Any thoughts?

Ini adalah quote (lama) dari satu jurnal kesehatan yang disampaikan oleh dosen saya di sela-sela kuliah pengantar public health nutrition.

“The new concepts to prevention, having discovered that behaviour affects health, focus on the responsibility of the behaviour of the individual for illness prevention by eating and drinking in moderation, exercising properly, not smoking and the like. Surely, in the final analysis, it is the individual who carries out these actions. But what does it mean to hold the individual responsible for smoking when the government subsidises tobacco farming, permits tax deductions for cigarette advertising and fails to use its taxting power as a disincentive to smoking? What does it mean to castigate the individual for poor eating habits when the public is inundated by advertisements for”empty-calorie” fast foods and is reinforced in present patterns of consumption by federal farm policy?”- [Eisenberg, the perils of prevention, NEJM, 1977]

Menggelitik dan, yap memang begitu adanya kan ya? Kita ndak bisa ‘menyalahkan individu’ atas berbagai perilaku yang ‘tidak sehat’ meskipun berbagai kampanye, pesan, program, dan ajakan untuk mengadopsi perilaku yang sehat itu sudah ‘gencar’.

Any thoughts?

Advertisements

Kenapa Pilih S2 yang (cuma) Setahun?

Ini saya tulis di tengah menjalani perkuliaan S2 saya yang baru berumur sebulan. Mungkin nanti bisa berubah juga seiring berjalannya waktu, tugas nambah, dan… dan sebagainya.

BqS-4iGCUAAtPVI

Dengan tidak memandang pertimbangan/ urusan terkait keluarga, saya melihat kalau setahun ini, insyaallah (akan) tepat. Buat saya, atau buat kalian2 juga… mungkin hehe.

Alasannya adalah sebagai berikut.

Pertama, saya kuliah di jurusan yang linier dengan S1 sehingga disini (S2) itu lebih mendalami konsep-konsep dasar yang sebenarnya pernah dipelari di S1. Bedanya itu, disini belajarnya sangat lebih mendalam agar benar-benar paham konsep dasarnya. Jadi ngga asal ngafal dan ‘ya gitu deh pokoknya’. Banyak banget teori-teori yang dipertimbangkan untuk menjawab satu pertanyaan yang (mungkin) tampak sederhana. Selain itu, disini juga super update terhadap perkembangan ilmunya. Misalnya, sumber-sumbernya ke jurnal yang barusan terbit, atau bahkan akan terbit. Iya sih, kan yang ngajar itu emang world leading expert-nya. Dia yang banyakan nulis mengenai topik terkait.

Ngga tau itu cuma perasaan saya saja, kali ya? Mungkin banyak yang waktu undergrad-nya juga udah ngalamin pengalaman seperti itu hehe, excited sama kuliahnya, ngga ngerasa salah tempat (curhat opps!), dan di kampus yang oke begete. Saya yang dulu waktu S1 bisa dibilang super-duper cuek sama kuliah jadi ya mungkin wajar beut kalau ngerasa sekarang itu sepertinya masih perlu ‘ngerunek’ mengkaji topik (yang seharusnya) sudah dikuasai saat S1. Terlepas dari perkembangan dan konteks sikon saat ini.

Kemudian, meskipun masih berusaha mengurangi barrier di bahasanya (nasib golongan yang menyepelekan belajar binggris sebelum kepikiran mau S2 di Inggris), mengambil jurusan yang linier itu menguntungkan banget lho. Meskipun banyak materi jaman S1 yang kelupa, at least masih ada yang nyangkut beberapa persennya, itu salah satu yang ngebantu sekarang. Tinggal didalami lagi, sekalian update!

Kedua, dengan summer project (aka thesis) yanng hukumnya wajib dikerjain dan dikumpulkan, ditambah sumbangannya yang hampir setengah dari GPA itu, mau ngga mau kudu serius kan yak. Dan lagi, meskipun dosen saya (bilangnya) ngga menuntut a perfect project, tapi melihat standar penilaian kampus yang (katanya) tinggi itu juga bikin  grrrr…

Di jurusan saya, di pekan pertama kami sudah diberi arahan soal summer project juga. Ditambah, setiap pekan kami ada routine meeting dengan direktur program/ jurusan untuk membicarakan isu2 yang muncul, dan 10 menit presentasi dari kami tentang nutrition (bisa skripsi atau pengalaman kerja di bidang gizi) untuk saling mengenal dan kali aja nemu ide summer project. Lagi2 summer project!

