Perburuan Letter of Acceptance

Setelah kembali bertekad untuk lanjut sekolah (dimana sebelumnya sempet galau), saya mencari informasi sebanyak-banyaknya bagaimana persiapannya, mana yang dilakukan lebih dulu. Jujur saat itu saya masih belum fix dengan jurusan yang mau saya ambil. Pertama, jika mau kembali ke rencana awal (yang dibuat waktu masih kuliah S1) saya harus tetap mengambil Public Health Nutrition (PHN), dengan spesialisasi sesuai keinginan saya sekarang, yaitu child malnutrition program implementation in community level. Kalau untuk jurusan ini, pilihan terbaik menurut saya adalah Nutrition for Global Health di London School of Hygene and Tropical Medicine, Clinical and Public Health Nutrition di UCL, atau bisa juga ke beberapa universitas lain di USA dan Aussie. Saya nemu beberapa yang cukup oke. Kedua, ternyata setelah bekerja di NGO ini saya mulai tertarik untuk tetap di sector ini, sehingga sempat berikir untuk ambil Global Health and Development. Kala itu temen bilang kalau mau ambil itu mending ke UCL.

Setelah berpikir cukup lama, bahkan saya sempet tanya dan konsultasi dengan pakar – yang kontaknya saya temukan di forum-forum gitu, saya kirim email dan ternyata dibalas! – beliau menyarankan saya untuk tetap di PHN, tidak perlu ambil Global Health karena itu terlalu luas cakupannya. Saya setuju dengan saran itu, dan bener juga sih kalau ambil PHN, pilihan ke depannya makin luas. Jadilah saya ambil PHN dan rencananya akan focus ke bidang yang saya minati juga.

Selanjutnya adalah beasiswa. Yang muncul di benak saya saat itu adalah LPDP dan Chevening. Kalau LPDP jelas ya alasannya, itu bisa ke negara mana aja asal ada di list tentunya. Dan kenapa Chevening? Kalau ini, alasan yang sebenarnya adalah karena saya ingin ambil di UK jadi bisa selesai lebih cepat, mengingat saya sudah bukan fresh graduate lagi, hehehe. LSHTM saat ini berada di urutan ke-6 atau kalah dari 5 universitas di USA (padahal tahun lalu cuma kalah dari Harvard & Hopkins), tapi di UK masih yang pertama sih :). Ohiya, itu bukan peringkat overall ya, melainkan untuk Public Health & Social Science-nya, menurut sumber ini.

“Aim for the moon. If you miss, you  may hit a star.” – W. Clement Stone

Namun demikian, pertimbangan utama saya sih sebenarnya bukan soalan peringkatnya, tapi lebih ke matkulnya ini yang emang gue banget, hehe. Kesimpulannya, LSHTM fix jadi pilihan pertama saya.

Eits, ternyata setelah saya cermati lagi, itu tidak masuk di list LPDP. Artinya ada dua hal yang bisa saya lakukan: pertama, daftar Chevening atau LPDP tapi harus cari univ lain dulu (nantinya bisa mengajukan pindah). Karena ini judulnya perburuan LoA, disini saya cerita soal itu aja, untuk LPDP saya sudah tulis beberapa waktu lalu.

Untuk mendaftar uni, ada beberapa hal yang perlu kamu siapkan, dan bisa jadi tiap uni beda persyaratannya, so penting banget buat tahu detail dan pretelannya. Saya baru daftar di LSHTM dan UCL, tetapi saya ngga perlu cerita super detail ke persyaratannya ya, ini bisa kalian liat di website uni-nya, sangat lengkap kok disana, bahkan jika masih mau nanya, bisa email ke admission-nya. Saya pingin cerita soal personal statement dan CV-nya aja yes, sedikit soal reference. Hal-hal itu disiapkan dulu sebelum mau daftar online, sama passport jangan lupa (tapi saya yakin temen-temen sudah pada punya ini, cuma saya aja yang udik, baru bikin passport pas mau daftar uni, hehe). Kalau udah punya IELTS dan beasiswa lebih keceh lagi!

Personal Statement

Ada beragam saran untuk menulis PS ini, kalian bisa baca di internet, buanyak sekali website yang mendedikasikan dirinya untuk membantu para pelamar uni maupun scholarship dalam menuliskan dokumen penting ini, ada juga jasa mengoreksi yang berbayar. Saya cuma sempet baca dos and donts nya di website itu, cukup membantu, tetapi ngga coba yang bayar2 hehe. Selain website, boleh juga kita download contoh-contoh yang ada di internet, hanya perlu dipastikan sumbernya, yo. Dan ngga perlu kepatok persis juga. Menurut saya itu cukup membantu dan memberi insight pada cara penulisan maupun alur yang dipakai. Opsi selanjutnya, kalian bisa juga minta proof-reading sama temen atau senior yang kalian percaya.

Dari pengalaman saya, yang paling penting dalam penulisan PS adalah pastikan PS itu mengakomodir semua pertanyaan yang diajukan di form pendaftaran uni nya. Meskipun sebagian besar hampir sama, bisa jadi ada yang beda, tho. Alhamdulillah, di kasus saya ini mirip banget, jadi saya cuma bikin satu, tapi kemudian diedit untuk disesuaikan dengan apa yang menjadi ciri khas uni nya – program  studi sih terutama – karena memang tidak begitu mirip.

