di blog-blog macam ini, ada yang menyarankan untuk mempersiapkan list pertanyaan beserta jawabannya, ditulis bilingual (Bahasa – English). Akhirnya saya buat itu di H-3, ada sekitar 10 halaman A4 (banyak ya? Sebenarnya ngga juga, yang panjang itu cuma bagian ke-LPDP-an sama beberapa pengetahuan umum, hehe) yang saya print dan kemudian saya baca. Lumayan marathon juga itu persiapannya, jadi tak sempat cek itu bener apa engga bahasanya, cuma sekali tulis, ngga diteliti, toh nanti juga akan dibaca lagi jadi bisa dibenerin kanJ

Kembali ke proses wawancara ya J Ada satu pertanyaan yang sampai diajukan dua kali. Itu adalah soal Bahasa Inggris saya dan alasan kenapa pilih LN, ngga DN aja. Pertama soal Bahasa Inggris, to be frank with you, itu adalah hal yang cukup saya takutkan dari awal, sebenarnya. I had never kept speaking in English more than 15 second! Itu cuma kalau jawab atau nanya pendek banget ke bule yang kebetulan ketemu, wkwkwk. Terakhir kali cukup intens dengan itu cuma pas modul Bahasa Inggris di semester 2 kuliah. Tapi bisa dibilang untuk pasif-nya ngga jelek-jelek amat sih, saya bisa dapet skor TOEFL hampir 550 dengan belajar sendiri 1 minggu (tes toefl terakhir cuma 420an, jaman kuliah). Tapi speaking emang jadi kelemahan terbesar saya, bahkan sampai sekarang ini.

Lalu apa jawaban saya saat ditanya itu? “I do know that my English has not been enough to meet the university requirement.” Saya teruskan, “However, I will do my best effort for it, and Insya Allah I can make it in time. Also, I am also working on it now, although only by myself.” Bagi saya, mengakui kelemahan itu perlu juga, apalagi ini yang emang keliatan banget baik di speaking langsung maupun sertifikat TOEFL yang angkanya ngga nyampe 550.

Jawaban saya saat berkali-kali diarahkan ke DN, apakah nurut atau ngotot mau ke LN? Saya pernah membaca pengalaman temen-temen di blog juga soal pertanyaan ini, banyak yang menyarankan untuk ikut dengan saran reviewer. Itu bagus juga (mungkin), karena reviewer Insya Allah juga bisa mengarahkan kita ke jalan yang lebih baik. Di lain hal, pastinya latar belakang setiap peserta itu sangat bervariasi, jadi tidak ada jawaban yang pasti untuk ini (jika hanya berupa pertanyaan yes…). Kenapa? Karena ternyata ada juga yang sampe diminta untuk menulis surat pernyataan bermaterai untuk pindah ke DN, mungkin temen-temen bisa searching lagi info detailnya. Kalau kasusnya begini, mungkin itu memang bener banget. Itu yang terbaik.

Bagaimana dengan jawaban saya? Saya kekeuh disini, tidak sekalipun bilang iya saat disarankan pindah ke DN, tapi ngga frontal juga sih. Kebetulan pertanyaan ini masuk juga dalam list yang saya siapkan, jadi saya sudah menyiapkan alasannya (meskipun ada yang kelupaan juga, wkwkwk). Saya jawab, “ Uni di sini juga bagus-bagus, mereka juga memiliki program S2 untuk gizi. Akan tetapi, akreditasinya masih B, yang A baru di IPB, tetapi itu pun gizi manusia, sedangkan saya jurusannya bukan ke arah situ.” Deg, penjelasan saya terpotong karena reviewer bilang bahwa akreditasi B diperbolehkan. Kayaknya ada yang salah dengan informasi yang saya dapatkan, mbatin. Akhirnya saya konfirmasi lagi, “Oh begitu ya, Pak, saya kira harus A.”