Eh ini apa hubungannya dengan kuliah setaun? Hehe.. Menurut saya, S2 yang singkat itu akan cukup untuk mengenalkan/ mengembangkan kemampuan menulis artikel ‘layak terbit’ jurnal jika memang dikerjakan dengan serius dan dipikirkan sejak awal. Seperti kata dosen saya, kita ngga harus perfect, baru belajar untuk itu. Untuk tahap yang lebih tinggi, tentu itu bagiannya S3, yang waktunya puanjang! Adil kan?

Ini bukan berarti menurunkan motivasi biar “udah deh tesisnya ngga usah ngoyo” ya. Ngga sama sekali. Buat temen2 yang sama seperti saya (linier S2 & S1 nya, tentu udah ngga ngawang lagi kalau bicara soal minat dan kecenderungan memilih topik untuk sebuat tugas akhir. Dan itu juga, jadi semacam bonus ‘motivasi’ biar lebih semangat pas nulis hehe.

Mungkin, kalau yang mengambil jurusan yang benar2 baru dan belum begitu kebayang, setahun bisa kurang, kali ya? Belum tentu juga karna kan banyak faktor yang mempengaruhi, dan juga itu personal banget kan ye.

Ketiga. Memang jelas kalau kamu geng setaun ini tidak mengambil modul sebanyak yang kuliahnya dua tahun. Dan ngga sebanyak kaya pas S1 juga lho ternyata. Misalnya, saat ini saya (cuma) ambil 3 modul. Akan tetapi, kuliahnya 4 hari sepekan pagi sampe sore 2x, setengah hari 2x. Kalau diitung2 jamnya ngga jauh beda sih ya sama pas sarjana, hehehe. Bedanya, topiknya dikit tapi pembahasannya lama gitu. Belum ditambah ‘oleh-oleh’ buat di rumah; reading list.

Keknya 3 aja dulu, nanti nambah lagi kalau dah ada temuan lagi.

 

Bulan 1: It’s exactly what I expected!

Tulisan ringkas ini adalah sedikit gambaran mengenai perkuliahan saya di LSHTM di bulan pertama.

Orientasi Jurusan. Yap, setelah sampai di London tanggal 21 September, saya berkesempatan menghadiri acara orientasi univ buat international students (yang dari UK juga boleh ikut sih kalau mau). Ini isinya hal2 umum gitu, terkait visa, buka rekening bank di UK, dan seputar living in London and studying at the School pokoknya, hehe. Saya ngga bener2 ikut full, cuma sempet nengok sorenya pas ada acara party2 gitu. itupun ngga ikut sampai selesai, cuma say hi sama temen2 baru dari jurusan macem2, ikutan photobox ala2, sama icip2 refreshment yang disediain. Buat yang social gitu, ini sebenernya seru gitu deh, ada band juga yang perform, mayan lah buat yang suka. Rangkaian acara ini berlangsung selama 2 hari. Pekan selanjutnya adalah orientasi jurusan!

Yang saya niatkan banget buat ikut, karena akan mengupas seluk-beluk dengan lebih detailnya. Kegiatan ini berlangsung senin-jumat dengan jadwal yang beragam dan manfaat banget! sayang deh kalau ngga ikut, terutama yang di hari jumat-nya: tour ke Kew Garden lewat Westminster Pier naik kapal gitu ngelewatin the Thames! Pentingnya lagi, itu digratisin hehehe.

Di jurusan saya, ada 30 mahasiswa full-time dan 3 part-time dari beragam belahan dunia. I’m the one and only who’s from Southeast Asia. Yang dari UK sendiri ngga nyampe sepertiganya, jadi totally diversed gitu.

Belajarnya disini dibagi dalam 3 term ditambah summer project (tesis) yang hukumnya super wajib karena itu 45% sendiri dari total GPA. Meskipun kuliahnya ada 3 term, kita ujiannya cuma sekali, yaitu di bulan Juni. Itu semua module dari jaman term 1 sampai term 3 tebluk diujikan di pekan itu. Hmmm. Selain dari ujian dan summer project, ada juga tugas2 di term semacam paper gitu.