Setelah baca panduan pertanyaan, dos and donts, dan beberapa contohnya, saya nulis PS pertama saya yang 2 halaman. Saya kemudian minta tolong ke teman dan senior yang kuliah di UCL dan LSHTM untuk proof-reading. Alhamdulillah, saya dapat beberapa masukan, soal panjang PS, pemilihan pengalaman kerja yang dimuat, dan tentu grammar. Mereka tidak mengubah atau menyarankan secara langsung dengan mengedit isi PS-nya (kecuali beberapa terkait grammar), lebih ke masukan secara garis besarnya gitu.

Kedua proof-readers saya tidak memiliki saran yang 100% match, wajar juga sih, kayak ginian mah ngga ada yang baku sehingga pada akhirnya tetep kita yang harus mengeksekusinya. Akan tetapi, saya tetep melihat apa yang mereka sampaikan sangat membantu karena draft pertama saya memang masih sangat belum ok. Sangat logis deh saran mereka sehingga saya tidak pusing untuk merevisinya.

Setelah itu, saya merombaknya menjadi 1 halaman dan diedit bagaimana bisa selesai dibaca dalam 1 menit tapi bisa membuat kita distinct dari pendaftar lainnya. Why? karena pendaftar itu sangat banyak, terutama untuk uni2 favorit, dan tentu lelah yang nyeleksi, bakal jenuh juga jika PS nya panjang, udah gitu ngga ada yang unik. Ini saran dari senior saya, dan saya sangat sepakat dengan itu. Untuk grammarnya, saya disarankan pake Grammarly oleh temen saya. Sebenarnya kesalahan grammar saya ngga parah-parah amat sih, tapi kadang bisa jadi masih suka typo atau masih pake cheap vocab, wkwkwk. Software ini cukup membantu, tapi tetep kita kudu punya bekal juga. PS final saya sebenarnya juga ngga bagus-bagus amat sih, apalagi kalau saya baca sekarang, vocab-nya masih cetek banget, tapi saya cukup puas sih, setidaknya sama kontennya.

Curriculum Vitae

CV atau kalau di US sering disebut resume’ ini juga ngga kalah pentingnya dari PS, karena PS ngga mungkin bisa mengakomodir semua muatan masa lalu kita (aka CV), and vice versa, ada beberapa aspek di CV yang yang tidak bisa dimuat disitu, karena tidak sesuai, tetapi penting, itu bisa masuk di PS. Intinya, keduanya saling melengkapi, layaknya jodoh, ngga harus sama.

Sama seperti nulis yang lain-lainnya, saya tetep butuh referensi. Lagi-lagi, banyak website yang bisa ngebantu kita, termasuk di blog para senior. Saya memilih menulis CV pake format Europass dalam 2 halaman. Waktu saya minta proofreading PS, saya juga menyertakan CV untuk dibaca dan mungkin perlu diperbaiki. Alhamdulillah untuk CV saya tidak perlu mengeditnya, hanya beberapa penyesuaian penulisan karena waktu saya cek di Grammarly, saya masih campur aduk antara British sama American untuk spelling-nya. Wkwkwk.

Dua lembar bagi saya itu sudah cukup karena saya baru bekerja di 3 tempat setelah lulus, dan achievement saya selama kuliah itu ngga ada yang outstanding, jadi ngga ada yang termuat, hehe. Yes, I was just a very ordinary student. *eh jadi curhat. Oke gakpapa, karena #CVhanyamasalalu #oke.

Terkait panjang CV, ini sebenarnya juga ngga ada bakunya, seperti PS. Saya milih 2 lembar karena buat saya lebih baik simple aja, asal isinya linier dan mendukung jurusan yang mau diambil. Temen saya ada yang pake CV berlembar-lembar tapi dia lolos juga. So, there is no a fix guide for that, you decide 🙂

Rekomendasi

Hmmm, sebenarnya saya ngga pantas cerita banyak soal referensi karena saya meskipun mencantumkan dua referees (sesuai permintaan uni), saya dapat offer sebelum kedua referees saya mengisi form reference yang dikirimkan langsung oleh uni ke email beliau langsung. Dan sampai sekarang saya juga belum meminta beliau untuk menindaklanjuti perihal referensi ini. Ini karena alasan jarak saja (saya tidak begitu dekat dengan dosen, dan merasa kurang pantas jika hanya by phone, sampai sekarang belum kontak lagi), dan waktu itu saya sebenarnya ngga mau urus lagi karena toh saya akan mulai kuliah 2017, dan ini aplikasi buat 2016. Pikirnya, nanti aja apply langsung buat 2017.

Saya tidak menyarankan temen-temen untuk mengabaikan referensi, ini cuma case saya aja, karena menurut saya, referees tetap penting sekali untuk mendukung aplikasi uni kita. It is not good to make a hasty decision like me, being inconsistence and not finishing the process.

