Masa Depan Mereka ada di Meja Makan Kita

eat-healthierGenerasi anak dan cucu kita diprediksi akan memiliki angka harapan hidup sepuluh tahun lebih muda dari kita. Salah satu faktor pencetusnya adalah pola makan ala fast-food cs yang semakin popular dan dicintai sebagian besar kalangan. Di negara maju, USA contohnya, 75% penduduknya mengalami overweight (gemuk) dan obese (sangat gemuk). Tak hanya negara maju, fenomena ini sudah menjalar ke negara berkembang, bahkan juga negara tertinggal. Indonesia, dari tahun ke tahun, prevalensi obesitasnya semakin naik dan menjadi beban baru. Masalah gizi yang tadinya ‘hanya’ gizi buruk, sekarang bertambah dengan fenomena gizi lebih.

Mungkin kita terlalu paranoid dengan berita pembunuhan yang semakin sadis yang dipertontonkan oleh kebanyakan media belakangan ini. Akan tetapi, kita lupa bahwa silent killer yang berkelanjutan, dan terstruktur, ada di sekitar kita, di meja makan kita sendiri!

Negara-negara maju dan lainnya seperti India dan China sedang memerangi masalah serius akibat obesitas dan kualitas kesehatan yang buruk. Penyakit terkait pola makan dan gaya hidup semakin membebani negara karena menghabiskan biaya yang nilainya terus meninggi.

Ijinkan saya menyampaikan kisah nyata yang mungkin belum terjadi di sekitar kita, tapi sangat mungkin akan terjadi. Irna lahir dan besar di sebuah keluarga yang normal. Dia adalah generasi ketiga dimana dia sendiri tidak pernah diajarkan bagaimana cara memasak baik di rumah maupun di sekolah. Keluarganya, semuanya obesitas. Adiknya yang baru berusia 12 tahun tetapi beratnya sudah hampir 100 kg. Tentu saja dia dibully di sekolahnya. Adiknya perempuannya, Arin, bahkan sudah obese sebelum masuk sekolah dasar. Ayahnya, yang juga obese, meninggal karena keadaannya itu. Dan sekarang, ayah barunya pun memiliki postur yang tak berbeda.

Kita sudah bisa membayangkan kelanjutan ceritanya. Saya ingin mengajak teman sekalian untuk melihat bahwa obesitas dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan makanan itu tidak hanya berdampak pada si penderita, tetapi keluarga, teman, kakak, dan adiknya juga ikut merasakan penderitaan dan kesedihannya.

Di era globalisasi ini, kedai-kedai penjual makanan cepat saji memiliki jaringan yang sangat luas di seluruh penjuru dunia, perkembangannya pun sangat pesat. Sejalan dengan fenomena manusia modern yang lebih memilih mengkonsumsi makanan itu dengan beragam alasan. Anak-anak dan remaja pun sangat menyukainya, karena rasanya yang enak atau agar terlihat keren, mungkin.

Sekarang coba kita amati supermarket. Jumlahnya sudah tak terhitung kalau di kota besar, dan di kota kecil, keberadaannya sudah menggeser pasar tradisional sebagai tempat berbelanja favorit. Ya, sebagian dari mereka adalah korporasi besar yang menyediakan segala kebutuhan manusia dari A sampai Z, termasuk makanan dan minuman kemasan.

Sebagian besar makanan yang kita konsumsi sudah melalui proses termasuk penambahan berbagai bahan, seperti pengawet, pewarna, penyedap, dan seterusnya. Kemasannya pun sangat menarik; berisi gambar dan keterangan yang mampu menyihir sebagian dari kita untuk membelinya. Bagi yang peduli dengan kandungannya, mungkin akan tergiur karena disitu tertulis low fat. Sayangnya, kebanyakan lupa bahwa makanan berlabel rendah lemak itu isinya juga penuh dengan gula. Jarang ada yang berpikir bagaimana mungkin makanan itu benar-benar rendah lemak kalau kandungannya penuh dengan gula! Umumnya, label memang membantu, tetapi saya ragu dengan kejujuran informasinya.

Berikutnya, saya ingin mengajak teman-teman sekalian untuk ke sekolah. Mengapa sekolah? Apa pentingnya melihat sekolah ketika sedang berbicara pola makan?