Kesan Mengikuti Perkuliahan. Di term 1 saya mengambil 3 modul wajib (Fundamental Public Health Nutrition/ FPHN, Statistics for Epidemiology and Public Health/ STEPH, dan   Basic Epidemiology/ BE). Sebenernya kita boleh mengambil modul lain yang optional. awalnya saya pengen ngambil Principle of Social Research, mau kenalan dikit sama metode kualitatif ceritanya. Tapi setelah berdiskusi dengan direktur jurusan dan saya pikir2 lagi, sepertinya lebih baik ngga usah ambil, toh masih bisa juga akses semua bahannya (termasuk video lectures-nya) dan belajar sendiri.

Disarankan oleh beliau fokus saja ke yang wajib, sambil adaptasi. Adaptasi kuliah di sini, dan adaptasi juga jadi mahasiswa setelah 4 tahun ngga ngampus, hehehhe. Tapi mungkin yang paling demanding itu adaptasi ngikutin kuliah dalam bahasa inggris, apalagi saya blas ngga pernah pake binggris di ‘kehidupan sebelumnya’, hanya bermodalkan belajar buat IELTS yang sekitar 3 bulan itu (asli, meskipun hasil tesnya & standar yang ditetapkan cukup tinggi ternyata itu bukan jaminan bisa casciscus disini, guys!, tapi ngga tau juga dink, mungkin ada yang tiba2 bisa langsung jago hehe).

Mengenai perkuliahannya, ngga beda gitu sih dari kampus2 di sini pada umumnya, mungkin. Ada kelas besar dan kelas kecilnya. Ada lectures (mahasiswa duduk manis menyimak presentasi dari dosen), practicals (di kelas yang kecil, ngerjain semacam soal2, kemudian dibahas, difasilitasi 1 or 2 lectures/ assisstant lecture, untuk kelas STEPH and BE), dan seminars (semacam diskusi kemudian debat, biasanya di kelas kecil). Kalau di jurusan lain mungkin ada yang pake nge-lab, tapi di jurusan saya (alhamdulillah) engga ada.

Yang paling seru itu,menurut saya adalah lectures-nya, terutama pas topiknya seru (mostly saya temuin di FPHN, tapi di 2 kelas lainnya juga tetep ada), dan pas banget yang ngisi itu emang expert-nya di bidang itu. Boleh lah dikatain agak ndeso (gpp juga sih, emang cah ndeso asline!), tapi saya emang bener2 ngerasa banget bedanya saat mengikuti perkuliahan yang dosennya yang bener2 gamblang ngejelasinnya, ditanya juga penjelasannya sangat masuk akal (bukan berarti harus selalu ada exact answers-nya, karna di beberapa hal kan manusia emang ngga tau, yes!).

Saat mahasiswanya bertanya mengenai hal yang memang belum ada jawabannya, beliau menjelaskan dari a-z kenapa itu belum terjawab juga. Dari berbagai topik yang saya ikuti, semakin sadar kalau sebenarnya di sains ini, banyak banget keterbatasan manusia. Betapa memang, terlepas dari segala kemajuan yang telah dicapai, masih banyak hal yang belum juga terungkap, dan kita (paling mungkin) hanya bisa mengandalkan prediksi. Mulai abstrak!

Di FPHN, kami mempelajari topik2 yang mendasar dan ada beberapa (banyak juga) yang ngga begitu public health or terlalu biochemist gitu. Tentunya, sebagai PH & Tropical Medicine focused Grad-School, disini kami didatangkan pengajar dari berbagai institusi di dalam atau luar London, yang emang bener2 expert-nya gitu. Quite surprising juga, pas di salah satu kelas itu, seorang pengajar luarnya, (prof emeritus di salah satu uni di UK) ternyata adalah salah satu sesepuh yang membesarkan departemen saya (di LSHTM).

 

Secara keseluruhan, karena keterbatasan saya dalam menumpahkan kata-kata, apa yang saya jalani saat ini, memang bener-bener yang saya harapkan ketika memilih untuk mendaftar kesini. Sedikit mengobati luka-luka lama yang ngga pernah kesampaian sekolah impian (halahh curhat!!). To be really honest, alhamdulilah, saya sangat beruntung bisa diterima disini dan juga bersekolah disini (terimakasih lagi Indonesia!)