Terus kalau emang ngga mau urus sampe selesai, kenapa dulu saya memutuskan untuk apply uni dan defer ke 2017? Itu karena saya waktu itu kurang percaya diri untuk bisa sekolah di LN, apalagi kampus2 top. Dalam rangka meningkatkan rasa PD, saya coba apply yang nothing to lose ini. Dan pada akhirnya dapet, itu cukup berguna banget pas mau daftar beasiswa, bisa nambah PD. May be this is such a cheesy thing! But it works somehow 🙂 Buat temen-temen, mungkin ngga perlu se-lebay kaya ini sih, ini saya nya aja yang ngga PD-an emang, dan perlu melakukan sesuatu untuk mendongkraknya.

Btw, rekomendasi untuk uni mirip-mirip juga sama buat beasiswa, hanya saja kalau di uni yang saya coba apply ini memang mensyaratkan harus ada yang dari dosen, bahkan keduanya dosen pun boleh. Buat yang belum terlambat, baik-baiklah kalian dengan dosen J buat yang sudah terlanjur jauh kaya saya, mungkin bisa lah dijalin lagi silaturahminya.

Proses Pendaftaran Online

Saya mendaftar ke dua uni itu dalam satu waktu, tujuannya biar sekalian, karena kan datanya kurang lebih sama, bisa copas2 aja gitu, hehe. Alasan lainnya, karena saya di kampung banget, yang pas daftar ini pun harus ke kota dulu, cari wifi ke kantor Telkom. Jadi biar save time juga 🙂

Proses pendaftaran sama aja, tinggal buka websitenya, cari link buat daftar, bikin akun, lalu log in dan isi deh datanya. Sama jangan lupa siapkan dokumen yang perlu di-upload (PS, CV, passport, IELTS jika sudah ada, mungkin ijazah yang ditranslate- tergantung uni nya). Sebenarnya, proses pengisian data bisa dilakukan bertahap, mirip daftar LPDP, bisa save dulu sebelum submit. Akan tetapi, saya waktu itu langsung submit, karena prinsip saving tadi hehe.

Proses Deferring Offers

Seperti yang saya singgung, saya apply untuk 2016, tapi gak bisa kuliah di 2016 (belum dapet beasiswa dan belum test IELTS – masih conditional offer-nya). Oleh karena itu, saya mengajukan deferral ke dua uni itu. Semuanya by email, responnya agak lama sih, cuma saya sabar aja, toh saya ngga buru-buru juga, hehe. Di samping itu, kan emang admission lagi sibuk-sibuknya, jadi ini memang sangat wajar jika responnya agak lama. Kalau ngga mendekati September, biasanya responnya cepet banget.

Saat pengajuan defer, yang perlu dilakukan simple banget, tinggal email aja, kemukakan maksudnya – mau defer, jangan lupa sertakan alasannya. Di LSHTM cuma by email aja. Nanti kalian akan dikirimi lagi LoA yang deferral itu. Jangan lupa baca dengan detail isi offering letter-nya karena bisa jadi mereka ada beberapa kesalahan data, misalnya saya waktu itu ada salah deadline submit conditions-nya (harusnya 2017 tetapi tertulisnya 2016). Tapi tenang aja sih, admission officers-nya baik-baik kok, mereka juga ngingetin kita soal ini, udah gitu responnya cepet juga. Saya waktu itu bela-belain deng balas email tengah malam biar cepet direspon (beda 7 jam cyin ama WIB).

Saya ada 3 conditions yang kudu dipenuhi buat dapet unconditionalnya: financial evidence, bachelor certification, and english requirement. Saat ini, tinggal yang  terakhir aja nih, masih belum cukup nyali buat tes karena terakhir ambil prediction masih 6.5 atau kurang 0.5 baik writing maupun overall band yang mintanya 7.

Kalau UCL, deferral sama juga, by email. Hanya kita juga bisa buka akun kita (akun pas daftar) untuk ngeliat status pendaftaran, kita juga bisa klik defer disitu. Tapi tetep kita disuruh kontak admission by email for the deferral. Oiya, ada yang kelupaan, untuk UCL itu ada admission fee-nya, lumayan mahal (hiks) dan bayarnya pake kartu kredit. Mungkin karena bayar ya, saya bahkan dikirimi hard copy offer letter-nya by post. Hahaha.. dapet surat dari London, heboh kali ya di kantor kelurahan ada kiriman dari London, wkwkwk.

Sekitar Januari 2017, saya dapet email reminder dari LSHTM soal offer letter saya. Adimission-nya juga ngasih updated info, termasuk – yang paling bikin saya bahagia – adalah ketentuan English language requirements-nya! Overall masih 7, tapi writing nya turun dikit jadi 6.5. Mereka juga nawarin kalau kita minta offer letter yang baru. Saya baru balas emailnya di awal Februari, minta a new offer letter, hehe. Sekitar dua hari kemudian, saya dapet LoA barunya.

Sekian dulu ya, insya Allah akan ada update-an untuk part ini karena masih on going, belum selesai, masih perlu submit beberapa dokumen yang belum lengkap (IELTS-nya). Terus saya juga belum tahu nanti akan fix dimana, mau ke LSHTM/ UCL yang berarti kudu ngajuin pindah ke LPDP, atau coba ke Tufts sesuai pilihan awal (siap-siap GRE) dan baru bisa intake 2018!

Apapun itu, tetep semangat dalam ikhiar terbaik dan doa yang tulus ikhlas 🙂

“Never give up, great things take time.”

