“Jauhilah ghibah, karena ghibah itu merupakan santapan manusia anjing”. (Ali bin Al-Husain bin Ali RA)

“Jika pada diri saudaramu itu ada yang seperti katamu, berarti engkau telah mengghibahnya, dan jika pada dirinya tidak ada yang seperti katamu, berarti engkau telah mendustakannya.” (diriwayatkan Muslim dan At-Tirmidzi)

Ketika saya membaca sabda Rasulullah itu (tak ingat ini membaca yang keberapa kalinya, tapi seingat saya ini bukan yang pertama kalinya), saya merasa alangkah banyaknya hal tersebut saya lakukan. Astaghfirullah. Kemudian saya juga membaca sabda Nabi SAW yang lain bahwa orang yang melakukan ghibah tidak akan diampuni dosanya.

“Jauhilah ghibah, karena ghibah itu lebih keras daripada zina. Sesungguhnya seseorang telah berzina dan minum (khamr), kemudian bertaubat dan Allah pun mengampuni dosanya. Sedangkan orang yang melakukan ghibah tidak akan diampuni Allah hingga orang yang dighibahkan mengampuninya.”

talkingSaya sering sekali nimbrung dengan teman yang pada awalnya memang tidak mengghibahi seseorang. Namun, terkadang (sering mungkin) tanpa kami sadari kami telah mengghibahi seseorang, entah itu membicarakan perasaan kami terhadapnya, atau kekurangs-sreg-an kami terhadap sikapnya yang kebanyakan memang hanyalah suatu prasangka. Lalu terucap istighfar berkali-kali, berharap ampunan Allah dan langsung lah percakapan kami diberhentikan atau banting stir ke topik yang lain.

Kami, lebih tepatnya saya, belum pernah langsung mengatakan ke yang bersangkutan bahwa saya telah mengghibahi dia (kecuali jika ybs merupakan orang yang dekat dan saya tidak merasa sungkan terhadapnya, hehee^^). Kalau ybs orang yang tidak saya kenal dengan baik, atau bahkan saya hanya sebatas pernah bertemu beberapa kali, tentu saya tidak berani mengatakan kalau saya baru saja berkata begini-begitu tentang kamu. Alasannya klasik saja; malu. Saya tidak tahu, belum tahu lebih tepatnya, apakah malu yang seperti ini dapat dibenarkan. Mengatakan kepada seseorang yang tidak kita kenal bahwa kita baru saja berkata begini-begitu tentangnya, kemudian meminta maaf. Malu memang baik, tetapi (ini menurut pendapat pribadi saya) bukankah ini demi kebaikan? Demi memperoleh ampunan dari Allah (yang hanya didapatkan jika manusia sudah memaafkannya). Akan tetapi, cara menebusnya ternyata (dari yang baru saja saya dapati dan saya tuliskan di akhir coretan ini) ternyata tidak demikian caranya untuk kasus yang kedua. Indahnya sungguh agama-Mu ya Rabb.

Ini saya temukan lagi bahwa penafsiran dari makna ghibah ternyata tidak hanya lewat perkataan. Kerdipan mata, isyarat tertentu, bahkan tulisan juga bisa menjadi medianya. Saya jadi membayangkan, alangkah banyaknya dosa saya ini.

Terkemudian, mungkin semuanya sudah mengetahui bahwa orang yang mendengarkan ghibah juga tidak lepas dari dosa. Dikecualikan jika dia mengingkari dengan lidahnya, atau minimal dengan hatinya. Jika memungkinkan, alihkanlah ke pembicaraan yang lain. Perihal ini, manusia teragung di bumi ini pernah bersabda,

“Barangsiapa ada orang mukmin yang dihinakan di sisinya dan dia sanggup membelanya namun tidak melakukannya, maka Allah SWT menghinakannya di hadapan banya orang.” (diriwayatkan Ahmad)

Beliau juga bersabda,

“Barangsiapa membela seorang muslim dari orang munafik yang menggunjingnya, maka Allah mengutus seorang malaikat yang menjaga dagingnya dari sengatan neraka Jahannam pada Hari Kiamat.” (diriwayatkan Abu Dawud, Ahmad, Al-Baghawi, dan Ibnul Mubarak)

Biasanya kita (dengan sengaja atau tidak) mengghibah karena berbagai sebab. Misalnya karena ybs melakukan sesuatu yng membuat kita marah, dan kita berupaya mencairkan amarah itu dengan mengatakan kejelekan-kejelekannya. Bisa juga ketika kita ingin menyesuaikan diri dengan teman-teman, ikut-ikutan dalam percakapan mereka demi menjaga hubungan baik dengan mereka. Atau bisa juga karena ingin mengangkat diri sendiri, dengan cara menjelek-jelekkan orang lain. Yang terakhir, bisa jadi ketika kita hanya bercanda dan hanya bermaksud membuat orang-orang tertawa (bahkan banyak juga orang yang mencari penghidupan dengan cara ini).