 

22424184_1730593876953693_2346315678481338258_o

akhirnya ada foto disini, meski baru ‘sempet’ setelah sebulan keluar-masuk lewat sini, dan kaku bgt hehe

 

 

Salam dari 9 degree of C-nya London,
Sat 12:07 am /28-10-2017 🙂 😀

 

Perpindahan Universitas Tujuan Luar Negeri

Ini kan bukan univ tujuan kamu – sambil ngeliat offer dari LSHTM. Mau ngajuin pindah ya nantinya?

Itu salah satu pertanyaan saat saya seleksi substansi 2016 lalu. Saya waktu itu jawabnya ngga. Bohong ya karena pada akhirnya saya pindah juga ke univ itu? Tapi, sebenernya saya ngga bohong juga karena waktu itu saya jawabnya ngga pindah karena univ itu (LSHTM) tidak dalam list LPDP. Nah ketika masuk list, kan situasinya jadi beda. Ngga bohong kan? Hehehe

Tapi kalau dijawab jujur sih aslinya saya emang dari awal udah LSHTMer banget. Berhubung dia ngga masuk list LPDP kan ngga mungkin dong saya tulis di pendaftaran sebagai univ tujuan? Iyo raa?

Saya pilih Tufts sebagai univ tujuan awal juga bukan cuma asal comot. Saya juga suka dengan courses yang ditawarkan disitu. Dan lagi, kata prof saya itu juga pilihan yang bagus. Jadi, dua univ itu bagus buat saya. Terus kenapa LSHTM? Bela2in belajar IELTS lebih lama bahkan tes dua kali karena standarnya lebih tinggi dari univ lain?

Karena, menurut hasil research saya dengan didukung dosen juga, LSHTM is a better choice, though I cant deny that the one in Baltimore is even better!

Cukup deh ya buat alasannya, hahhaha.

Untuk mengajukan perpindahan univ ke LPDP, kamu perlu mengajukan email ke lpdp.dkp3@kemenkeu.go.id. Di dalamnya, ada beberapa persyaratan yang harus dilampirkan bersama dengan surat pengajuan pindahnya itu sendiri.

1. Surat permohonan perpindahan perguruan tinggi ditujukan kepada Direktur Utama LPDP
2. 
Unconditional Letter of Acceptance (LoA) dari perguruan tinggi tujuan baru.
3. Sertifikat IELTS

4. Perbandingan tuition fee perguruan tinggi awal dan baru.

5. Perbandingan peringkat universitas tujuan awal dan baru

Oiya, pengajuan pindah ini cuma bisa dilakukan sekali ya (jika disetujui). Setelah kamu kirim email itu, nanti bakal dibalas kalau email kamu udah diterima, dan (normalnya) akan diberikan jawaban dalam 7 hari kerja.

Waktu itu karena saya emang lagi di Depok, pengen silaturahmi sama dosen yang kebetulan juga expert di bidang yang mau saya dalami di S2 nanti, sekalian aja kan minta surat rekomendasi pindah, hehe. Akhirnya, saya lampirkan juga rekomendasi itu meski ngga wajib.

Saya kirim email pengajuan pindahnya jumat seitar jam 8 malem, dibalas hari seninnya. Dan dapet persetujuannya hari jumat di pekan berikutnya. 8 hari kerja. Harusnya sih 7 hari kerja, tapi munngkin waktu itu LPDP lagi dalam pergantian beberapa jajaran direksinya mungkin dikit ngaruh kali ya. Hehehe.

Sejujurnya, itu masa2 deg2an banget sih, secara kalau itu ngga diterima saya bakalan galau total karena meskipun bisa aja ngajuin pindah lagi ke UCL (saya dah dapet unconnya jg) tapi rasanya ngga yakin gitu. Kalau mau ke univ awal, jelas deh baru bisa kuliah taun depan kan? Belum lagi mikirin GRE nya, oh oh. Tapi, alhamdulillah, Allah juga berkehendak saya ke LSHTM, jadi LPDP pun menyetujui permohonan pindah saya. Yes!