Biar sayanya makin semangat, dua master candidates-nya ICL & UCL ngirimin ini , heuheu. Many thanks, ya Bella dan Rifqah 🙂

img_20170208_172351

alay pangkal bahagia,

 

[Flobamorata] #10 the Landscape of Lembata in a Dry Season

l0.JPG

a beach in Lembata captured on my way to Wailolong

It was when I travelled for a training, that I had a chance to be in this island which is famous with its whale hunting attraction held in May. I cant tell you about tourism places there because – honestly – I had no chance getting any of them. Sad.

lb1.JPG

The Harbour of Lembata

I only want to describe my impression about this quite dry island. I got there from Maumere. Firstly, my collegues and I needed to go to Lewoleba Harbour located in the eastern tip of Flores Island – in Larantuka Regency – then take a boat. I forgot how much we should pay for the boat. Wkwkwk. actually, I was not the person in charge for this – tickecting – even, I didn’t hold the tickect by myself.
Yap. Mostly, the boat would be quite crowded, so you need to get inside earlier to make sure you can sit down. If not – or if you are quite kind – you can stand along the way. Hmmm. I didn’t prefer that, it was quite a long journey, around two hours. Because it was a small boat, it can go faster than the bigger one. This boat can take you to Lembata or Alor Island. The latter is less far, so before arriving to Lembata, the boat stopped at Alor Harbour – I forgot the name. actually it was a very small place just to unloaded some passengers, the more will be off at Lembata Island.
For about a week, we spent the whole time in a hotel. I felt far happier when we were visiting a village and spend a night there. After being bored with the meals at the hotel… finally I tasted delicious menus in the village, fish and fresh coconut… wwkwkwk, tempting. Actually it was only grilled fish. But somehow I liked it very much – basically I don’t like fish. perharps it was because the fish was fresh from the sea.

The village produced lots of coconuts and some people were fisherman for different purposes; daily consumption or selling. Quite different from Maumere, Lembata has more moslem, and in this village in particular – Wailolong Village – the numbers of moslem and catholic inhabitants were quite similar.

lb2.JPG

quite a scenic landscape taken from a main road

lb3.JPG

in front of my way

lb4.JPG

the common view in a dry season in Lembata

lb5

waiting for a sunrise

lb6.JPG

a sunrise 🙂

lb6 (2).JPG

the kids! we’re waiting for your visit:D

[Flobamorata] #9 The Koka Beach: a Complete Package

k2.JPG

Koka Beach (1)

k1.JPG

Koka Beach (2)

Maumere has lots of beautiful beaches with white sand and sparkling water. Koka is one of the best. You can climb the hill nearby and see the panorama from there.

k3.JPG

The View Captured from a Hill Nearby (1)

k32

a View from the Hill (2)

k31

Another View from the Same Hill

To get there, you only need about 30 minutes from the city of Maumere. Car or motorcycle could perfectly take you there. The roads are quite good, but they still have some turnings and upp-down route. Make sure you are not a beginner in driving or riding.

Similar with other tourism spot in this regency, it still have no enough supporting facilities. There are only some huts (you need to pay 10,000 IDR to use one of them), parking lots, and toilets. Some locals are also selling some food and drinks there.

Oiya, it is also important to notice that swimming in this beach is not recommended. You can play around the narrow beach, but please do not go too further from the beach. It is very dangerous, many visitors swimming there have lost. Usually, local visitors would warn you about this.
Although we cant swim as we want, you still can do other activities to enjoy, such as building castles with the white sand, playing along the beach, and going up to the hill enjoying remarkable view. I bet your camera would be the best thing to use. This is a perfect place for photo hunting!
You also can go to the caves like my friends and me in this picture. It is breathtaking coming near the water and being sprinkled by the waves. But don’t forget to be careful ya!

k6.JPG

The Waves

k7.JPG

My Collegues

k8.JPG

What were they looking at?

k5

see you:)

 

[Flobamorata] #8 Morosobe Twin Waterfalls: the Hidden Paradise

m3.JPG

Murusobe Waterfalls in a Dry Season

These waterfalls are located in Poma Village, Mego sub-distric, Sikka Regency. Perharps it would be hard to find it on googlemap, hehehe. It is quite a remote area though. For most tourists, this place – maybe – would not be in their list to visit because of the remoteness. It will cost you quite a lot and spend a long time to get there.

So, why did I lost there? A good question. A friend of mine’s working area – working in a same project with me – was there. She was a strong and diligent staff working in a such remote area and travelling there almost every day. I cant imagine if it were me. hehehe. I accompanied and helped her doing her duties in the community there, just when I had a time to allocate or I had finished my own responsibilities.

Okay, back to the topic.

To reach this site, the first thing you need is a courage! And time as well. The route is quite extreme.

Actually, there are two routes to follow, from Wolodhesa Village or Loke Village. In my experience, I only have tried the Loke route. So, I will tell you this, ya.

From Maumere you can go by a motorcycle – I did – or a car. But if it is a car, you need to make sure that the car is high enough, you know the one like an adventure car. Don’t drive an Avanza or others that are similar or even lower that it. Actually the driver that will drop you there – if you rent a car with a local driver – is absolutely know this information, though.