Biar terhindar dari ghibah, kita selayaknya ingat bahwa perbuatan ini memancing kemurkaan Allah, kebaikan-kebaikan kita akan berpindah ke orang yang dighibahi, dan (jika kita tak ada kebaikan) maka keburukan orang yang kita ghibahi akan menjadi tambahan deposit keburukan kita. Na’udzubillah.

Ada sebuah syair tentang pengingatan akan bahaya ghibah,

Jika kau cela seseorang yang pada dirimu ada cela itu pula,

Lalu bagaimana dengan celaan orang yang lebih tercela?

Jika kau cela seseorang yang cela itu tidak ada padanya,

Akibatnya sangat besar di sisi Allah dan juga manusia.

So, buat yang merasa tidak memiliki aib, lebih baik buatnya adalah mensyukuri nikmat Allah yang dilimpahkan kepadanya. Tak perlu mengotorinya dengan mengata-ngatai orang lain.

Kita bisa memotong ghibah dengan memotong sebab yang mendorongnya.

Ketika kita berusaha untuk menjaga hubungan dengan teman-teman yang dia melakukan ghibah, kita mesti ingat bahwa Allah murka kepada siapa yang mencari keridhaan manusia dengan sesuatu yang membuat Allah murka.

Beberapa hal ditoleransi (karena menyebut keburukan orang lain), antara lain:

  1. Karena tindak kezhaliman. Orang yang dizhalimi boleh menyebutkan keburukan orang yang menzhalimi di hadapan pihak yang bisa mengembalikan haknya.
  2. Sebagai sarana untuk merubah kemunkaran dan mengembalikan orang zhalim ke jalan perdamaian.
  3. Meminta fatwa. Namun ada baiknya tidak dengan menyebutkan nama seseorang dan tindakannya secara langsung.
  4. Memperingatkan orang-orang muslim, misalnya menyebutkan seorang ahli fikih yang suka menemui ahli bid’ah atau orang fasik karena dikhawatirkan akan dampak negatif yang ditimbulkannya.
  5. Jika orang yang dighibah melakukan kefasikan secara terang-terangan dan dia tidak merasa terlecehkan jika dirinya disebut-sebut.

Jika kita terlanjur telah berghibah, hendaknya kita menebusnya dengan dua cara berikut.

  1. Bertaubat dan menyesali peprbuatannya. Hal ini dilakukan sebagai pelanggaran terhadap hak Allah.
  2. Jika ghibah sudah didengar oleh orang yang dighibahi, maka kita harus meminta maaf kepadanya dan memperlihatkan penyesalan di hadapannya. Nabi SAW bersabda:

“Siapa yang melakukan suatu kezhaliman terhadap saudaranya, harta atau kehormatannya, maka hendaklah dia menemuinya dan meminta maaf kepadanya dari dosa ghibah itu, sebelum dia dihukum, sementara dia tidak mempunyai dirham maupun dinar. Jika dia memiliki berbagai kebaikan, maka kebaikan-kebaikannya itu akan diambil lalu diberikan kepada saudaranya itu. Jika tidak, maka sebagian keburukan-keburukan saudaranya itu diambil dan diberikan kepadanya.” (diriwayatkan Al-Bukhari)

Jika ghibah belum didengar orang yang dighibah, permohonan maaf cukup dengan memohonkan ampunan bagi orang tersebut, agar dia tidak mendengar apa-apa yang belum diketahuinya sehingga hatinya bisa menjadi lapang.

Mujahid berkata, “Tebusan tindakanmu yang memakan daging saudaramu ialah dengan cara memuji dirinya dan mendoakan kebaikan baginya. Begitu pula jika orang tersebut sudah meninggal dunia.

Untuk lebih mudah mengingat bahaya ghibah, saya juga menambahkan ungkapan dari Ali bin Al-Husain bin Ali RA, “Jauhilah ghibah, karena ghibah itu merupakan santapan manusia anjing”

Terakhir, tak terhenti pujian untuk Allah yang telah menurunkan Islam sebagai ajaran yang sempurna sejak dilahirkan hingga akhir masa lewat manusia yang paling indah tingkah nan lakunya, Muhammad SAW, yang senantiasa menuntun kita mengarungi jalan hidup ini dengan tanpa keraguan.

Referensi: Mukhtashar Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah

Gambar diambil dari http://www.gettyimages.com/detail/photo/two-japanese-women-talking-on-the-veranda-royalty-free-image/101952133

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s