Setelah dapet email persetujuan tinggal nunggu dikirimin draf kontrak via email. Kemudian print itu dua rangkap, tempel materai dan tandatangani, lalu kirim balik ke LPDP. Instruksi lengkap ada di email, udah super jelas disitu, hehehe. Kalian juga udah bisa ngajuin LoG di tahap ini.

Setelah itu, tinggal nunggu kabar kalau kontrak bisa diambil dan juga – ini yang ngga kalah penting – email aktivasi simonev!

Akhirnya, dapet juga Unconditional LoA-nya

Mungkin, perjalanan saya buat ngedapetin uncon ini puanjang banget, mulai dari apply lalu ngajuin deferral, terus ngirim conditions-nya one by one. Tapi nggapapa sih, yang penting akhirnya dapet, lika-liku panjangnya biar jadi cerita, penyemangat kala sedang malas belajar nantinya (ngga mungkin kan mau terus males kalau perjuangan ngedapetinnya itu ngga enteng), hmmm.

Setelah pegumuman kelulusan LPDP di September 2016, praktis banget satu-satunya syarat yang harus dipenuhi buat dapet uncon itu ‘cuma’ IELTS. Ngga maen-maen sih, dia matoknya cukup tinggi, overall 7 dan writing juga 7. Meskipun awalnya agak ngeri-ngeri gimana gitu, ragu bisa apa engga memenuhi syarat itu, mengingat Bahasa Inggris saya jelek banget, ah tapi waktu itu saya entah kenapa yakin aja kalau saya bakalan bisa.

Deadline pengiriman semua conditions itu adalh 31 July 2017. Saya waktu itu cuma punya 1 plan, yaitu test IELTS sekali saja kalau emang udah yakin, lalu kirim hasilnya bersama financial evidence dan ijazahnya. Akan tetapi, rencana tinggal rencana karena skor IELTS pertama saya yang kluar tanggal 31 Juni itu ngga nyukup. Saya dapet overall 7.5 tapi cuma 6 buat writingnya. Namanya juga manusia ya, saya usaha dulu, nanya ke Admissionnya LSHTM bisa ngga saya lolos English requirements-nya dengan skor segitu. Dan jawabannya (Admission-nya emang super kece guys, saya email dan langsung dibalas!) adalah jelas banget: NO, you have to take another test.

Saya kalau udah dijawab gitu udah ngga mau nanya dan nawar lagi, karena satu kata sih; malu. Dan juga, kata senior yang disana, mereka memang strict dengan English requirements-nya karena beban tugas disana berat dan standar kelulusannya tinggi. Makanya pula, writing disini sangat diperhatikan. Jarang kan ada sekolah yang nyaratin overall dan writing score-nya sama tingginya. Lagipula, karena saya juga bakal ngajuin pindah univ ke LPDP, saya juga kuatir ketidaksinkronan nilai IELTS bisa dipertanyakan. Kali aja, hehe.

Fix, setelah dapet jawaban itu, saya langsung daftar IELTS. Niatnya mau ambil yang tanggal 8 July, tapi saya takut juga masih butuh waktu buat belajar writing-nya. Akhirnya, saya ambil yang tanggal 15 July. Singkat cerita, saya dapet 7 di semua komponen, yeay!

Karena deadline dari LSHTMnya yang pas banget sama tanggal keluar hasilnya, saya atur strategi gimana biar semua persyaratan mendarat disana sebelum deadline. Pertama, saya kirim LOS nya dan tanya apakah itu bisa dipake (saya penting banget mastiin ini karena LSHTM sebelumnya ngga di list LPDP, kali aja dia butuh yang beda haha). Untungnya, LOS itu diterima. Kedua, saya dengan bekal bismillah dan optimis pun ngirim ijazah asli saya kesana meskipun nilai IELTS entah berapa nanti. Karena pas itu saya ngga begitu buru2 buat ijazahnya, saya pake pos aja. Mayan kan daripada FedeX atau DHL yang mahal hehe. Oiya, nantinya kalau udah diverifikasi, ijazah kamu bakal dibalikin kok sama admission, mereka yang bayar. And you know what? Mereka ngiriimnya pake DHL, wkwkwk. sorry, just another spoiler.

Singkat cerita pas saya udah submit IELTS, lalu dibalas kalau itu diterima, dan tinggal nunggu aja uncon keluar.