This journey will be around 4 hours. So it is better to have other activities to avoid being bored along the way. The roads are quite – and sometimes extremely – challenging. However, don’t be afraid ya… the drivers are skilful and get used to it. Everything will be okay.

Normally, you will be dropped in the way before you have to walk through a forest for about 30 minutes – you can be faster than that. Because the site has not developed by the government, you only need to report your attendance to the local leader there. But don’t worry, you don’t have to go to his place on your own. The people you meet nearby will help you. this is needed because they want to make sure you will be fine during your visit. They also will send you some kids as your guide. If I am not wrong, there is no fee for this. However, I think you need to give something like snacks, sweets or something that those kids would like.

Why will you need a local as a guide?

There is no single sign to help you get the site. I guess you will get lost with no help. here is my documentation along the way of my first visit. It was in the end of 2014.

m0.JPG

An Area of Loke, the Waterfalls are behind the hills

IMG_0052.JPG

A Quite Narrow Road, but it is far better than others you’ll come across 🙂

murusobe1.JPG

You only need to walk through the ‘forest’ and park your vehicles after come across this sign 🙂

IMG_0191.JPG

Sometimes you need to walk through the river, watch your steps! hehe,,

m2.JPG

Going Over the Bridge with Our Little Guide 🙂

IMG_0182.JPG

A bit more to see the full view 😀

m5.JPG

Here We Go! The Waterfalls 😀

Actually, you can also swim in the pool below the waterfalls. We just forgot to take some pictures of the pool and people that were swimming at that time. The water is quite clear, but one thing to remember, probably you’ll come across some leeches. I did too, even more than one! I just felt kinda annoyed 😦 But, don’t worry, it won’t kill you 😀 wkwkwk.

Menakjubkan

“Menakjubkan memang urusan seorang muslim, begitu kata Baginda Nabi SAW, jika mendapat nikmat lalu ia bersyukur, jika menghadapi musibah lantas ia bersabar.” Keduanya bersama keridhaan Rabb-nya. Bukankah itu yang jadi tujuan kita?

Salah satu tokoh idola saya, Umar ibn Khatab RA, yang saya tertakjub saat membaca biografi beliau – The Great Leader of Umar ibn Khattab karya DR Ali As-Shalabi – juga  mengucapkan sesuatu yang senada:

“Jika sabar dan syukur itu kendaraan, aku tak peduli akan menaiki yang mana.”

Masya Allah.

Tak kan pernah cukup lisan kita untuk mengucap syukur kepada Allah SWT atas nikmat Islam ini. Hanya seringnya kita – saya terutama – hanya ingat hal ini pada situasi-situasi tertentu. Saya misalnya, pada ingat saat memperoleh sesuatu yang sangat-sangat saya inginkan, saat sungguh-sungguh berikhtiar untuk mendapatkannya, dan saat ikhtiar belum membuahkan hasil yang kita harapkan.

Astaghfirullah.

Hmmm. Kembali ke beberapa waktu yang lalu, saat tanpa disangka-sangka Allah menganugerahkan sesuatu yang sangat saya inginkan sejak lama, meskipun rasa-rasanya ikhtiar saya belum maksimal. Rasanya tak bisa terlukiskan dengan kata.

Apakah sesuatu yang seperti itu bisa terjadi lagi – pada saat yang tidak begitu jauh – pada diri kita?

Hmmm.

Hanya saja, yang jadi soalan adalah, salah juga jika kita terus menginginkan yang demikian. Mosok gak mau maksimal tapi minta hasil yang optimal, wkwkwk. Tentunya, perlu ikhtiar maksimal dan doa yang terus ikhlas. Inilah dua hal yang teramat mudah diucap, tetapi – bagi saya khususnya – masih perlu diupdate setiap saat. Yakin kita sudah berdoa dengan ikhlas? Benar usahanya sudah maksimal? Dalam kasus saya, seringkali jawabannya adalah tidak dan belum.

Terlebih jika kita melihat sejauh mana niat kita. Sudah benarkah sejak awal, masih berusaha diperbaiki, atau sejak awal memang masih sedemikian tidak pantasnya? Terkait niat ini, yang sudah benar dan tulus di awal, kadang seringkali – dengan bertambahnya informasi dan waktu yang berjalan – justru bisa terkotori oleh hal-hal yang sebenarnya sudah coba dihindari sejak awal. Duh. Njelimet tenan.

C’est la vie!

Menakjubkan.JPG

Memiliki mimpi itu penting, terus peliharalah mimpi itu, tapi jangan persempit impianmu dan lihat sekitar! Mungkin saja dunia telah berubah dan sudah saatnya kamu menyesuaikan mimpimu agar lebih bisa bersinar 🙂

Di sisi yang berlainan, kita juga ngga harus kok ikut-ikutan yang lagi mainstream, jalani saja yang disukai saat ini, perkara nanti mau kena arus juga gpp, asal itu arus menuju kebaikan dan lo udah siap buat berlayar disitu. Thanks, Mba Vi. Pesannya Mba yang ini, ngena banget!

Lagi, layaknya dengan harapan. Tak salah kita memiliki harapan, bahkan harus punya, ya? Tapi jangan lupa kalau kita bukan sutradara akhir disini, tugas kita membuat rencana, menjalani dengan sebaik mungkin, dan harus selalu siap menghadapi kejutan-kejutan dahsyat untuk setiap ending dari Penulis Alur Cerita Semesta!

