Kalau kita (mau) marah?

angryKetika kita marah…

Buta dan tuli akan nasihat. Tersebab amarahnya sudah naik ke otak dan menutupi inti pikirannya, yang juga akan menutupi inti indera, hingga mata menjadi gelap, tidak bisa melihat apa-apa, dunia terasa kelam dalam penglihatannya. Otaknya pun seperti lorong yang sempit, yang di dalamnya dinyalakan api yang berkobar-kobar, hingga udaranya pun menjadi hitam kelam, panas dan penuh dengan asap. Kalaupun di dalamnya hanya ada pelita yang kelap-kelip, tentu ia akan cepat padam. Siapa yang ada di dalamnya tentu akan tidak kuat bertahan lama, tidak bisa mendengar kata dengan jelas, tidak bisa melihat gambaran sesuatu dengan jelas, tidak mampu pula memadamkan api. Begitu pula yang terjadi di hati dan otak. Jikamarah benar-benar sudah menggelegak, orang lain pun bisa dibunuhnya.

Diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Hibban bahwa Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu berkata,”Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang kuat itu bukan karena bergulat, tetapi orang yang kuat itu yang dapat menguasai diri saat marah”.

Jikalau marah sudah menggelegak, hadapi dengan cara-cara berikut.

Pikirkan tentang keutamaan menahan marah, memaafkan, lemahlembut,dan menguasai diri. Bahwasanya ada seorang yang hendak bertemu dengan Umar ibn Al Khathab, terkemudian orang itu berkata, “Wahai Ibnul Khathab, demi Allah engkau tidak memberi kami yang banyak dan tidak membuat keputusan diantara kami dengan adil.”

Umar pun marah besar dan hampir saja memukulnya, tetapi kemudian dia mengurungkan niatnya karena seorang sahabat menyeru,”Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah pernah berfirman,’’Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang-orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’’ Dia adalah termasuk orang yang bodoh.” Kemudian Umar, pikirannya terus menerawang terhadap Kitabullah.

Berkatalah kita,”Kekuasaan Allah atas diriku lebih besar daripada kekuasaanku terhadap orang ini. Andaikata aku mengumbar amarahku, maka aku tidak akan aman jika Allah mengumbar amarah-Nya kepadaku pada hari Kiamat.”

Pikirkanlah oleh kita bahwa ketika marah, setan akan membisik,”Perkara ini bisa membuat dirimu lemah, hina, terlecehkan, dan tidak terhormat di hadapan manusia.” Kita hendaknya menimpali dengan berujar,”Saat ini engkau memandang rendah kesabaran, sementara engkau tidak tidak memandang rendah pelecehan pada hari Kiamat. Engkau takut dipandang rendah di hadapan manusia, tetapi engkau tidak takut dipandang rendah di hadapan Allah, para malaikat, dan nabi pada hari Kiamat.”

Atau kita bersegera untuk berwudhu.

.Atau

Tempelkanlah pipi di tanah.

Telah banyak kisah tentang menahan marah ini dari para sahabat dan generasi awal. Saya kutip satu saja ya…

Ali bin Al-Husain bin Ali RA berpapasan dengan seseorang. Seseorang itu kemudian mencaci-makinya hingga pembantunya (pembantu Ali) marah kepada orang tersebut.

“Sabar dulu”, kata Ali kepada pembantunya. Lalu dia memandang orang tersebut dan berkata,”Wahai orang yang tidak tahu urusan kami, apakah engkau ada keperluan sehingga aku bisa membantumu?”

Orang itu pun merasa malu. Ali kemudian memberinya pakaian yang dikenakannya dan uang 1000 dirham. Setelahnya, orang itu berkata,”Aku bersaksi bahwa engkau adalah anak keturunan rasul.”

Referensi: Mukhtashar Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah

Gambar diambil dari http://www.gettyimages.com/detail/photo/girl-making-angry-face-royalty-free-image/148687526

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s