Waktu itu saya email berkali-kali karena udah seminggu sejak IELTS dikirim uncon belum keluar. Mulai kuatir deh saya,,, karena masih mikirin pindah univ juga ditambah visa yang menakutkan gegara baca2 cerita temen2 di grup yang apply Tier 4 Student Visa ke UK itu super drama banget waktu itu. Akhirnya, saya disarankan senior buat email direktur program. Alhamdulillah, meski beliau lagi sibuk banget, email saya langsung dibalas dan cc ke admission. Dan beberapa jam kemudian uncon keluar deh!

Asli itu saya  ngga tau apakah karena email bapak direktur program atau emang bakal dikirimnya hari itu, hehehhe. Ngga saya pikirin lagi yang penting dah keluar hehehe.

Memilih Tempat Tes IELTS

Tulisan ini bukan dalam rangka meng-endorse salah satu lembaga dan menjelekkan lembaga lainnya. Ini hanya murni pengalaman saya pribadi yang baru nyobain 2 tes di tempat yang berbeda, masing2 tempat pun cuma sekali. Jadi, ini jelas ngga representative apalagi signifikan secara ilmu statistika. No! Ini super2 subjektif.

Saya ikut tes di IDP Bandung (rasa Jakarta) di pertengahan Juni, kemudian di BC Bandung pada pertengahan Juli. Tahunnya 2017 semua.

Sebenernya, dari awal saya udah pengen test di BC aja karena temen2 saya rekomendasi kesitu, tetapi karena saya pas itu tesnya kolektif dan – jujur aja – ngga suka rempong jadi manut aja waktu didaftarin ke IDP. Alasan lainnya karena waktu itu saya ngga percaya dengan perkataan temen-temen kalau tes mah mending di BC aja, mereka lebih generous ngasih nilainya, dsb. Bagi saya waktu itu semua tempat tes sama aja, nilai tergantung kitanya aja, titik.

Eng, ing, eng. Ternyata setelah kegagalan saya di tes pertama dan gagalnya pun karena satu part aja (writing), saya jelas ngga mau ngulangi tes di tempat yang sama. Saya ikut deh saran temen untuk tes di BC. Hehehehe.

Hasilnya pun, lebih dari ekspektasi saya. Berhasil writingnya.

Tapi ntar dulu. Menurut saya, itu  bukan 100% karena pindah tempat tesnya, tapi saya juga belajar lebih buat writingnya (meski cuma seminggu sih). Tapi, sekeras apapun saya belajar keknya ngga bisa buat naikin skor dari 6 ke 7 dalam waktu seminggu kan? Jadi saya pikir ini mah kombinasi dari dua factor itu, yang dibalut dengan kuasa Ilahi pastinya.

Kesimpulannya, saya memang lebih memilih BC.

Ini pun diikuti teman saya yang lainnya yang tes kedua ambil di BC, dan wow, hasilnya dia lebih fantastic. Kalau dari analisa saya, dia lebih beruntung karena ambil tesnya juga di waktu yang bersamaan dengan general IELTS (baca artikel saya yang ini), sehingga dapet ‘keberuntungan’ di sisi listening dan writing+speaking. Ini 100% hanya dugaan subjektif lainnya. Monggo abaikan saja juga gpp, hehe.

General rule-nya sih, tetep belajar dan persiapkan dengan baik, ya kawan2! Tulisan saya ini cuma 100% curcolan subjectif.

IELTS Writing Band 7

Tulisan ini saya tujukan bagi temen2 yang masih berjuang dengan writingnya, dan ini pun hanya sekadar bagi pengalaman saja dari saya, yang beneran emang 0 banget english skill-nya. Buat yang udah jago2, mungkin mau 7 atau 8 bisa jadi not a big deal, yaa.. hehehe. Semoga bisa bermanfaat:)

Awalnya, saya ngga menganggap target 7 buat writing ini sesuatu banget, tapi ngga nganggep gampang juga. Buat saya lebih sulit listening 7.5 daripada writing 6.5, awalnya. Hehehehe. Tapi ternyata nggaak. Writing lebih sesuatu.