Ada kalanya – dalam beberapa urusan – kita perlu sedikit membuang rasa percaya diri, logika berpikir, dan hanya berpegang pada prasangka yang  baik kepada Tuhan kita. Meskipun toh di akhir tak ada yang salah silogisme kita, itu tak masalah. Kedudukan kita sebagai hamba memang demikian. Tapi penting, tak perlu lah kita rendah diri dan menyalahkan prasangka baik yang akhirnya tak terwujud, karena kita masih punya pilihan: untuk terus menumbuhkan prasangka baik yang lain atau sebaliknya.

Dan saya pilih yang pertama.

Dari tadi ngomong asbtrak terus nih, jadi intinya apa? Hehehe. Ndak ada, kebetulan beberapa hari ini saya sedang berusaha menjadi yang abstrak, karena konkret itu kadang membosankan. #tsah.

Oiya, saya ingin menutup tulisan kali ini dengan sebagian lirik satu lagu favorit yang pertama kali saya dapat copiannya dari salah seorang sahabat kece badai di RQ dulu (Mba Lita).

aku berdiri di atas panggung yang selalu ku dambakan
di tengah eluan tepuk tangan dan juga semangat
dengan latihan yang ketat ku lampaui dinding diriku
sambut hari ini, tirai kesempatan pun terbuka

aku pun tidak menari sendiri
ada hariku nangis di jalan pulang, aku bernyanyi tanpa berpikir
ada hariku hilang percaya diri, selalu sainganku terlihat seolah bersinar

impian ada di tengah peluh
bagai bunga yang mekar secara perlahan
usaha keras itu tak akan mengkhianati

impian ada di tengah peluh
selalu menunggu agar ia menguncup
suatu hari pasti sampai harapan terkabul

lampu sorot yang ternyata begitu terang seperti ini
bagai malam panjang menjadi fajar mentari pagi
sudah pasti aku tidak mau kalah dari kakak kelasku
kami ingin buat show diri kami sendiri

ada hariku menangis sedih saat ku libur karena ku cedera
ada hariku sudah menyerah, imbangi sekolah beserta latihan
tapiku mendengar encore dari suatu tempat

impian setelah air mata
bunga senyuman setelah tangis berhenti
wujudkan terus usaha keras pun akan mekar

impian setelah air mata
ku percaya takkan kalah dari angin hujan
sampai doaku mencapai langit cerah

penuh semangat mari menari, penuh semangat mari bernyanyi
tanpa lupakan tujuan awal, kerahkan seluruh tenaga oooh

 

(hari pertama by JKT48)

Sebelum ketinggalan, salah satu poin penting dalam menghadapi urusan apapun itu, adalah hilangkanlah ego, and the last but not least: Jangan lupa bahagia!

[Polemik Susu Formula] #2 Tantangan Pemberian Makanan Pendamping ASI

Ini adalah part #2 dari bahasan Polemik Susu Formula. Meskipun ngga penting-penting banget, mungkin buat yang liat yang part #1 bisa dilirik sebentar disini.

Selama saya bekerja berdampingan dengan bayi dan balita serta ibunya, saya melihat satu trend yang terjadi di semua tempat. Survey di tingkat nasional pun mengaminkannya. Trend yang saya maksud adalah, grafik pertumbuhan status gizi menurut BB/U – bisa dilihat di KMS – setelah bayi berusia 6 bulan cenderung MELAMBAT atau tidak sesuai dengan standar. Beberapa masih bisa bertahan di status gizi yang normal, tapi banyak juga yang masuk ke kategori gizi kurang, bahkan gizi buruk atau BGM lebih tepatnya.

Penyebabnya beragam, bisa jadi dia sakit terus-menerus atau asupan makannya tidak mencukupi. Yang sering terjadi adalah alasan yang kedua itu; pemberian MP-ASI yang tidak adekuat.

Kasus yang sering saya temui, banyak sekali ibu yang masih saja mengandalkan ASI saja meskipun bayinya sudah lebih dari 6 bulan usianya. Kalaupun ngasih makan, seringnya tidak cukup dan tidak beragam. Ini sering banget terjadi, terutama pada mereka yang tingkat ekonomi dan pendidikannya rendah. Wilayah kerja saya dulu memang sih, kebanyakan dari golongan itu.

Perlu diketahui, bahwa saat bayi berusia 6-11 bulan, ASI hanya memenuhi 50% kebutuhan gizinya. Kemudian memasuki usia 12-24 bulan, ASI hanya berkontribusi terhadap 30%-nya saja. Sehingga jelas sekali bahwa bayi perlu MP-ASI yang jumlahnya makin bertambah sesuai tahapan umurnya. Hal ini sudah saya singgung juga di tulisan mengenai MP-ASI.

Untuk mengukur apakah bayi/ anak mendapatkan makanan yang adekuat, telah ditetapkan indikator MPASI yang terdiri dari 8 indikator inti dan 7 indikator opsional.