Itu adalah informasi yang saya cari tahu lagi setelah sampai rumah, saya tanya ke temen. Dan ternyata benar kalau untuk afirmasi boleh ke prodi B, selagi uni nya ada di list LPDP. Ketawa lepas, sendirian, di rumah! Ternyata saya yang salah, karena yang saya pahami sebelumnya adalah ketentuan untuk peserta reguler. Maklum, saya dulu rajin searching-nya memang mau mempersiapkan diri buat jalur reguler, dan belum cari banyak soal afirmasi. Alhamdulilah saya ngga ngotot waktu ngejawab pertanyaan ini, hehe, memang saya yang salah.

Balik ke waktu menjawab pertanyaan LN vs DN ini. Ngga berhenti disitu, saya kembali berargumen disini. Yang saya sampaikan adalah rencana studi. ‘’Rencana studi saya sangat praktikal dan cukup spesifik. Mata kuliahnya lebih ke arah perencanaan untuk mengeksekusi suatu program yang efektif, monev, comdev, humanitarian assistance, program spesifik tertentu, dsb.. Sejauh penelusuran saya, untuk jurusan gizi di uni DN, tidak begitu meng-cover yang seperti itu, oleh karena itu saya memilih ke LN. Selain itu, karena ke depannya saya juga akan menjadi pengajar, disana saya juga tidak hanya akan belajar mengenai itu, saya ingin mengetahui mengenai kurikulum dan metode mengajarnya dosen di negara yang lebih maju, dengan harapan bisa menjadi inspirasi untuk saya ke depannya. Terkait kurikulum, saya juga berpikir itu penting untuk dicermati mengingat kita masih perlu meningkatkannya di negeri kita, karena sebagian besar belum mencapai akreditasi A, bahkan di daerah saya sendiri juga tidak ada jurusan ini sehingga bagi saya pribadi itu juga menjadi hal yang penting.

That’s all. Alhamdulillah ngga dilanjutkan lagi pertanyaan soal ini, atau disodori kertas untuk pindah ke DN (yang bisa jadi bikin saya galau). Tidak tau apakah itu tepat atau tidak, tetapi itu memang alasan saya sebenarnya, dan kalaupun saya gagal karena itu, saya tidak akan menyesal karena itu lah yang menjadi mimpi saya. Wawancara saya berjalan (menurut saya) cepat, ngga sampai dua puluh menit, mungkin.

Essay on the Spot

Persiapan untuk menghadapi part ini, sesuai dengan yang diceritakan awardee sebelumnya di blog yang pernah saya baca, adalah rajin membaca berita terkini lalu bikin semacam garis besar untuk topik-topik tersebut. Persiapan untuk ini bisa juga sekaligus untuk sesi LGD. Saya sempat membuat list-nya waktu itu dan membuat beberapa point penting untuk setiap topiknya. Akan tetapi, sayang sekali! Karena semua yang saya list tidak ada yang berguna saat mengerjakan EOTS maupun saat LGD, hehehe… mungkin list yang saya tulis benar-benar ngga update, atau saya memang tidak bisa mendeteksi topik mana yang lagi booming.

Sebenarnya untuk EOTS ini mirip-mirip sama writing part 2 di IELTS test. Bedanya, kalau di IELTS kita bisa saja menuliskan hal yang tidak real terjadi, nah untuk EOTS saya tidak  menyarankan hal itu, sehingga penting juga buat kalian untuk tahu kondisinya di lapangan. Ini murni pendapat saya saja ya J

Alasannya begini, di EOTS nanti kita akan diberikan dua topik yang berbeda dan kita disuruh memilih salah satunya. Oiya, untuk pendaftar LN, wajib menulis dalam Bahasa Inggris. Waktu itu saya dapet tema soal pariwisata dan pertanian. Di kertas soal ada sekitar 2 atau 3 kalimat yang menyebutkan isu spesifiknya di bidang itu (saya tidak begitu ingat dulu apa kalimatnya), kemudian kalimat terakhir itu pertanyaannya. Ini Indonesia banget case-nya, dan fakta alias bukan masalah khayalan. Hehehe. Oleh karena itu, menurut saya, kita juga harus menuliskan esai kita sesuai dengan pertanyaan dan dibarengi argumentasi yang emang sesuai kondisi lapangan. Kalau di IELTS (cmiiw) kita boleh saja misal menyebutkan contoh yang aslinya ngga ada, asal relevan, iya kan? Kalau di EOTS, sepertinya itu tidak tepat, tho?