Sekolah adalah tempat dimana anak menghabiskan sebagian besar harinya, mereka belajar, bermain, dan tentunya makan! Atau dengan istilah lain, jajan. Meskipun terlihat sepele, sebenarnya ini penting karena makanan yang mereka pilih itu adalah sumber sebagian besar kalori hariannya. Terlebih jika jam sekolah lebih panjang, hingga sore atau bahkan malam baru kembali (karena ada kelas tambahan atau ekstrakurikuler). Di semua belahan dunia, jajanan anak di sekolah sebagian besar tidak sehat, kandungan gizinya tidak proporsional, sering bermasalah dengan higienitas, bahkan ada kasus penggunaan pewarna atau zat adiktif lain yang tidak diijinkan.

Lalu bagaimana dengan susu, elemen yang pernah disebut sebagai penyempurna menu kita. Saya yakin teman-teman masih ingat dengan 4 sehat 5 sempurna, kan?

Meskipun tingkat konsumsi susu di Indonesia relatif rendah, kenyataannya banyak anak-anak yang terbiasa minum susu sejak balita hingga remaja. Susu juga menjadi minuman wajib bagi beberapa kalangan orang dewasa maupun manula yang diet dengan tujuan tertentu. Intinya, susu merupakan minuman yang sering nongkrong di meja makan.

Pada dasarnya, saya tidak menganggap kalau minum susu itu benar-benar tidak baik, bukan begitu. Namun, pernahkan kita berpikir bahwa kenyataannya memang ‘bisa jadi’ itu tidak baik?

Hampir mirip dengan uraian tentang makanan/ minuman tadi, susu yang beredar saat ini sudah termodifikasi; memiliki rasa dan warna yang beraneka ragam. Tentu saja itu karena sudah diberi perasa, pewarna, pemanis yang jumlahnya kita tak tahu dengan pasti. Semakin menarik warna dan kemasannya, semakin beragam pilihan rasanya, didukung dengan gencarnya iklan di media, tak terhindarkan jika semakin banyak pula anak-anak yang meminumnya. Sebagian besar orang tua pun tidak berpikir panjang terkait hal ini karena sudah sangat yakin yang namanya susu pasti sehat!

Sebenarnya masih panjang jika topik ini diteruskan. Saya kira itu cukup mewakili, dan selanjutnya, mari kita cermati kaitan antara kebiasaan makan dengan masa depan J

Gaya hidup modern sudah terbukti membawa berbagai perubahan, termasuk munculnya permasalahan akibat pola makan tidak sehat yang negara industri/ maju sudah mengalaminya. Negara berkembang dan tertinggal pun tak bisa menghindarinya. Lantas, bagaimana dengan masa depan? Optimiskah bahwa kita punya peluang untuk memperlambat laju perubahan yang negatif atau bahkan menghentikannya di suatu titik? Saya sendiri percaya bahwa masyarakat global banyak yang peduli dengan permasalahan ini. Pemerintah dan organisasi multinasional sudah menyusun berbagai rencana kerja yang menyasar permasalahan ini, salah satunya melalui Sustainable Development Goals.

Itu inisiatif dari mereka. Bagaimanakah dengan kita?

Setiap insan berhak menentukan gaya hidup yang akan dijalaninya; apakah mau makan teratur atau seenaknya, membeli makanan penuh zat pengawet, pewarna, perasa, dan kawan-kawannya atau masak sendiri. Kita bebas menentukan hidangan di meja makan rumah kita. Jika boleh saya berpendapat, akan lebih baik jika kita lebih peduli lagi dengan hal ini, karena meskipun tidak terlihat langsung dampak serius, beragam kerugian yang nyata dan berkelanjutkan di jangka panjang sudah terbukti jadi konsekuensinya. Dengan kepedulian kita ini, setidaknya kita sudah mewariskan gen dan kebiasaan baik untuk anak cucu kita nanti.

“Demi masa depan generasi penerus bumi ini, menerapkan pola makan yang seimbang adalah sebaik-baik investasi.”

 

Artikel ini terinspirasi dari satu video di TED.com

Gambar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s