Indikator inti tersebut adalah:

  1. Inisiasi Menyusu Dini,
  2. ASI eksklusif sampai usia 6 bln,
  3. Meneruskan ASI sampai usia 1 tahun,
  4. Mulai diberi makanan solid, semi-solid dan lunak,
  5. Minimum Dietary Diversity (proporsi anak 6-23 bulan yang menerima 4 atau lebih dari 7 kelompok makanan sebagai berikut:
  • Serealia dan umbi-umbian
  • Legum dan kacang-kacangan
  • Dairy products (susu, yoghurt & keju)
  • Flesh foods (daging, ikan, unggas dan hati/organ meats)
  • Telur
  • Buah dan sayuran kaya Pro Vitamin A
  • Buah dan sayuran lainnya

6. Minimum Meal Frequency (Proporsi anak 6-23 bulan yang diberi atau tidak diberi ASI, yang menerima makanan padat, semi – padat atau makanan lunak (termasuk pemberian susu untuk yang tidak diberi ASI) dengan frekuensi yang dianjurkan:

  • Untuk bayi yang diberi ASI:
    • Umur 6-8 bulan: 2 X/hari atau lebih
    • Umur 9-23 bulan: 3 X/hari atau lebih
  • Untuk bayi 6-23 bulan yang tidak diberi ASI: 4 X/hari atau lebih

7. Minimum Acceptable Diet (Proporsi anak 6-23 bulan yang menerima keduanya MDD dan MMF), dan

8. Konsumsi makanan kaya besi atau yang difortifikasi besi.

Sedangkan indikator opsional adalah:

  1. Anak pernah diberi ASI
  2. Meneruskan pemberian ASI sampai 2 tahun
  3. Pemberian ASI appropriate sesuai umur (age-appropriate breastfeeding)
  4. Predominan ASI pada bayi < 6 bulan
  5. Lama menyusui
  6. Pemberian makanan botol (bottle feeding)
  7. Frekuensi pemberian susu pada yang tidak diberi ASI

(Sumber: Programming Guide IYCF, UNICEF 2012)

Melihat banyaknya indikator tersebut, mucul pertanyaan dong; apakah semua indikator itu harus terpenuhi? Dengan melihat fenomena di masyarakat dan statistic di survey terbaru, yakin indikator itu akan tercapai? Apakah program-program pemerintah sudah mengakomodir semua indikator tersebut dan menyasar ke seluruh masyarakat?

Mungkin masih banyak pertanyaan yang muncul di benak kita. Sebelum menjawabnya, mari kita lihat terlebih dahulu bagaimana keadaan di lapangan.

Menurut Riskesdas 2013, 37.2% anak balita menderita stunting, 12 % menderita wasting dan 11.9% menderita overweight.

Statistic yang tidak menggembirakan. Di satu sisi kita belum berhasil menekan angka stunting, kegemukan sudah jadi masalah yang tak terbendung. Kemudian, karena ini adalah bahasan soal MPASI, yuk kita lihat bagaimana capaian MPASI berdasarkan indikatornya.

Data SDKI 2012 menunjukkan bahwa anak-anak umur 6-23 bulan yang mencapai pola konsumsi yang memenuhi diet minimal yang dapat diterima (MAD), masih sangat rendah yaitu 37%, yang merupakan kombinasi pencapaian keragaman makanan minimum (MDD) sebesar 58%, dan frekuensi makan minimum (MMF) sebesar 66%.  Pencapaian ini lebih jelek pada keluarga yang miskin, berpendidikan rendah, mereka yang tinggal di pedesaan dan anak-anak yang diberi ASI dibandingkan dengan yang tidak diberi ASI.

Di pihak lain, data SKMI 2014 menunjukkan bahwa asupan makanan bayi umur 7-11 bulan 95.8% adalah serealia, demikian juga anak umur 1-3 tahun, 98.5% makan serealia, sementara susu dan olahannya masing-masing 1.9 dan 0.9%.

Berbagai studi juga menunjukkan bahwa pemberian ASI dapat dijadikan pertimbangan dalam memberikan panduan untuk pemberian MPASI-nya. Hanya saja, status gizi wanita usia subur di negeri kita pun cukup memprihatinkan – yang jika menyusui dapat berpengaruh terhadap kualitas menyusui.

Proporsi wanita usia subur yang mengalami risiko kurang energi kronis dengan LILA < 23.5 cm antara tahun 2007 dan 2013 meningkat pada hampir semua kelompok umur, terutama pada kelompok umur 15-24 tahun. Sedangkan wanita usia subur yang stunting (TB < 150 cm) adalah 36.7 % dan yang anemia adalah 22.7%.

Itulah gambaran mengenai apa yang ada di negara kita. Agak OOT, saya pingin membandingkan posisi Indonesia diantara negara-negara di dunia. Bukan biar kita makin miris ya, tapi mudah-mudahan justru bisa memacu kita untuk berupaya lebih gigih lagi.

Berikut saya ambilkan data langsung dari Global Nutrition Report 2014.

stunting.jpg

stunting (Indonesia yang diblok)

everweight.jpg

overweight (Indonesia yang diblok)

overlapping.jpg

overlapping antara stunting, overweight, & wasting

Saya yakin temen-teman mampu menyimpulkan apa yang disampaikan laporan tersebut menyoal posisi negara tercinta. Kita masih banyak PR, yah! Semangat 🙂

Mari kita akhiri dulu pembicaraan kita di part ini. Selanjutnya, saya akan share tanggapan beberapa organisasi profesi menyoal MPASI di part #3.