Menurut saya, yang terpenting dari belajar writing IELTS itu adalah konsistensi. Maksudnya, kalau lo dari awal udah nyaman belajar menurut cara X, ya udah pake itu aja terus. Ngga usah di mix dengan yang lain. Serius, itu malah cuma bikin njelimet. Tapi klo temen-temen nyaman sih oke2 aja. hehe

Saya yang awalnya belajar di internet, di satu website, kemudian karena ikut kelas IELTS, jadi ikutan cara yang disitu. Ini bukan berarti yang disitu ngga bagus, cuma karena di benak saya itu udah nempel pola yang sudah saya ikuti dari awal, jadi ngga bisa 100% mengadopsi cara yang baru. Dan jeleknya, ketidakjelasan saya ini berlangsung hingga tes IELTS pertama saya yang mengakibatkan ngga dapet sesuai yang ditargetkan. Saya cuma dapet 6 writing-nya.

Setelah menyadari kesalahan itu, saya balik lagi  ke metode yg awal. Diulang-ulang baca dan liat videonya. Sama nyoba nulis juga hehehehe. Lumayan lah, jadi ngga galau lagi kalau ngerjain soal dan langsung tau kalau soalnya gini cara ngejawabnya begitu. Saya udah ngga pusing soal kerangka dan nulis gimana caranya biar nyambung. Ngga butuh waktu lama juga buat nulis introduction dengan parafrasenya. Hanya tinggal soal ide dan vocabnya. Ini bisa ditingkatkan dengan banyak membaca contohnya juga. Inget-inget topic vocabnya, kali aja nanti dapet topik itu kann…

Saya sendiri kurang begitu suka membaca contoh yang memakai kata terlalu canggih, saya lebih suka membaca contoh yang memakai kata-kata tertentu yang emang jadi ciri khas topik itu, bukan kata-kata yang artinya biasa aja tapi kita make versi langka-nya. Buat saya itu malah aneh.

Sekitar seminggu saya belajar sendiri dengan porsi terbesar untuk writingnya, dan juga speaking. Untuk listening dan reading saya hanya sesekali nyoba ngerjain soal. Dan hasilnya, lumayan, meskipun overall-nya ngga setinggi test pertama, setidaknya itu sudah cukup untuk mendaftar di univ tujuan saya. Saya dapet 7 di semua komponen. Akhirnya, writing dan speaking dapet 7 juga, hehehehe. Dan listening sama readingnya agak disayangkan malah turun ke 7. Hehehhe,, tapi ttep ngga masalah itu. Udah memenuhi persyaratan univ aja saya udah senenggggg banget!

Oiya, ini sedikit tips buat ngerjain Writing ya guys, alaala saya aja, kali aja ada yang mau nyoba hehe.

  1. Selalu mengerjakan task 2 terlebih dahulu. Jangan habiskan 40 menit, usahakan 30 atau maksimal 35 menit sudah selesai. Kenapa? Karena biasanya task 1 butuh lebih dari 20 menit guys.
  2. Tentukan arah jawaban kamu untuk soal essai, misal mau setuju atau ngga, atau apa deh jawaban kamu sesuai dengan pertanyaan. Kemudian bikin aja ide yang bakal jadi topik buat body paragraphs, termasuk penjelasan pendukungnya. Kalau saya selalu nulis idenya dulu, otherwise bisa nyasar kemana-mana nantinya. Ngga ada istilah biar ngalir aja, ngga ada yang ngejamin itu akan selalu ngalir sesuai topik, ngga mbeleber kemana-mana. Tapi, buat yang udah canggih sih ya monggo saja.
  3. Mimimal, tulis 2 kalimat di introduction, masing-masing 5 di body paragraphs, dan 1 di penutup. Kalau dah biasa latihan ini udah bisa buat mastiin kamu nulis 250 kata di task 2 nya. Boleh banget kombinasi kalimat penddek dan panjang. Sesuaikan aja pokoknya.
  4. Ada beberapa cara ngerjain task 1, tergantung tipe soalnya juga sih. intinya sama kaya yang task 2, belajar dari 1 sumber aja. kuasi itu.

Then, buat speaking-nya.. eng ing eng… saya ngga pede klo ngomongin part ini soalnya saya mah masih parah banget. Dapet 7 keknya kebetulan juga, hehehhe.. saya cukup familiar dengan topiknya waktu itu, jadi casciscus aja.