Saat itu saya memilih tema pertanian karena saya sedikit paham dengan permasalahan di bidang itu (anak petani soalnya, ada perasaan emosional gimana rasanya jadi petani, hehe J). Saya ambil case kecil aja sih untuk menguatkan argumentasi, sesuai yang saya lihat dan ‘rasakan’.

Oiya, disini kita masuk sesuai kelompok di satu ruangan, sekitar 20 orang kalau tidak salah, kemudian diberi soal dan lembar jawaban (kertas bergaris 1 lembar, di halaman depan bagian atas – sekitar 1/3 hlm untuk mengisi identitas peserta, sehingga kalau mau diisi penuh kalian bisa mengisi 1 2/3 halaman, wkwkwk). Bawa alat tulis sendiri ya! Sepertinya tidak dibatasi berapa minimal kata untuk EOTS (ini saya agak lupa, boleh banget kalau mau ngoreksi). Waktu yang diberikan 30 menit. Jadi silakan sesuaikan mau menulis berapa kata. Saran saya, lakukan saja bagaimana tips untuk mengerjakan writing part 2 di IELTS.

Kalau saya begini dulu caranya, paragraph 1 : elaborasi pertanyaan dan sebutkan jawaban kita, paragraph 2: alasan (tentukan apa poin-poinnya, in your mind, karena ngga boleh nyoret kertas soal), paragraph 3: kesimpulan. Ini IELTS banget yang diadopsi dari cara Simon (dengan mengurangi 1 paragraf, hehe. Saya lagi belajar itu, jadi udah kebawa banget pake cara itu karena ngga persiapan khusus juga untuk ini. Temen-temen bisa pake cara lain yang lebih baik. Seingetnya saya kita ngerjainnya pake pulpen (saya juga pake pulpen), cuma pas itu saya jug liat ada peserta lain yang pake pensil. Ngga sempet nanya itu boleh apa engga. Kalau mau pake pensil, mungkin bisa nanya dulu. Hanya saja menurut saya mending sekalian pake pulpen, kalau salah tinggal coret sekali saja, crettttt.

Entah apa yang terjadi, waktu mau mulai nulis terjadi sesuatu yang aneh. Tangan saya yang biasa buat nulis tremor di 5 menit pertama. Alhasil waktunya saya pake buat megang tangan kanan itu sampai tremor-nya ilang. Sedikit panik, pasti. Bahkan tulisan di awal esai itu agak aneh karena belum stabil tangannya. Saya hanya menulis 3 paragraf! Gila ya, pendek banget? Iyaa. Saya hanya memenuhi halaman depan, jadi halaman belakang kosong melompong. Sempet ngeliat juga peserta lain banyak yang sampai penuh dua halaman itu. Sebenarnya saya ingin menulis lebih banyak lagi, tetapi gara-gara terjadi sesuatu yang aneh di awal itu, terus takut kalau nulis panjang dan ngga keliatan apa yang mau disampaikan alias masih ngegantung, itu malah aneh. Jadi, saya tentukan aja bikin yang pendek asal jelas arahnya dan selesai dengan kesimpulan. Saya selesai sekitar 7 menit sebelum waktu habis. Masih cukup sih buat nambah, cuma apa jadinya kan udah ditutup dengan kesimpulan. Jadilah itu a quick essay made by my tremor-right-hand!