 

 

 

[Polemik Susu Formula] #1 ASI yang Tak Tergantikan

sf2

generasi masa depan

Sebelum lebih jauh berbicara soal susu formula, saya ingin sedikit menyampaikan mengenai pemberian makan yang tepat untuk bayi dan balita, yang mencakup sedikit cerita dari temuan saya sendiri di lapangan, informasi yang saya copas dari file rekomendasi beberapa organisasi profesi terhadap MPASI dan Resolusi World Health Assembly 2016, dan ditambah data dari berbagai sumber resmi.

Bagian ini – anggap aja – baru pengantar, meskipun bakal lumayan panjangnya, hehehe.

Saya kira kita semua sepakat sekali bahwa untuk bayi baru lahir hingga dia berusia 6 bulan, ASI Eksklusif adalah yang terbaik dan tak tergantikan oleh makanan apapun. Akan tetapi, ada beberapa kondisi yang mengakibatkan si ibu tidak mampu memberikan ASI-nya keada bayinya sendiri. Jika ini terjadi dan tidak dapat ditemukan solusinya – misalnya dalam kasus ibu HIV positif – barulah dicari alternatifnya. Apa sajakah itu?

Pertama adalah ASI donor dari ibu lain yang memiliki bayi berusia sebaya dengan bayi tersebut. Inilah pilihan terbaiknya karena kandungan gizinya sesuai dengan kebutuhan si bayi. Jika itu tidak memungkinkan juga, opsi selanjutnya adalah ASI dari ibu dengan bayi yang usianya tak sama dengan si resipien. Kandungannya memang berbeda – karena kandungan ASI itu Allah atur sehingga sesuai dengan kebutuhan bayi pada umurnya – tetapi itu tetap lebih baik karena masih ASI juga, bukan susu dari spesies lain.

Kemudian, ini sedikit keluar dari bahasan yak, tapi masih sangat relevan, bagaimana cara pemberiannya? Ini dia praktek yang seringkali salah dilakukan oleh ibu-ibu yang kebanyakan memilih dot untuk memberikan ASI ke bayinya. Penggunaan dot ini dapat menyebabkan bayi ‘bingung putting’ yang dampak buruknya dia bakal ngga bisa menyusu ke ibunya lagi. Yang direkomendasikan itu adalah menggunakan cangkir kecil. Cara meminumkan ASI perah pada bayi dapat dilakukan dengan memiringkan gelas hingga bibir bayi menyentuh ke permukaan ASI. Bayi kemudian akan megecap dan mnenghisapnya. Ketika hal ini sudah terjadi, sedikit demi sedikit gelas dapat dinaikkan agar bayi dapat meminumnya.

Kembali lagi ke alternative tadi ya. Yang sering banget terjadi adalah ibu tidak begitu teredukasi mengenai ASI donor ini atau kesulitan gimana cara mendapatkannya jika kebetulan tidak ada saudara atau kenalan dekat yang bisa dipercaya dan dimintai tolong. Kalau ini yang terjadi, peran tenaga kesehatan menjadi sangat strategis. Buat ibu-ibu, pilihlah tenaga kesehatan (bidan, dokter, dsb.) yang sudah paham soal ini. Karena kenyataannya, tidak semua dari mereka itu tahu atau mungkin tahu sebagian tetapi sikap mereka memang tidak pro-ASI.

Ilmu soal ASI secara mendalam memang tidak masuk dalam kurikulum pendidikan mereka. Saya tahu ini bukan asal-asalan, tetapi ini adalah pernyataan dari fasilitator pelatihan konselor menyusui saat saya jadi salah satu pesertanya dan dari temen-temen peserta lain yang merupakan tenaga kesehatan itu.

Permasalahan lebih parah lagi dapat kita jumpai di wilayah terpencil atau pedesaan dimana – pada umumnya – para ibu itu tidak tahu soal ini dan tenaga kesehatannya pun – kebanyakan – juga tidak peduli. Bahkan, mereka ‘jualan’ susu formula. Kalau ada sedikit masalah saja, langsung deh disaranin pake susu X saja, belinya di warung Y. Ini satu contoh nyata yang saya temui di lapangan. Miris.

Jika itu kejadiannya, saya kira ini jadi tugas tenaga kesehatan setempat lainnya yang masih peduli agar praktik yang demikian tidak dilestarikan. Lebih bagus lagi jika dinas terkait juga turun tangan untuk menegur stafnya. Saya tahu ini tidak mudah untuk dilakukan, terutama saat ada banyak pihak yang ‘bermain’ memperjuangkan kepentingannya. Tapi, saya tetep yakin, diantara kita masih banyak yang peduli soal ini. Insya Allah.

Kabar baiknya, jika melihat rentang waktu pemberian ASI, SDKI 2012 menujukkan bahwa rata-rata lama menyusui di Indonesia termasuk panjang, yaitu 21.5 bulan, dan lebih lama lagi pada mereka dengan pendidikan rendah. Jadi, terlepas dari yang saya paparkan tadi, masalah lebih luas dan lebih seriusnya ada di pasca 6 bulan atau MPASI yang akan kita telaah di bahasan selanjutnya disini.