Saya merasa tidak maksimal disini, sehingga tidak tau mau menyarankan apa. Mungkin temen-temen bisa melihat hikmahnya, dan semoga yang demikian tidak terjadi di saat kalian menjalani proses ini J

Leaderless Group Discussion

Kita akan mengikuti LGD bersama dengan teman-teman yang barengan di ruangan EOTS itu (setengahnya sih, karena seruangan EOTS itu adalah 2 kelompok LGD). Waktu itu sebenarnya ada grup peserta seleksi Jogja di Telegram, saya pernah ditawari mau join engga. Saya ngga pake Telegram jadi tidak masuk di grup itu. Di grup sebenarnya kita bisa jadi lebih tau kelompok LGD kita dan sharing dari peserta yang udah tes di hari sebelumnya.

Saya baru berkenalan dengan temen-temen se-LGD selepas EOTS. OMG! Mereka fluent banget English-nya, udah kaya gue yang ngomong pake Bahasa Jawa aja, alias ngga pake mikir. Setelah menunggu sebentar, menunggu kelompok yang di dalam selesai, kelompok saya pun dipanggil. Oiya, jangan lupa papan nama yang kita print itu (yang digunting dari formulir pas verifikasi). Itu buat ditaruh di depan meja, biar temen dan reviewer di LGD tahu nama kita.

Kali itu kelompok saya dapet topik Pokemon-Go! Sesuatu yang sangat umum, kecuali buat saya. Saya ngga ngikutin terkait mainan itu, belum pernah liat bahkan. Kesalahan banget ini, saya pikir isu terkini ya cuma soal ekonomi, budaya, politik, dan semacam itu. Ternyata deman game ini masuk juga. Tapi sebenarnya itu bukan alasan buat kita ngga perform well di LGD. Disana kita diberikan waktu buat baca potongan artikel seputar isu itu, jadi bakal tau juga gambarannya. Sepanjang diskusi, kita bebas mengutarakan pendapat kapan saja, tinggal angkat tangan, dan saling pengertian lah sesama peserta, hehe, ngga perlu rebutan gitu.

Dengan Bahasa Inggris yang ala kadarnya, saya hanya berbicara 3 kali, lebih sedikit karena sebagian besar 4x, timing aja sih. Satu hal yang saya inget banget pas LGD ini, saya mengemukakan hal yang agak berbeda dari yang lain, dan ada satu atau dua peserta yang cukup terganggu dan terpancing juga untuk menanggapinya. Hanya saja, menurut saya, cara dia menyanggah bisa diperhalus lagi sih. Tanggapan balik saya? Cukup mengucapkan terima kasih atas masukannya dan mengakui mungkin saya belum begitu tahu mengenai hal itu sehingga mengajukan pendapat yang cukup ‘alay’. Sebenarnya ngga alay juga sih, ini spontan banget terpengaruh ala-ala konspirasi karena kebanyakan baca buku gituan waktu kuliah ditambah karena ini cukup berlawanan dengan common sense, hehe. But, it was OK, I should not be like that in this forum,, my bad.

Selesai LGD, selesai juga rangkaian seleksi substansi yang saya jalani dengan membawa beragam kecemasan karena saya tidak begitu puas dengan EOTS dan kelepasan di LGD-nya, hehehe. Hanya bisa berdoa dan mencari alternative jika saya tidak di LPDP, saya baca banyak seputar beasiswa lain dengan cukup detail, termasuk uni nya. Dengan ending saya isi form pendaftaran online Chevening, tetapi baru isi biodata basic nya, saya sudah dapat email kelulusan seleksi substansi LPDP di sore hari 9 September 2016. Alhamdulillah.

“No amount of guilt can change the past and no amount of worrying can change your future. Go easy on yourself for the outcome of all affrairs is determined by Allah’s Decree. If something is meant to go elsewhere, it will never come on your way, but if it is yours by destiny, from you it cannot flee.” – Umar Ibn al-Khattab RA